Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Berakhir


__ADS_3

Pikiranku tak karuan saat aku berada dikamar memikirkan kekasihku yang sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ingin rasanya aku tetap berada disana, hanya saja aku tak bisa selain menunggu kabar di rumah.


"Kenapa aku tidak seperti anak remaja lain yang diperbolehkan keluar rumah semau mereka?!" Aku berdecak kesal karena aku merasa tak bisa berbuat apa-apa karena aturan mamaku dan aku tidak bisa melawannya.


Aku menangis terus di kamar, rasanya aku sedang berada tak ingin berbuat apapun kecuali menangis di kamar. Aku tak ingin makan, tak ingin keluar kamar pokoknya. Sampai-sampai mamaku yang tahu aku tidak makan, sudah memarahiku habis-habisan, tapi aku tak menghiraukannya. Aku tak pedulikan lagi omelan dia saat itu, tapi aku pun tidak melawan. Aku hanya diam di posisiku di kamar.


Keesokkan harinya..


'Ternyata aku menangis sampai ketiduran' Aku terbangun dari tidurku. Aku melihat kearah cermin kamarku, mataku sudah bengkak karena kebanyakan menangis. Aku segera menuju kamar mandiku dan segera mandi dan siap-siap bersekolah dalam keadaan seperti yang kalian bayangkan.


Setelah mandi, aku berganti pakaian seragam sekolahku. Setelah itu aku melihat handphoneku yang sedang aku charge dari semalaman.


5 pesan, 20 panggilan tak terjawab

__ADS_1


Aku membuka pemberitahuan di handphoneku. Aku berharap bisa mendapat kabar baik tentang Sandy.


Pesan :


'Lu tidur?' (22.00)


'Lu harus sabar ya, Gue yakin lu kuat' (00.00)


'Semangat, gue yakin Sandy sembuh dan kembali pada kita semua' (02.00)


'Na, yang sabar dan ikhlas untuk kepergian Sandy. Kami masih di rumah sakit, rumah sakit dan keluarga masih mengurusi jenazah Sandy' (Baru saja)


Aku yang membaca pesan dari kawan-kawan Sandy merasa sangat terpukul membacanya. Aku segera berpamitan ke orang tuaku tanpa sarapan.

__ADS_1


"Mih.. Pih.. aku berangkat" Aku segera salim dengan mama dan papaku yang ada di kamar mereka.


"Ya, hati\-hati"


Mamaku tak kan protes hari ini tentang cream muka, bedak atau lipbalmku. Karena aku sudah mengenakannya sebelum berpamitan, karena aku sudah tahu jika aku belum mengenakannya aku akan mendengar ocehan mamaku yang bisa memperlambat waktuku.


Aku segera menancapkan motor menuju ke rumah sakit dimana Sandy dirawat disana. Aku berpamitan ke sekolah, namun aku tidak ke sekolah. Aku sudah memutuskan untuk membolos sekolah.


Sesampainya di rumah sakit, aku sudah melihat kawan-kawan dan keluarga Sandy dengan raut wajah sedih karena kehilangan. Orang tuanya pun menangisi anak semata wayangnya itu. Aku berjalan mendekat dengan perlahan, kakiku sangat berat untuk ku langkahkan. Aku mulai mengeluarkan air mataku kembali, aku tak percaya mengapa waktu begitu cepat rasanya untuk berpisah dengan lelaki yang selalu ada untukku, selalu menghiburku dengan caranya sendiri. Sekarang aku kehilangan sosok itu.


"Nak Anna.. Tante mohon doa ya untuk anak tante." Mamanya Sandy sudah mengenalku, kami pun sebenarnya sudah dekat karena memang dia tahu kami berpacaran. Hanya orang tuaku saja yang tidak tahu.


"..." Aku mengangguk pelan.

__ADS_1


Proses pemakaman pun berlangsung, aku terus mengikuti semua kegiatan pemakaman Sandy. Aku yang masih menggunakan seragam sekolah, memperhatikan tempat peristirahatan Sandy untuk terakhir kalinya.


'Terima kasih sudah memberiku banyak kebahagiaan selama kita bersama. Terima kasih sudah selalu menjagaku. 2 tahun hubungan kita ternyata berakhir seperti ini. Semoga kamu bahagia di alam barumu. Aku janji akan selalu bahagia walau tanpa kamu. Sekarang hubungan kita berakhir karena maut mu yang menjemputmu, Kamu tetap akan selalu ada di hatiku. Kamu cinta pertamaku, mantan terindahku'


__ADS_2