
Bertahun-tahun aku sudah hidup dengan sendiri. Namun hidupku sekarang makin banyak tersenyum, karena aku sudah merasa menikmati jalur hidupku yang awal-awal hidup sulit ketika memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Walau terkadang masih suka menangis ketika rindu sekali dengan keluargaku di rumah.
Adikku, Nindy sudah semakin besar. Dia sudah memasuki usia remaja dan dia selalu perhatian denganku walau jarak kami jauh. Aku bahkan suka menyempatkan diri untuk ke rumah untuk menemuinya. Aku bisa menemuinya, jika tidak ada orang tuaku. Lebih tepatnya kami diam-diam melakukan pertemuan kami. Aku harap adikku ini bisa membahagiakan mami dan tidak berperilaku sepertiku. Aku sangat menyayangi adikku ini, karena semangat darinya aku mampu berdiri tegak kembali. Dia sudah tahu aku pekerja malam, kabur dari rumah, dan dia juga mengetahui aku bukanlah kakak kandungnya. Tapi tak ku sangka dia tetap menyayangiku walau kami tak sedarah, dan kami selalu saling mensupport satu sama lain walau berjauhan.
Suatu ketika aku bertemu dengan seorang kawan kecilku. Dia teman kecil yang tak pernah melupakan aku sebagai teman kecilnya. Ia bernama Dewi Kirana. Saat itu dia menyuruhku untuk mendatanginya di kota tempat ia berkuliah. Aku pun menurutinya.
Aku berangkat ke kota itu dan tinggal berasa dengannya. Dia pun tak menyangka bahwa aku menjadi seperti sekarang ini. Dia terus mensupportku dan membantuku menjadi pribadi yang baik.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang kamu harus tinggalkan pekerjaanmu. Cari pekerjaan yang baik, nanti jika sudah akan ku bantu kamu kembali ke orang tuamu. Aku yakin kamu bisa berubah, karena ini semua bukan keinginanmu. Dunia malam juga bukan tempat yang layak untukmu, hidupmu terlalu keras kawan" Ucapnya dengan senyuman yang penuh arti.
Aku bersikeras mengikuti saran dari Dewi. Selama aku belum mempunyai penghasilan, aku di biayai oleh Dewi segala kebutuhanku terutama makanku. Dia banyak sekali membantuku. Aku benar-benar mulai dari 0 lagi.
Hingga akhirnya 1 tahub kemudian, berkat bantuan Dewi aku memiliki sebuah bisnis makanan yang ku perjualkan di kota ini. Aku bangga sekali dengan hasil kerjaku saat ini, aku sangat berterima kasih pada Dewi karena sudah membantuku dalam memodalkan usahaku.
Dewi segera menghubungi mamaku melalui akun sosial medianya.
__ADS_1
"Selamat siang tante, ini saya Dewi temannya Anna. Anna sekarang ada dengan saya tante, dan saya hanya ingin memberitahukan bahwa Anna sudah berubah menjadi pribadi yang baik." Dewi mencoba menelepon mamaku, berharap ada nasib baik berpihak padaku.
"Sudah saya tak mau mendengar tentang dia lagi! Dia sendiri yang memutuskan untuk pergi dari keluarga!"
Dewi merasa emosinya mengganjal di dadanya karena mamaku yang tak mau tahu lagi tentang anaknya. Dewi mencoba menjelaskan sebisanya dia, walau terjadi perdebatan dan membuat mamaku tersinggung karena seakan-akan mamaku membuangku. Aku menjadi tak tega tahu mamaku tersinggung, namun Dewi bilang padaku untuk tenang. Itu strateginya. Aku mengangguk.
Satu jam lamanya mereka berdebat, hingga akhirnya mamaku ingin berbicara denganku. Dewi segera memberikan handphone miliknya padaku. Aku yang sangat ketakutan sempat menolak, namun Dewi berusaha membujukku dan memberitahuku ini adalah kesempatan untukku.
__ADS_1
"Ha.. Halo Mih" Aku berbicara dengan terbata-bata pada mamaku di telepon.