Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Dia, Cinta Pertamaku (1)


__ADS_3

Kali ini, author akan menyisipkan sisi romantis. Biar ga kesel-kesel terus. Happy reading..


*********


5 Bulan kemudian,


Aku dan Sandy mulai sering mengobrol bersama, ternyata dia orang yang cukup asyik dan bisa membawa suasana menjadi seru. Aku pun sudah tak judes lagi dengannya, kami bisa mengobrol dengan santai, tertawa seketika aku bisa menghilangkan jenuhku bersama dia. Baru kali ini aku memberanikan diri memiliki seorang teman laki-laki. Selama ini aku selalu berteman dengan perempuan, dan rasanya flat aja gitu. Kami juga sering chat an, teleponan, dan video call berjam-jam.


Kriiinggg....


Suara nada handphoneku berbunyi ada telepon yang masuk. Setelah ku lihat namanya, Dia Sandy tetangga sebelahku.


"Sore jadi pengasuh anak lagi ga lu?" Pengasuh anak yang dia maksud adalah adikku, dia tau kalau aku keluar rumah hanya untuk menemani adikku bermain.


"Tidak, ah.. Ada mbak gue ini bro. Lagi malas." Jawabku, memang saat itu aku sedang malas sekali untuk keluar. Ingin rasanya sesekali rebahan di kamarku yang nyaman ini.


"Yaaahhh. Baru gue mau ajak lu ketemu." Aku tertawa karena mendengar suaranya seakan-akan kecewa. "Ya sudah tak apa mungkin next time"


"Kangen lu sama gue? hahaha"


"Tidak juga, ada suatu hal yang mau gue tunjukkin. Siapa tahu lu bisa jadi senang. Daripada di rumah terus, lu galau sama orang tua lu terus."


Dia sudah mengetahui bagaimana ceritaku yang kurang perhatian dari orang tuaku. Dia orang pertama yang tahu cerita detailku, bahkan dia pun tahu aku bukan anak kandung orang tuaku. Entah kenapa curhat dengannya, merasa aku lebih plong.


"Gue pikir dulu deh" Jawabku.


"Ya sudah kabarin kalau lu bisa. Tidak ngabarin juga gapapa, Gue bakal tunggu di taman komplek jam 4 sore"


Dia setiap janjian akan bilang seperti itu, karena dia tahu kalau aku orangnya tidak bisa membiarkan orang lain menungguku. Mau tidak mau aku mendatanginya.


"Ga usah nunggu, gue kan belum pasti kesana"


"Ga nunggu lu juga sih, emang gue pengen kesana aja. Ya sudah gue mau ngasih makan Brownie, Kenji, sama Snowie"

__ADS_1


Brownie, Kenji, dan Snowie itu adalah nama anjing-anjingnya yang ia punya. Di rumahnya memang dia memiliki anjing. Brownie dan Kenji anjing yang ukurannya kecil, sedangkan snowie ukurannya besar dan seperti beruang. Memang lucu, hanya saja aku tidak suka anjing karena pengalamanku di kejar anjing.


Selesai teleponan, aku memikirkan apa aku akan menemui dia atau tidak. Tapi dari kata-katanya seakan-akan dia bisa menjamin jika aku menemuinya, aku akan senang. Aku butuh kesenangan itu, tapi aku belum tahu apa yang akan dia lakukan untuk membuatku senang.


Sekitar jam setengah 4 sore, aku segera mandi dan bersiap-siap. Ya, aku akan menemui Sandy di taman komplek. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan. Aku mengenakan kaos putih dan celana pendek jeans. Aku tak memakai riasan dandanan sedikit pun, aku memang tidak suka berdandan. Ya keluar apa adanya saja. Setelah kelar, aku menghampiri Sandy di tempat yang ia bilang.


Sesampainya di taman, aku melihatnya bersama dengan ketiga anjingnya.


'Ngapain sih pakai dibawa tuh anjing? Ini mah tak akan membuatku senang.' Aku sangat kesal melihat anjing-anjingnya dengannya. Walau anjing itu sudah diikat dengan tali pengaman, tetap saja aku takut.


"Lu udah sampai, sini." Sandy menyadari kedatanganku.


'Sial baru saja aku mau balik kanan'


Mau tak mau aku menghampirinya di taman, dan aku berdiri agak berjarak dengannya.


"Sini, duduk. Kenapa jauh-jauh?" Ia menyuruhku untuk duduk disampingnya.


"Ga akan gigit ini.."


"Tidak mau.."


"Emang ga pegel lu berdiri terus disitu?"


"Biarin"


"Susah banget di bilangin"


Sandy langsung menarik tanganku agar langsung mendekat dan membuat pantatku menempel di bangku taman di sampingnya.


Guk.. Guk.. Gukk..


Anjingnya yang bernama Brownie menggonggong kearahku. Badanku sangat gemetaran dengan sangat ketakutan, sehingga menarik lengan baju milik Sandy.

__ADS_1


"Brownie, Diam!" Sandy memerintahkan anjingnya yang menggonggong itu diam, karena terlihat dari wajahku yang pucat dan aku mulai histeris.


"Mau apa sih lu menyuruh gue kemari? Mau membuat jantung gue copot apa?" Aku kesal dengannya saat itu.


"Lebih tepatnya, gue ingin menghilangkan rasa takutmu pada anjing-anjingku."


"Menyebalkan sekali, Lu!"


Tiba-tiba ia menyuruhku untuk mencoba memegang bulu-bulu snowie, anjing miliknya yang berkulit putih seperti beruang. Awalnya aku takut, namun aku mencobanya walaupun tanganku bergemetaran hebat saat akan mengelus lembut bulu snowie.


"Bagaimana? Masih takut?" Sandy memperhatikanku yang sedang mengelus bulu-bulu snowie.


"Sedikit berkurang"


"Anjing itu sangat perasa sama kayak manusia. Jika ada yang sangat sayang dengan mereka, mereka akan nurut sama kita. Tapi kalau kita menunjukkan tingkah yang mencurigakan di sekitar pemiliknya, mereka akan mengejar kita demi melindungi pemiliknya"


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku mendengarkan perkataannya. Sepertinya aku mulai tidak takut dengan anjing-anjing ini. Dalam waktu 1 jam saja aku bisa bersenang-senang dengan anjing-anjing ini dan bahkan aku senang bermain dengan mereka. Mereka lucu dan menggemaskan, tapi aku tidak tahu aku bisa seperti ini juga apa tidaknya dengan anjing yang lainnya yang bukan milik Sandy.


"Seneng tidak bermain dengan anjingku?"


"Seneng, terima kasih" Aku tersenyum padanya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Sudah menghilangkan rasa takutk gue pada anjing, membiarkan anjing-anjing lu bermain dengan gue, sudah memberikan banyak pelajaran mengenai melihara anjing, dan pastinya sudah bikin gue tertawa lepas sore ini. Terima kasih banyak"


"Kalimat terpanjang yang baru kali ini gue dengar"


"Nyebelin lu!!" Aku memukul pelan lengan lelaki itu dan memanyunkan bibirku tanda kesal.


"Duuuuhhh. Jangan manyuunnnn laaaahhh"


Dia memanjangkan kalimatnya dengan mencubit bibirku yang sedang manyun. Aku dibuatnya menjadi salah tingkah padanya.

__ADS_1


__ADS_2