
Sandy mengantarkanku pulang dari arena balap motor tempatnya balapan. Diperjalanan aku sudah sangat panik karena aku takut jika mamaku sudah sampai rumah dari pekerjaannya. Mengapa aku setakut itu? Mamaku melarangku untuk pergi bermain, dia hanya meperbolehkanku pergi hanya untuk bersekolah. Bahkan aku juga tak boleh pergi ke rumah temanku, walau tujuanku mengerjakan tugas kelompok.
"Tenangkan dirimu jangan panik, aku berusaha mempercepat motorku"
Sandy terus melajukan motornya dengan sangat cepat. Aku harap aku tidak akan terkena semburan kata-kata dari mulut mamaku lagi.
'Oh tidaaak..'
Harapanku tidak berpihak padaku. Sesampainya aku di depan rumah, mobil mamaku sudah terparkir di garasi mobil.
"Ya sudah kamu masuk dulu, bilang saja kamu tadi diajak main dengan kawanmu" Sandy terus menenangkanku yang sedari tadi sudah panik.
"Aku tak mau masuk, bawa aku pergi saja. Aku takut"
"Mau pergi kemana? Malah kalau kamu semakin lama masuk ke dalam rumah, mamamu bisa semakin marah. Sekarang masuklah. Aku akan menunggu chat darimu, kalau kamu butuh aku"
Aku pun mengiyakan perkataan Sandy. Setidaknya ketika aku menangis, akan ada teman yang bisa menenangkan aku.
Aku pun memasuki rumahku, sedangkan Sandy juga pulang ke rumahnya. Aku memasuki setiap rumah dengan sangat pelan-pelan.
'Sesampainya aku di dalam, aku langsung ke kamar dan tak akan keluar kamar'
__ADS_1
Aku berjalan dengan sangat hati-hati. Yaa sedikit lagi aku sampai di kamarku, aku tak akan terkena omelan. Dalam hati aku merasa senang karena tak ada kemunculan mamaku.
"Dari mana saja kamu? Pergi keluyuran saja bisanya"
Oh tidak mamaku memergokiku ketika aku akan membuka pintu kamarku. Arrrggg Sialnya aku.
"Pergi sama siapa kamu?!"
Mamaku berbicara dengan matanya yang melotot dan melipat tangannya di depan dadanya.
"Aku tadi pergi sama temanku mih. Hanya makan\-makan saja. Dia mengajakku tadi dadakan" Semoga saja mamaku percaya.
"Mulai bohong kamu! Kamu pergi dengan anak sebelah itu kan?! Memang mami tidak tahu??"
"Benar-benar kamu jadi anak. Belajar dari siapa berbohong? Karena laki itu? Mami tak pernah mengajarkan kamu untuk jadi anak pembohong! Dia bisa membawa pengaruh buruk buat kamu! Semenjak berteman dengan dia pun, kamu sekarang sudah berani membohongi orang tua!"
"Aku berbohong bukan karena dia. Aku berbohong karena takut mami marah jika aku main. Lagian juga dia sebenarnya baik kok. mami mengatakan dia buruk, karena mami belum mengenali sifat asli dia." Tak tahu kenapa tiba-tiba mulutku reflek menjawab seperti itu kepada mamaku. Padahal biasanya aku tak pernah berani untuk berbicara sepatah kata pun kalau mamaku sedang marah.
"Mulai membantah dan menjawab kamu ya!"
Mamaku langsung masuk ke kamarnya. Ku pikir mamaku akan berhenti marah dan beristirahat sejenak. Tapi....
__ADS_1
"Berani melawan mami sekarang??!!"
"Maaf miih, Ampuuuunnn"
Mamaku kembali menghampiriku dengan membawa penggaris besi milik papaku. Aku yang ketakutan hanya bisa mengeluarkan kata minta maaf. Tangan dan badanku habis dipukuli olehnya. Aku menangis sejadi-jadinya ketika mendapat perlakuan itu.
"Mulai detik ini tidak ada keluar rumah, termasuk ke depan rumah. Paham?! Jangan sampai mami mendengar kamu keluar dari pagar! Ini hukuman buat kamu!"
Setelah memukul dan memberiku hukuman, mamaku memasuki kamarnya dengan membanting pintu kamar. Aku masuk ke kamar dan menangis terus karena badan dan tanganku yang sangat sakit atas pukulan dari mamaku. Badan dan tangan menjadi lecet dan merah-merah. Bahkan untuk tiduran saja aku merasakan sakit yang amat terdalam.
Setelah aku sudah terpisah ruangan dengan mamaku, salah satu pembantuku memasuki kamarku dengan membawa kotak P3K di tangannya.
"Mbak obatin dulu ya" Mbak Nur ini sama seperti namanya dia bagai cahaya setelah aku terkena omelan. Dia bekerja di rumah ini dari aku kelas 4 SD, dia yang paling lama bekerja disini dibanding pembantu yang lain.
"Makanya kak jangan bandel, nurut geh sama mami. Mami tuh sayang sama kakak, cuma emang sifatnya yang keras. Kakak jangan nangis lagi. Kakak harus bisa tunjukkin ke mami kalau kakak bisa bahagiain mami."
Mba Nur selalu menyemangatiku ketika aku sedang down seperti ini. Dia berbicara sambil mengobati luka merahku bekas pukulan.
"Sudah selesai, semoga besok langsung sembuh ya anak manis"
Setelah mengobatiku, dia langsung pergi ninggalin aku di kamar sendir lagi. Kalau saja mamaku punya sifat seperti mbak Nur, betapa bahagianya aku. Aku juga pasti akan betah di rumah. Ini sama saja mamaku menyiksaku. Sudah sifat mamaku yang tak bisa lembut, di tambah sekarang aku tak bisa menambah teman. Apa dia ingin membunuhku secara perlahan seperti ini??
__ADS_1
Rumah terasa seperti penjara bagiku, bukan tempat yang nyaman bagiku.