
Hari-hariku sangat melelahkan tak seperti dulu lagi. Aku lelah untuk selalu menangis ketika malam karena harus mendapat omelan-omelan yang terus dilakukan mamaku. Aku merasa serba salah dalam hidupku sekarang. Aku pun sedih sudah tak bisa bermanja-manja lagi dengan mamaku, tak bisa lagi berbicara santai dengan mamaku. Aku rindu masa-masa dimana aku bisa berbicara banyak hal dengan mamaku, tak seperti sekarang ini yang setiap kami bicara selalu akan adanya air mata yang jatuh dari mataku.
Setiap weekend, aku tak pernah bisa beristirahat dari kegiatan-kegiatanku. Aku tak pernah menikmati weekendku dengan damai lagi. Setiap weekend aku harus ikut dengan mamaku ke pasar untuk berbelanja perlengkapan masak dirumah. Aku sebenarnya malas sekali jika weekend mengharuskanku bangun pagi-pagi. Hari sekolah atau libur sama saja bagiku mengharuskan aku bangun pagi-pagi dan tidak bisa beristirahat dengan tenang.
"Kakak.... Banguuuunnnn.. Ayo ikut mami ke pasar" Aku terbangun dari tidurku hanya dengan suara mamaku memanggil, kali itu aku sudah merasa takut jika mamaku memanggil dan aku tak mengubrisnya. Aku takut ia marah lagi denganku, dengan membawa-bawa masa depanku.
__ADS_1
Aku segera menuju kamar mandi untuk cuci muka, dan bersiap-siap berangkat ikut dengan mamaku ke pasar. Aku sangat malas ikut, lagipula sebenarnya aku ikut atau tidak tak akan jadi masalah. Karena aku punya 2 pembantu, dan mereka juga selalu ikut dengan kami ke pasar. Tugasku di pasar juga tidak ada, kecuali hanya membuntuti mamaku kemanapun dia pergi.
Sepulang dari pasar pun, aku mulai masuk ke kamar dan merebahkan badanku ini ke atas tempat tidurku yang empuk. Namun, belum ada 5 menit aku merebahkan badanku, mamaku sudah memanggilku lagi seakan-akan aku tak boleh mengistirahatkan sejenak badanku yang lelah dan panas ini karena matahari dipasar tadi. Aku pun menyusuli mamaku yang sedang di dapur sedang menyiapkan bahan masakan untuk kami semua.
"Kamu ini kerjaannya di kamaaaaaarrr teruuus. Bukannya bantu mami, jadi perempuan itu ada kek inisiatifnya buat bantu maminya masak." Kalimat itu selalu dilontarkan mamaku jika aku habis dari kamar.
__ADS_1
"Bantu mami kenapa sih kak. Hari-harimu bertelur aja di kamar. Kumpul sama keluarga kalau weekend, jangan di kamar terus"
Aku hanya mengiyakan perkataan mamaku, berharap mamaku tak berpidato lagi padaku. Di dapur aku kebingungan harus bantu apa, karena semua pekerjaan sudah di ambil alih oleh kedua pembantuku dan juga mamaku. Aku melihat-lihat sekitar dapur, tak ada yang bisa ku kerjakan. Lalu, untuk apa aku di panggil? Aku hanya memperhatikan mamaku memasak di dapur sesekali melakukan apa yang mamaku suruh seperti ambil bahan-bahan yang harus ku ambil, atau mengambil air untuk perlengkapan masakannya.
Setelah mendengar perkataan mamaku tentang jika weekend harus kumpul dengan keluarga, aku pun memutuskan untuk seharian ini berada di ruangan keluarga berniat memang bisa berbicara santai mungkin dengan mereka. Adikku juga masih kecil banget, tidak bisa ku ajak berbicara dengan enak. Jika aku berbicara padanya juga, tak mungkin dia menanggapi ceritaku dengan bahasa yang ku mengerti. Dia hanya bisa mengoceh-ngoceh tak jelas, tertawa, dan hanya menangis.
__ADS_1
Ternyata punya seorang adik itu, tak sebahagia yang aku pikirkan saat sebelum memilikinya. Malah yang ada membawa aku ke dalam kesedihan, karena mamaku yang menjadi sensitif.