
Waktu sangat cepat berlalu, tak terasa hubunganku dengan Sandy sudah genap 2 tahun. Dia tak pernah berubah dari awal kenal hingga sekarang. Aku bahagia memiliki dia, hanya dia penghiburku ketika aku sedang bersedih karena keluargaku.
Selama dua tahun pacaran kami backstreet dari orang tuaku pastinya. Aku benar-benar tidak boleh berdekatan dengannya.
Sekarang aku pun sudah memasuki kelas 3 SMA, masa dimana orang-orang akan menentukan lanjut pendidikan atau langsung bekerja. Mamaku pastinya semakin bersikap keras padaku, lebih parah. Aku bahkan harus ikut les mata pelajaran. Makin mumet otakku karena mata pelajaran. Padahal menurutku, tanpa les aku tuh bisa kok. Buktinya saja sampai detik ini peringkatku tidak menurun dari 5 besar. Mamaku terlalu memaksaku ini itu. Benar-benar aku sudah kesal dengan semua ini.
Pagi ini, aku sedang bersiap-siap akan berangkat sekolah. Aku sudah di perbolehkan menggunakan motor sendiri untuk ke sekolah. Tak perlu lagi aku harus menunggu adikku yang lelet, karena dia aku selalu terlambat.
Tiing..
Hpku berbunyi ada pesan yang masuk. Aku segera membukanya, dan ternyata itu dari Sandy.
"Pagi sayang"
"Hmm.. pagi juga"
__ADS_1
"Belajar yang bener yaa, tunjukkin ke orang tuamu kalau kamu bisa menjadi anak yang diinginkan. Nanti jam 3 sore aku mau mengajakmu ke tempat balapku, aku akan balapan. Itu pun kalau kamu mau"
"Tentu saja mau, memang kamu ga ada kuliah sore?
"Nggak ada. Dosennya ga masuk"
"Oke, sampai ketemu nanti"
Kami pun mengakhir pesan kami. Sandy saat ini sudah kuliah di salah satu universitas X yang tak jauh dan juga tak dekat dari rumah. Aku ingin di berkuliah disana, pasti seru jika satu kuliah dengan kekasih.
"Miih, kakak berangkat"
Aku memasuki kamar mamaku untuk pamit ke sekolah.
"Tunggu, itu muka ga di pakai cream, ga pakai bedak. Bibir juga ga pakai lipbalm. Aduuh kamu ini udah di beliin malah ga di pakai. Pakai dulu, baru boleh berangkat."
__ADS_1
Selama aku sudah naik jadi SMA, mamaku bukan hanya banyak protes masalah pendidikan, tapi dia juga akan protes masalah penampilanku, dandanan aku, badanku, dan lain sebagainya. Aku yang sangat malas untuk melakukan perawatan itu, jadi kesal sendiri.
Setelah menggunakan cream, bedak, dan lipbalm aku berpamitan lagi dengan mamaku.
"Aku berangkat"
"Nah gitu dong, jadi cewek itu peka sedikit sama penampilan"
"Iya, Oh ya mih aku jam 3 sore ada bikin tugas presentasi di rumah Myrna"
"Ya sudah. Kalau Myrna mami ijinkan. Awas jangan macam-macam!"
Aku berbohong dengan mamaku, demi bisa keluar sore dengan Sandy. Karena dia sudah sibuk kuliah, kita jadi jarang untuk bertemu. Terpaksa aku membawa-bawa nama temanku itu, karena Myrna memang sudah dikenal sebagai teman sekelasku yang selalu peringkat 1. Aku hanya diperbolehkan bermain dengannya, tidak boleh dengan yang peringkatnya dibawah 10 besar. Hanya saja aku diem-diem berteman dengan siapapun, aku tak mungkin punya teman hanya berdasarkan rangking.
Mau tak mau aku memakai barang-barang itu agar di perbolehkan berangkat sekolah. Selama 2 tahun ini, aku selalu semangat ke sekolah yaa semenjak aku mengenal seorang lelaki bernama Sandy. Aku sekarang lebih banyak mencatat dan lebih aktif di kelas kalau masalah pelajaran.
__ADS_1