
Kala itu disore hari, aku memperhatikan keributan yang berasal dari orang tuaku dari balik pintu kamarku. Aku memperhatikan mereka yang sedang beradu mulut dengan sangat hebat.
"Anna kemari.. Kamu ngapain disana sayang?" Papiku menyadari ada aku yang mengintip perdebatan mereka.
Karena persembunyianku sudah diketahui oleh orang tuaku, aku berjalan melangkah dengan berat menuju ke tempat kedua orang tuaku berdiri.
Saat aku sudah berada di hadapan mereka, papiku pamit ingin pergi dari rumah. Ia juga memintaku untuk menjaga mami dan memintaku untuk tidak membuat mami kecewa apalagi marah denganku.
"Papi mau kemana?" Tanyaku menatap wajah papiku dengan raut wajahnya yang sedih.
"Papi harus keluar kota sayang, ada kerjaan disana. Biar papi bisa belikan kamu banyak mainan lainnya" Jawabnya dengan senyuman palsunya.
"Oke deh papi hati\-hati disana. Semangat ya pih kerjanya. I love you" Kataku menyemangatinya.
__ADS_1
Aku tak pernah mengangka jika itu adalah kebersamaan kami untuk terakhir kalinya. Sebelum pergi, papiku sempat mencium bibirku dan memelukku dengan hangat. Itu sudah bisa ku lakukan dengan mami dan papiku ketika berpergian.
Berbulan\-bulan aku menunggu kabar dan kepulangan dari papiku. Setiap kali aku bertanya kapan papi pulang kepada mamiku, jawabannya selalu papi sibuk, belum bisa pulang ke rumah.
Aku terus menunggu papaku yang tak kunjung datang hingga aku memasuki kela1 SD. Kemana papi pergi? Kenapa lama sekali tak seperti biasanya? Aku rindu dengan papiku.
Kriiiinnngggggg....
Aku senangnya bukan main saat mendengar suara papaku dari telepon. Aku langsung bersemangat berbicara dengannya, tak lupa juga aku mengatakan bahwa aku rindu padanya. Aku pun menanyakan kapan ia akan kembali pulang. Kami berteleponan sangat lama, aku menceritakan banyak tentang aktivitasku di sekolah. Setelah merasa cukup berteleponan, kami menutup telepon kami dan tak terlewat juga kiss jauh dariku.
Malamnya saat mamaku baru sampai rumah dari kantornya, aku menceritakan tentang papaku menelepon dan aku menceritakan semua tentang apa yang kami bicarakan.
Ku pikir mamaku senang mendengar ceritaku, tapi nyatanya tidak. Mamaku malah melarangku untuk memanggil papaku dengan sebutan "papi".
__ADS_1
"Sayang, mulai sekarang jangan panggil papimu itu dengan sebutan papi ya nak" Jawab mamaku dengan lembut, matanya mengisyaratkan bahwa aku harus menurutinya.
"Kenapa?" Tanyaku dengan sangat kebingungan.
"Sekarang mami dan papi sudah berpisah. Papi sama mami sudah tidak punya ikatan suami dan istri lagi. Jadi, papi tidak akan pulang ke rumah ini lagi. Jadi kamu bisa panggil dia dengan sebutan om ya sayang." Mamaku menjelaskannya dengan pelan-pelan agar mudah dimengerti olehku.
Aku pun mengiyakannya. Aku mengiyakan bukan berarti aku setuju dengan yang namanya perceraian. Sekali lagi ku katakan, aku belum cukup paham apa itu perceraian. Dan aku srorang anak kecil yang selalu patuh dan menuruti omongan orang tuaku.
Beberapa minggu kemudian papaku kembali menelepon ke rumah untuk berbicara denganku lagi. Dan di telepon itu aku memanggilnya dengan sebutan om.
"Loh, kok manggil papi om?" Tanya papaku dari jauh sana.
"Iya, kata mami aku harus manggil papi om, soalnya kan om sama mami sudah tidak punya hubungan lagi." Aku menjawab dengan sangat polos tanpa memikirkan perasaan papaku disana.
Tanpa menjawab perkataanku, papaku langsung memutuskan telepon kami yang masih tersambung tanpa ada obrolan untuk mengakhir telepon kami.
__ADS_1
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun ku lewati tanpa berita kabar dari papaku lagi. Semenjak kejadian telepon terakhir itu, ia sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Aku sedih, aku rindu padanya. Apa papaku tidak sayang denganku lagi? Apa dia sudah lupa dengan anaknya??