Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Kencan Gila


__ADS_3

Aku menangis menahan perih pada lukaku bekal pukulan mamaku. Aku teringat Sandy akan selalu ada jika aku membutuhkannya. Aku segera menelepon Sandy.


"Gue pikir lu tidak akan membutuhkan hiburan gue walau hanya ngobrol"


"Aku hanya ingin mendengar suaramu"


"Hei hei.. Lu nangis, kenapa? Cerita sini sama gue"


Mendengar cara dia menanyakan diriku, aku sesekali tersenyum. Lucu saja jika mendengar suaranya yang khas sekali dengannya. Aku pun menceritakan kejadian yang aku alamin tadi sedetail mungkin, termasuk aku yang tak boleh bertemu dengannya lagi. Dia sudah mengetahui hal itu sejak awal mamaku melarang ku untuk berdekatan dengannya.


"Gue minta maaf sama lu, udh bikin lu masuk ke dalam lubang masalah yang besar. Gue ga nyangka akan seperti ini. Tapi sakit lu itu udah diobatin"


"Sudah tadi sama mbak Nur"


"Bilangin makasih ke mbak Nur dariku"


"Untuk apa?"


"Sudah mengobatin lu lah. Kalau gue bisa ke rumah lu mah mending gue aja yang ngobatin lu"


"Hahaha bisaan lu"


"Hah.. Syukurlah lu sudah bisa tertawa lagi. Sudah mulai sekarang lu jangan sedih lagi. Untuk sementara ikutin aja dulu apa kata mama lu pengen untuk tidak keluar rumah dulu. Kan kita juga masih bisa komunikasi ini lewat handphone"


"Thanks"


"Untuk?"


"Ya makasih sudah bikin gue udah nggak sedih lagi"


"No problem, gue lakuin ini juga karena gue ga mau lu sedih"


"Kenapa?"


"Karena sayang"


'Sayang? Apa gue ga salah dengar? Dia sayang sama gue? Apa itu dia ada perasaan sama gue?'


Aku melamun, lupa kalau aku masih berbicara dengan Sandy via telepon.


"Hello.. Lu pingsan?"

__ADS_1


Aku langsung tersadar kembali dari lamunanku.


"Ahh nggak tadi habis ambil minum" Hari ini sudah berbohong 2x aku. Bodohnyaaa..


"Ya sudah lu istirahat sana. Semoga sakit lu cepat sembuh"


Kami pun mengakhiri percakapan kami.



Hari\-hariku mulai sangat dan sangat membosankan. Bagaimana tidak dalam waktu sebulanan ini aku hanya tidur, makan, mandi, sekolah, dan belajar. Hari\-hariku hanya seputaran rumah ke sekolah pulang ke rumah terus pergi lagi ke sekolah, kemudian pulang lagi.


Sepulang sekolah aku pun hanya bisa belajar atau menonton drama korea dari website. Lama-lama aku bisa gila kalau gini terus. Jam 5 sore setelah aku belajar di rumah, aku membuka website untuk menonton drama korea yang belum tamat ku tonton.


'Mama lu akan sampai di rumah jam berapa?'


Sandy mengirimku pesan, dan akhirnya aku menunda untuk nonton drama. Aku dengannya malah jadi chattingan.


'*Maghrib kalau nggak habis maghrib. Kenapa?'


'Masuk kamar dan tak akan keluar lagi jam berapa?'


'Sekitar jam 9 atau 10 malam, kenapa??'


'Tidak pernah kucoba'


'Kalau mama lu sudah di kamar dan tidak akan keluar kamar lagi, lo ke atas genteng rumah lu. Kita ketemu aja disana*'


Genteng? Kenapa dia ada-ada saja mengajakku melakukan hal yang tak pernah ku lakukan? Apa tak bahaya jika di genteng? Coba saja lah dulu.


Jam 21.30


'Mami sudah tidur waktunya aku beraksi'


Aku menguncir rambutku. Aku menyelimuti gulingku dengan selimut, agar dikira yang selimutan itu adalah aku yang sedang tidur. Aku mengabari Sandy jika sudah aman, dan aku langsung ke atas. Sesegera mungkin aku menuju loteng rumahku. Aku menaiki anak tangga dengan perlahan-lahan, takut langkah kakiku terdengar.


Sesampainya di atas dia sudah berada di genteng rumahku.


"Lu ngapain disitu?" Aku berbicara dengan berbisik\-bisik agar tak ketahuan siapapun kalau aku belum tidur.


"Sini turun ke genteng, duduk berdua denganku"

__ADS_1


"Aku tak berani."


"Ada aku, aku bantu"


Sandy menyakinkan aku, memang selama aku bersama dia aku tak pernah kenapa-napa. Akhirnya aku pun turun ke genteng dengan dibantu oleh Sandy, dia memegangiku agar aku tak terjatuh.


Kami pun duduk di genteng rumahku berduaan saja sambil melihat bintang-bintang yang sedang bersinar dengan terang. Aku sangat terpukau melihat bintang-bintang itu.


"Lihat lah bintang itu, bagus bukan?" Sandy menunjuk bintang- bintang yang ada di langit.


"Indah"


"Sama kayak lu. Lu juga indah seperti bintang itu cuma lu ga menyadarinya. Lu selalu menganggap diri lu ga berguna, lu selalu menganggap diri lu sampah. Padahal salah. Lu sebenarnya indah, cuma lu nya aja yang belum bersinar jadi belum terlihat indahnya dengan sempurna"


"..." Aku terdiam mendengar ucapan Sandy. Jantungku berasa mau copot mendengar kalimatnya Sandy. Kenapa ini?


"Ini buat lu."


Sandy memberikan sebuah kotak dengan pita diatasnya.


"Apa ini?"


"Buka saja"


Aku pun membuka kotak tersebut. Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung berbandul bintang dengan warna silver.


"Ini?"


"Ya, Jaga kalung itu. Aku berikan buat lu" Sandy terdengar suaranya seperti salah tingkah ketika memberikan kalung itu. "Sini ku pakaikan"


Aku pun membalikkan badanku memunggungi lelaki ini. Kenapa tiba-tiba dia seperti cowok romantis yang ada di drama korea yang ku tonton?


"Anggap saja kita kencan sekarang"


"Hah??"


"Ya, gue suka dan sayang sama lu"


"Lalu?"


"Gue ga mau nanya lu mau apa nggaknya jadi pacar gue. Gue ga mau ada penolakan. Jadi biar saja kita jalan seperti ini. Gue anggap lu pacar gue, kalau lu terserah mau anggap gue apa itu hak lu. Kan gue juga ga nanya ke lu atau mnta persetujuan lu"

__ADS_1


Entah aku harus harus senang, bingung, atau kesal? Kenapa dia ga nanya sih tentang perasaanku, lagian juga ga akan aku tolak lah. Gue pun udh dibuat nyaman olehnya. By the way, kencan pertama gue benar-benar gila. Gue beru merasakan jatuh cinta dan pacarannya di genteng? Baru kali ini gue dengar ada orang yang mau pacaran seperti ini. Apa cuma gue dan dia aja yang pacarannya aneh begini?


__ADS_2