Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Anak Pembantu


__ADS_3

Tak terasa waktu telah berlalu, aku pun akam mempersiapkan kelulusanku dari SMA. Ya pasti banyak remaja yang akan merindukan masa SMA-nya nanti, kalau aku sih tidak tahu akan rindu masa SMA apa tidak. Sepertinya pengalamanku tidak sebahagia anak SMA lainnya. Aku yang selalu di kekang, di atur, dimarahin, bahkan harus kehilangan seseorang yang aku sayangi.


"Mih, 2 minggu lagi aku kelulusan. Mami sama papi datangkan? Jangan bilang ga datang lagi."


Aku memberitahu lebih awal ke mamaku tentang jadwal kelulusanku, karena saat aku lulus SMP mamaku tidak datang. Alasannya aku memberitahunya dadakan, padahal aku sudah memberitahunya H-3 kelulusanku. Apa itu dadakan?


Flashback


Kelulusan SMP di sekolah, aku celingak celinguk mencari wajah orang tuaku yang sampai detik ini belum juga terlihat. Beberapa menit kemudian, aku melihat wajah Mbak Nur si asisten rumah tanggaku. Saat diperbolehkan bubar dari barisan, aku menghampirinya.


"Loh, mami mana mbak?" Tanyaku dengan wajah yang gelisah karena aku belum juga menemukan mamaku.


"Mami nggak datang, mau pergi sama keluarga. Mami cuma nitipin ini untuk jajan selama 2 hari perpisahanmu" Mbak Nur memberikanku sejumlah uang dari mamaku.


"Hmmm.. Kenapa mami tidak memberikannya padaku langsung??" Aku bersedih karena aku tak bisa merayakan kelulusanku dengan mamaku. Dia hanya memberikanku uang 1 juta untuk perpisahanku.


"Kamu dadakan bilangnya kata mami"


"Emang mami mau kemana?"


"Mau belanja katanya ke mall"


Bahkan mamaku mementingkan ke mall daripada kelulusanku sepertinya. Apa aku tidak penting lagi baginya? Aku pun menerima uang itu, dan mulai berkumpul dengan kawanku yang lain untuk siap-siap langsung berangkat ke kota yang akan kami tempati.

__ADS_1


Flashback end


"Tolong mih datang nanti, aku hanya mengharapkan kehadian mami dan papi. Karena kalian tak datang pas kelulusanku kemarin, aku sampai di katain anak pembantu sama teman-temanku" Aku mengatakan yang sejujurnya, memang banyak anak yang suka mengolokku dengan sebutan anak pembantu karena aku selalu semua halnya dengan pembantu. Bisa dikatakan aku pun juga lebih dekat dengan pembantuku.


"Ya, insya Allah mami datang" Jawabnya tanpa melihatku sedetikpun.


Saat Acara Perpisahan


Aku sudah berada di sekolah dan berbaris dilapangan lebih awal. Aku yakin hari ini mama dan papaku akan datang melihat aku lulus, karena aku sudah memberitahunya dari jauh-jauh hari. Aku tak sabar menantikan sebuah amplop dengan bertuliskan kata lulus di dalam amplop itu. Aku yakin, karena aku mengerjakan ujian pun sangat lancar.


Kepala sekolah mulai berpidato. Aku tak mendengarkan ia berbicara, mataku tetap terfokus pada rombongan orang tua murid untuk mencari wajah mamaku. Lagi dan lagi aku tak menemukannya, aku hanya melihat mbak Nur saja.


'Jangan bilang mami tidak datang lagi, dan hanya menitipkan uang saja untuk perpisahan' Aku berdecak kesal dan tak bersemangat lagi rasanya untuk melihat amplop kelulusanku.


Aku tak menampakkan wajah bahagia, untuk apa aku mati-matian belajar jika mamaku saja tak peduli dengan kelulusanku.


"Mamanya sudah datang tuh" Adi, anak paling nakal di sekolah ini.


