Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Tak Di Anggap


__ADS_3

Aku kesal sekali di bentak saat itu, karena kalau saja mamaku tak bicara ingin cerai, aku tak akan mensortir badanku dari pagi hingga sore kuliah, kemudian malam sampai subuh atau pagi aku bekerja. Apa dia juga tidak lihat badanku yang makin kecil ini, karena terlalu memaksakan badanku untuk bekerja bahkan kadang sampai lupa makan. Apa dia juga tak lihat mata pandaku yang terlihat jelas?


Sudah 2 minggu aku di rumah, namun seperti layaknya aku tak di rumah. Semenjak kejadian aku memberitahu mamaku tentang aku cuti kuliah, dia seperti acuh tak acuh padaku. Aku ini di rumah, tapi seperti tak ada di matanya. Bahkan untuk keluar dari kamar pun aku tak punya nyali jika ada mamaku. Aku hanya bisa menangis seorang diri di kamar. Selama aku di rumah, aku memang tak punya kegiatan sama sekali.


Keesokkan harinya, aku terasa badanku seperti akan sakit. Badanku drop sekali, namun aku tak menberitahu mama atau papaku. Tiba-tiba saja di pagi hari mamaku memanggilku ketika ia akan berangkat bekerja.


"Ini uang buat kamu, pergi ke Bandung ambil barang-barangmu. Langsung pulang ke rumah tak perlu menginap. Ini ongkos untuk pulang-pergi" Mamaku memberikan sejumlah uang pas untuk ongkosku.

__ADS_1


Walau dia sudah mengeluarkan satu atau dua kata dari mulutnya, tetap saja masih membuatku tak nyaman di rumah karena aku merasa tak dianggap. Dia bahkan terlihat judes denganku. Aku tahu aku salah, tapi apa harus dengan mendiamkan selama ini? Aku lebih baik dicaci maki olehnya, daripada harus di cuekin seperti ini.


Aku memperhatikan mobil mamaku yang pergi meninggalkan garasi rumah. Tiba-tiba saja mamaku memberi pesan padaku bahwa aku tak usah ke Bandung karena papaku tak mengijinkan. Saat itu juga papaku tak ada di rumah karena sedang berkunjung ke rumah ibunya untuk beberapa hari.


'Aaahh untuk apa aku disini kalau seperti aku ini tak ada di rumah? 2 minggu aku di rumah, 2 minghu pula aku di diemin oleh orang tuaku sendiri. Lebih baik aku pergi saja, dengan begitu dia akan bisa lebih bisa mendengar penjelasan anak-anaknya. Selama ini orang tuaku tidak pernah bersikap sebagai pendengar yang baik. Setiap aku cerita atau berpendapat selalu di marahi, apa tidak bisa berbicara baik-baik tanpa harus membentak?' Aku bergumam dalam hati dengan kesal.


Setelah bis ku datang, aku pun segera menaikinya dan duduk dengan perasaan sedih hanya aku ingin sesekali membantah. Karena aku 2 minggu di rumah pun sudah mencoba ikhlas dimarahin, tapi klo untuk di diemin terus-terusan buat apa juga aku disana?

__ADS_1


Kriiinngg...


Handphoneku berdering dan mamaku yang menelponku. Aku tak berani mengangkatnya, aku segera membisukan nada dering tersebut agar penumpang lain tak terganggu dengan keberisikan handphoneku. Aku benar-benar tak berani mengangkat teleponnya, aku sudah menebak mamaku pasti sangat marah dan akan membentakku karena aku pergi dari rumah.


Karena teleponnya tak ku angkat, dia mulai mengirim pesan yang berisi emosiannya kepadaku.


"Sudah dibilang jangan pergi, masih juga pergi kamu? Sudah tidak mau dengar mami?!Susah sekali kamu itu di kasih tau! Pulang sekarang, Anna Angelista!!!"

__ADS_1


Hatiku sangat kacau membaca pesan mamaku bahkan ia menuliskan namaku dengan lengkap. Aku sangat ketakutan, dan badanku menjadi gemetaran hebat saking takutnya. Namun aku tetap melanjutkan perjalananku, berharap dengan kejadian ini mamaku bisa lebih menjadi pendengar anaknya yang baik tanpa harus memarahi anaknya.


__ADS_2