Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Lelaki Itu....


__ADS_3

   Aku mulai memasuki tahun ajaran baru dan aku sudah kelas 4 SD. Aku bertahun-tahun hanya bisa menunggu kabar dari papaku yang sudah tak mebghubungiku lagi. Aku sering jatuh sakit, aku sering masuk ke rumah sakit. Yaa sebenarnya cuma tifus, tapi dalam sebulan aku bisa masuk rumah sakit 3 atau 4 kali. Sampai-sampai suster-sustet di rumah sakit aja hapal dengan mukaku, rumah sakit seperti rumah keduaku.


   Mulai kejadian itu, aku tak pernah menanyakan tentang papaku pada mamaku. Aku sudah terlanjut benci karena kepergiannya tanpa aba-aba.


   Aku hidup berdua dengan mamaku dan juga pembantu di rumahku yang membantu beberes rumah dan membantu menyiapkan segala kebutuhanku untuk apapun itu.


Weekend


   Saat weekend aku selalu berada disamping mamaku, kemanapun ia pergi aku akan ikut. Bahkan mamaku ke toilet saja aku mengikutinya dan menunggu mamaku dari luar toilet. Padahal aku sudah kelas 4 SD tapi aku masih selalu jadi anak yang kalau weekend aku harus bersama dengannya. Karena aku sudah tak punya sosok papa lagi, jadi hanya mamaku saja teman bermainku ketika hari libur.


   Suatu ketika di hari itu, rumah kami kedatangan seorang tamu pria ya yang umurnya bisa dikatakan sedikit lebih mudah dia dari papaku. Aku menganggap ya itu teman mamaku, karena cukup sering juga rumah kami kedatangan tamu dari teman mamaku dan keluarga dari mamaku.

__ADS_1


   Mamaku menemani tamu tersebut, dan aku duduk di pangkuan mamaku sambil memeluk bonekaku. Mereka bercengkrama berdua saling tawa dan kadang lelaki itu memintaku menunjukkan bakatku untuk memainkan sebuah piano yang ada di rumah. Aku dari TK memang senang memainkan piano. Aku dengan senang hati menunjukkan permainanku dalam berpiano.


   Semenjak kedatangannya, kami semakin akrab. Dia sering mengajakku ke tempat bermain, ke mall betsama, membelilkanku mainan, dan banyak hal untuk membuatku senang. Dia baik sekali padaku dan juga mamaku.


Suatu ketika saat aku dan mamaku duduk berdua di ruang televisi.


   "Kak, bagaimana teman mami kemarin? Dia namanya om Bambang. Baik apa tidak menurutmu?" Tanya mamaku sambil menaikkanku dipangkuannya.


   "Baik. Dia belikan aku banyaaaaakkkk mainan. Aku suka" Jawabku dengan penuh ekspresif.


   "Papi aku kan cuma 1, tapi dia tidak akan balik." Jawabku seketika menjadi sedih mengingat papaku.

__ADS_1


   "Ya makanya itu, memangnya kamu tidak mau punya papi lagi?" Tanya mamaku.


   "Mau, emang papi bakalan pulang?" Tamyaku dengan polos.


   "Bukan papi yang itu. Kalau kamu mau punya papi lagi, teman mami itu bisa menggantikan papimu. Mami akan menikah dengannya, dan dia akan menjadi papimu yang selalu ada buat kamu." Mamaku mengucapkan dengan matanya yang berbinar.


   Aku mengiyakan menyetujui pernikahan mamaku dengan lelaki itu. Mama dan lelaki itusangat sibuk untuk mempersiapkan pernikahan merak yang akan diadakan 3 bulan lagi. Aku harap mamaku akan bahagia atas pernikahannya itu.


   Tiga bulan kemudian, mamaku menikah dengan lelaki yang telah mengisi kekosongan dalam hidupku dan mamaku. Aku melihat mamaku sangat cantik sekali mengenakan pakaian pengantin, dan lelaki itupun gagah dengan tuxedonya. Kami pun mengabadikan momen tersebut dengan foto bersama.


   "Aku kalau udah gede, mau pakai baju pengantin sama kayak mami. Biar keliatan cantik seperti mami." Kataku penuh dengan kekagumanku pada kecantikkannya.

__ADS_1


   Acara pernikahan pun berlangsung, aku dijagain dengan pembantuku ketika aku bermain dengan sepupu-sepupuku yang seusia denganku. Aku berlarian kesana kemari, aku tertawa, berteriak karena menikmati kebersamaan dalam bermain saat itu.


   Benar kata orang, aku ini anak yang beruntung dilahirkan dari keluarga ini. Aku memiliki kebahagiaan yang sangat penuh dari keluargaku.


__ADS_2