Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Sok Kenal


__ADS_3

Kini aku telah memasuki masa SMAku, masa remaja yang banyak di kenang orang-orang. Mereka bilang masa remaja adalah masa terindah selama kita hidup.


Aku termenung di sebuah taman yang ada di rumahku sambil melihat bunga-bunga yang sangat cantik di hadapanku.


"Aku lama-lama bisa gila kalau begini terus!!"


Aku mulai merasa bosan dengan semua aktivitasku yang selalu salah dan tak pernah mendapatkan kepuasan dari orang tua. Memera memintaku untuk mendapat prestasi, setelah aku meraihnya aku tak mendapatkan apresiasi darinya malah seakan-akan belum puas dengan hasil kerja keras dari anaknya. Oke mereka bisa memintaku untuk meningkatkan prestasiku memang tak salah, tapi setidaknya bersikap lembut sedikit lah denganku.


Plung.. Plung..


Berkali-kali aku melempar batu-batu kecil ke dalam kolam ikanku dengan wajah yang kusut.


"Hei.. Tak kasian dengan ikan yang di dalam sana jika kamu melemparkan batu-batumu?"


Aku menoleh kearah sumber suara, terdengar suara lelaki yang entah dimana. Aku tak mendapati satu orang pun di sekitarku.


"Aku disini, diatas"


Aku langsung menoleh ke sebuah balkon rumah yang ada di sebelah rumahku. Dia tetanggaku, yang umurnya lebih tua 2 tahun denganku. Dia bersekolah di salah satu sekolah negeri yang ada di kotaku. Ya walau aku tak mengenalnya, tapi aku tahu sedikit mengenai orang tersebut. Mungkin karena pikiran kepoku yang selalu penasaran dengan hal apapun.


"Mukamu kusut sekali, sedang galau? Di putusin pacar?" Dia meledekku dengan terkekeh.


"Bukan urusanmu, lagian juga buat apa kamu memperhatikanku dari atas sana?" Jawabku dengan wajah jutekku. Aku terkenal sangat jutek jika bertemu orang baru, itu semua berawal ketika aku mulai down. Padahal sejak aku kecil dulu yang tak tahu masalah apa-apa aku selalu humble dan friendly dengan banyak orang.


"Ya memang bukan urusanku, hanya saja caramu galau sangat tidak manusiawi"

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Ya, kau galau tapi menyakiti ikan-ikan yang ada di kolammu itu"


"Aku tidak menyakitinya"


"Kau menyakitinya secara tak sadar. Kau kan tidak tahu batu-batu yang kau lempar itu terkena badan mereka atau nggak."


"Ahhh.. Sudahlah aku tak tahu kamu siapa, dan kamu tak tahu aku siapa jadi ga usah sok kenal denganku dengan cara berbicara denganku!"


Aku memang tak suka berbicara dengan seorang lelaki yang tak ku kenal, entah kenapa. Aku langsung masuk ke dalam rumahku dengan wajah judesku pada lelaki itu.


Keesokkan harinya, adikku memintaku menemaninya bermain di luar rumah ketika sore hari. Sebenarnya aku malas, hanya saja ini anak suka mengadu ke mama jika aku tak menurutinya dan lagi-lagi aku akan di marahi lagi. Dengan terpaksa aku menemaninya bermain di depan rumah.


"Tumben keluar rumah." Lelaki kemarin menyapaku lagi dengan membawa 3 anjing peliharaannya yang lucu-lucu tapi aku tak suka dengan anjing. Aku trauma dengan anjing, karena aku pernah di kejar anjing kecil dan membuat aku terjatuh.


"Bawa jauh-jauh anjing-anjingmu itu" Ucapku dengan judes.


"Bukankah mereka lucu?"


"Selucu-lucunya anjing, mereka tetap monster bagiku"


"Mereka ini jinak tidak akan menggigitmu atau mengejarmu"


"Sudahlah intinya untuk apa kau mengajakku berbicara? Sok kenal banget sih"

__ADS_1


"Yaa hanya ingin berkenalan denganmu, apa salah seorang tetangga menyapa tetangganya yang lain?"


"Aku tak berteman dengan anak nakal sepertimu"


"Anak nakal? Dimana letak kenakalanku, sehingga kau berkata seperti itu?"


"Orang tuamu saja sering berteriak-teriak memarahi seseorang. Kau anak satu-satunya jadi siapa lagi yang mereka marahi"


Aku sering sekali mendengar ibu-ibu tetangga sebelah itu teriak-teriak membentak anaknya. Setiap mendengar bentakan itu, aku hanya mengelingkan mataku dan hanya berkata "hah.. lagi, lagi, dan lagi" karena memang sering hampir setiap hari aku mendengar keributan itu.


"Iya baiklah aku memang nakal, tapi aku mengakui kesalahanku. Tidak seperti kamu yang menginginkan sesuatu dari orang tuamu, tanpa kamu tahu bahwa kamu salah. Tanpa mengintropeksi diri. Maaf jika aku salah"


"Kenapa bisa berkata seperti itu, aku tidak seperti itu!"


"Ya kan aku bilang aku minta maaf jika salah. Aku bisa berkata begini karena aku mendengar ocehanmu kemarin di tamanmu itu"


Aku merasa kesal lama-lama berbicara dengan orang yang sok tahu dal kehidupanku. Aku tak menghiraukannya lagi, kemudian dia berpamit padaku untuk memasukkan anjing-anjingnya ke dalam rumahnya dan dia menyuruhku untuk menunggu dia di tempat aku duduk.


Aku menunggu lelaki itu di tempat aku duduk sambil memantau adikku bermain dengan riang. Tunggu, kenapa aku menuruti lelaki itu untuk menunggunya?? Aiiishhh.. ku panggil adikku untuk masuk ke rumah, namun sialnya dia tak mau dan malah menangis ketika ku ajak pulang. Aku tak ingin bertemu pria ini, dia sangat menyebalkan. Tapi terpaksa aku tak bisa pulang karena takut di aduin adikku jika aku membuatnya menangis.


Tak lama kemudian lelaki itu kembali lagi dan duduk di sebelahku. Dia mengajakku berbicara, namun aku tetap menjawabnya dengan judesku.


"Jangan judes-judes nanti orang pada takut sama kamu"


Aku mengelingkan mataku tanda aku aku malas menanggapi lelaki ini. Tak terasa kita sudah duduk bersama dan aku juga sudah tahu nama lelaki itu. Sandy Prayogo, lelaki pembalap motor liar di kotaku. Mendengar tentang dia pembalap pun aku sudah tahu dia ini seorang bad boy, nakal, tak tahu aturan.

__ADS_1


__ADS_2