Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Tidak Lulus


__ADS_3

Aku sudah bertahun-tahun bekerja dunia malam namun tetap menjalani kuliahku, walau kadang tidak masuk kalau ada kuliah masuk pagi jika aku sudah kecapekan atau sudah mabuk dari tempat kerja. Aku terpaksa sebenarnya melakukan ini, demi keluargaku yang tetap utuh. Gaji hasil kerja kerasku, aku pergunakan untuk membayar kostan, keperluanku, dan kadang aku juga membayar kuliahku sebagian jika ada uang lebih. Mamaku juga mulai berterima kasih padaku dan tak sering marah karena dia merasa terbantu.


Suatu ketika aku ke tempat kuliahku untuk memeriksa apakah aku layak untuk PKL (Pelatihan Kerja Lapangan). Tak terasa sebentar lagi aku akan lulus dari pendidikanku dan aku akan berhenti dunia malam. Bahagia sekali aku saat itu. Aku langsung menuju ruang rektor untuk mengecek dataku.


"Maaf Anna, untuk PKL kamu bisa tahun ini namun, untuk sidangnya kamu tidak bisa tahun ini. Jadi lulus pun kamu tidak bisa tahun ini, jadi kemungkinan tahun depan. Karena nilaimu ada beberapa yang tidak memenuhi kriteria kelulusan" Pak Hilman selaku rektor kampusku memberitahuku.


"Jadi saya harus memperbaiki nilai saya?"


"Betul."


"Apakah saya bisa untuk PKL saya tidak jalanin tahun ini.. PKL dan sidang akan disamakan saja di tahun yang sama, agar saya bisa fokus dengan perbaikan nilai saya?"


"Bisa saja, berarti kamu mengambil cuti PKL, persyaratannya hanya membayar biaya cuti dan mengisi form cuti saja"

__ADS_1


"Kira-kira pembayarannya berapa pak?"


"2 juta rupiah saja."


"Baik pak, nanti saya akan bayar jika ada uangnya. Terima kasih pak informasinya, saya pamit dulu pak"


Aku segera berjabat tangan dan meninggalkan ruangan pak Hilman itu.


'Bagaimana caraku untuk memberitahu mami kalau aku tak bisa lulus tepat waktu? Mami akan sangat marah. 2 juta pun bukan uang yang sedikit' Aku terus berbicara dalam hati dengan perasaan sedih dan bingung.


"Mam, kakak pengen bicara" Kataku dengan sangat ketakutan.


"Kenapa?" Tanya mamaku yang sedang menonton televisi.

__ADS_1


"Aku.. Aku..." Tiba-tiba saja lidahku seperti kelu susah bicara.


"Aku apa?" Mamaku mulai meninggikan suaranya, sepertinya dia paham aku ada masalah.


"Aku tidak bisa lulus tahun ini. Aku cuti" Jawabku menunduk.


"Apa??! Kok bisa? Kamu ini bukannya belajar sungguh-sungguh. Bodoh sekali kamu!" Mamaku mulai membentakku.


"Aku sebenarnya bisa PKL, namun untuk sidang bisanya tahun depan. Jadi aku memutuskan dua-duanya berada di tahun yang sama. biar aku fokus perbaikan nilai dulu" Jawabku .


"Kalau bisa PKL tuh ya udah tahun ini tuh PKL!"


"Aku gampang lupa, takutnya malah lupa"

__ADS_1


"Alasan saja kamu! mami keluarin uang mahal-mahal buat kamu kuliah, ini bisa-bisanya kamu ga lulus?! Apa karena kamu kerja?!"


"..." Aku hanya menunduk. Aku kesal sekali di bentak saat itu, karena kalau saja mamaku tak bicara ingin cerai, aku tak akan mensortir badanku dari pagi hingga sore kuliah, kemudian malam sampai subuh atau pagi aku bekerja. Apa dia juga tidak lihat badanku yang makin kecil ini, karena terlalu memaksakan badanku untuk bekerja bahkan kadang sampai lupa makan. Apa dia juga tak lihat mata pandaku yang terlihat jelas?


__ADS_2