"Mana??" Dengan bodohnya aku percaya kata adi, aku mencari-cari wajah mamaku.


"Itu" Adi menunjuk ke arah seseorang di salah satu kerumunan ibu-ibu disana. Ya siapa lagi kalau bukan pembantuku.


"Dia bukan mamaku!" Aku sangat kesal sekali, ku pikir mamaku benar datang.

__ADS_1


"Jangan mengelak, kau kan anak pembantu itu." Nada suaranya benar-benar mengejekku dengan puas dan tertawa.


"Lu kan tau mama gue yang mana. Lu kan pernah liat dia. Jadi yang itu bukan mama gue!!!" Aku benar-benar kesal, akhirnya aku membentak anak yang tukang bully orang lain ini.


"Ya ya, percaya saja gue mah. Lagian juga lu cocok kok menjadi anak kandungnya. Dia yang lebih selalu ada untuk melihat keberhasilan si anak pelit jawaban"


Adi pergi meninggalkanku yang sangat kesal ini. Dia menghampiri kawan-kawannya, aku tahu mereka mulai membicarakanku dan mulai mengolokku dari jauh. Karena telihat dan terdengar jslas apa yang mereka bicarakan. Tak terasa air mataku terjatuh, entah apa yang sedang ku tangisi. Pikiranku mulai kacau. Aku menghampiri pembantuku dan sudah pasti untuk mengambil uang yang di titipkan oleh mamaku.


"Kamu kenapa nangis, kak?" Mba Nur mengkhawatirkanku yang tiba-tiba mataku sembab.


"Tak apa, aku hanya kesal mami tak datang lagi. Dia sudah tak memperdulikanku! Ya sudah mana uangnya?"


"Mami bukannya ga peduli, mami peduli kok sama kamu. Kalau mami tidak peduli, mami tak mungkin ingat untuk memberimu uang ini" Ia menyodorkan sejumlah uang yang nominalnya jelas lebih besar dibanding saat dulu.


"Bukan ini yang ku butuhkan sekarang sebenarnya, aku hanya ingin mami liat kelulusanku. Aku iri dengan teman-temanku sekarang Saat kelulusan begini, hanya aku yang tidak bisa memeluk bahagia orang tuanya."


"Sabar, kak. Sudah jangan nangis mami tetap peduli kok. Buktinya saja dia masih loh biayain kakak sekolah, makan, belikan barang keinginan kakak yang mahal, memberikan jajan, dan lain-lain."


"Aku tak butuh semuanya, tak masalah jika mami tidak membiayaiku asal dia perhatian denganku. Apa bentuk kasih sayang dari dia hanya berupa materi? Selalu yang di bahas uang, uang, dan uang. Aku sebagai anak tidak butuh juga uang jajan, yang ku butuhin kepedulian, perhatian, dan juga kasih sayang dia."


"Ya sudah, mbak ga bisa lama-lama disini. Di rumah pekerjaan masih numpuk. Kamu harus bahagia kan mau jalan-jalan dengan teman-teman. Gunain waktumu nanti, karena nanti jika sudah pada kuliah atau kerja akan sulit untuk kumpul bareng lagi."


Teteh pun pulang, aku masih sedih namun air mataku sudah kering dan tak ingin menetes lagi. Mungkin air mataku telah habis karena kebanyakan menangis..

__ADS_1


'Mih, aku Anna Angelista telah lulus sekolah dengan perolehan nilai yang sempurna dan mendapat juara 3 dari selurus siswa kelas 3 SMA di sekolahku. Hanya aku sedih mami tak datang lagi untuk kelulusanku. Mami yang selalu nuntut aku untuk terbaik di sekolah, tapi mami juga yang seakan-akan ingin menjatuhkan aku. Aku sedih sekarang aku mulai di ledekkin anak-anak lain , aku anak pembantu.. Lebih sakit adalah orang tuaku bahkan tak datang du hari penting dan spesial ini.'


__ADS_2