Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Peluk aku, Mih


__ADS_3

"Peringkat : 5 / 30"


Aku menunggu kepulangan mamaku dengan hati yang senang dan bangga karena pada akhirnya aku bisa mencapai prestasi yang aku inginkan. Bagaimana tidak? Mamaku hanya menargetkan aku mendapat peringkat 10 besar, dengan aku mendapat peringkat 5, berarti aku sudah melebihi target yang mamaku kasih padaku.


"Pasti mami akan senang dan bangga padaku. Dia pasti akan memelukku dengan rasa bangganya" Aku senyum-senyum sendiri membayangkan perlakuan mamaku yang aku inginkan. Aku sebagai seorang anak, sangat ingin di peluk olehnya aku sudah lelah jika harus terus dimarah-marahin walau sebenarnya hal yang sepele.


Brrrmmm...


Suara deru mobil mamaku terdengar jelas, aku segera berdiri di depan pintu masuk untuk menyambut kepulangan mamaku.


"kakak cedang apa?" Adikku tiba-tiba saja sudah berada dibelakangku berdiri di depan pintu masuk.


"Nungguin mami sayang" Jawabku dan segera menggendong adikku yang kecil ini. Karena moodku sedang sangat bagus, aku sejak pulang sekolah pun memperlakukan adikku dengan sangat baik.


Setelah mamaku memarkirkan mobilnya, mamaku keluar dari mobilnya dan memberikan kotak makanannya ke asisten rumah tangga kami.


"Mamiiiii..." Teriak adikku kegirangan dan mengulurkan tangannya kepada mamaku meminta di gendong olehnya.

__ADS_1


"Haaaai sayang anaknya mamiii" Mamaku tersenyum lebar pada adikku dan segera mengambil adikku yang berada di gendonganku untuk menggendong adikku.


Kami pun masuk ke dalam rumah dan aku sangat gugup membicarakan raportku. Apakah reaksi mamaku akan sesuai dengan ekspektasiku yang sedari tadi ada dalam pikiranku??


"Miih.. Aku sudah terima raport dari hasil ujian tadi" Kataku dengan terbata-bata, entah aku malah jadi takut memberikan raportku pada mamaku. Aku mulai takut berbicara dengannya karena setiap apa yang ku lontarkan dari mulutku akan menimbulkan kemarahan.


"Jelek lagi nilaimu?" Raut wajah mamaku berubah 180° ketika menjawabku. Saat berbicara dengan adikku, wajahnya terlihat adem sekaki dengan senyumannya yang manis dari wajahnya. Namun, saat berbicara padaku saat itu wajahnya berubah dengan tatapan tajamnya.


"Ini" Aku tak meneritahukan nilaiku yang bagus, biarkan saja dia melihat hasilnya dengan mata dan kepalanya sendiri. Aku segera memberikan raportku kepadanya.


"Cuma segini, kak?" Tanya mamaku dengan menaikkan nada bicaranya.


"Mami saja dulu bisa juara kelas dan dapat beasiswa, kamu cuma dapat segini?!" Mamaku mulai membanding-bandingkan dirinya yang dulu denganku.


Aku hanya menunduk yang diam seribu kata, aku tak berani menjawab perkataannya. Aku sangat sedih, pencapaianku seperti tidak ada harganya. Mataku sudah berkaca-kaca, namun aku menahannya agar air mataku tak jatuh.


"Ada apa sih?" Papaku baru saja pulang dari tempat kerjaannya mendengar ocehan mamaku padaku. "Dapat nilai jelek lagi?"

__ADS_1


Mamaku memberikan raportku kepada papa tiriku itu.


"Gini kan ada peningkatan, tingkatin lagi hasil belajarmu" Kata papaku dengan tersenyum, berbeda dengan mamaku. Papaku masih mengatakannya dengan senyumannya yang membuatku tenang, lain dengan mamaku.


"Mami tuh dulu bisa loh peringkat 1 dan selalu membawa nama baik sekokah dalam ajang pendidikan. Liat kakak sepupumu yang lain, mereka juga bisa mendapat beasiswa di sekolahnya!"


Aku benci sekali jika terus dibandingkan dengan sepupu-sepupuku yang pintar itu. Yaa sepupuku semua pada pintar dalam masalah pendidikan. Di sekolah mereka selalu mendapat prestasi terbaik, bahkan sepupuku ada yang sudah menjadi dokter dan TNI. Sepertinya hanya aku yang bodoh.


"Sudah, jangan terlalu keras ke anak. Dia kan sudah bisa meningkatkan kemajuan belajarnya. Nanti juga pasti bisa." Papaku mencoba menenangkan mamaku. Yaa dia papa tiri yang baik sebenarnya. Dia tak pernah marah padaku, dia selalu berkata lembut padaku walau aku salah.


"Aku sudah berusaha dengan semaksimal mungkin mih. Peringkat 1 sampai dengan peringkat 4 itu teman-temanku sendiri. Mereka memang pintar dan tak bisa aku kalahkan" Jawabku dengan suaraku yang serak.


"Ya makanya belajar bareng sama mereka! Cari teman itu yang pintar, biar bisa tertular kepintarannya"


"..." Aku terdiam masih terus menahan air mataku yang akan jatuh.


"Ya sudah, sana tingkatin lagi belajarmu!" Mamaku menandatangani raportku dan memberikannya padaku.

__ADS_1


Di kamar barulah aku bisa menangis dengan pelan. Sedari tadi dadaku sudah sesak karena menahan tangisanku. Aku sama sekali seperti tak ada bagusnya dimata mamaku sekarang.


'Aku sudah barusaha semaksimal mungkin miih.. Apa mami tak bisa memelukku dan berkata mami bangga padaku? Aku ingin mami berkata lembut dan memelukku mih.. Aku tidak minta di marahin setiap saat. Aku merasa kita sekarang semakin jauh'


__ADS_2