Stars;Devils The Beginning Book S

Stars;Devils The Beginning Book S
[Season 2] Eps 29 : Perpisahan


__ADS_3


(Altarisk)


“Bagaimana menurutmu mengenai dia” sembari


melihat cuplikan kehidupan manusia, ucap sang takdir.


Datanglah sang kehidupan dengan wujud manusia


memasuki Aula Altarisk.


“sedari dulu aku penasaran dengan caramu memilih


siapa yang layak hidup”


Ucap Sang Kematian terhadap Sang Kehidupan.


“bagaimana menurut kalian mengenai bocah itu”


ucap sang kehidupan kepada semua para sang yang berada di altarisk, lalu


melirik ke Vilan.


“apakah itu tindakan yang di benarkan” ucap Vilan


yang merasa iba.


“lagi pula dia tidak merasakan penderitaan” ucap


Sang Takdir.


“dia bukan tidak merasakan, tapi dia tidak memperlihatkannya”


“bagaimana jika buktikan pada bocah itu, untuk


menentukan posisinya” ucap Sang Penentu sembari memegang bahu Vilan.


Para Sang lainnya sepakat dan saling menebak


siklus yang akan terjadi pada bocah tersebut, namun Vilan merasa kesal melihat


tindakan para Sang ia pun memutuskan untuk membela Bocah tersebut di kemudian


hari.


(Arda-Bumi)


Sebelumnya Arif menanyai Mahaguru mengenai tugas


dirinya sebagai D7, namun Mahaguru tidak menjawabnya, Arif pun menanyai hal


lain pada Mahaguru.


“baiklah jika tidak di jawab, akan kucari tahu


sendiri, tapi bagaimana bisa buku sakti tersebut bisa memperlihatkan segala


yang terjadi.”


“karena yang membuat buku tersebutlah yang


menulisnya berdasarkan apa yang ia ketahui” ucap mahaguru, Arif pun kebingungan


mengenai apa yang di ucapkan oleh Mahaguru.


Badai angin pun mereda, mereka pun memutuskan


untuk beristirahat seraya menunggu hari esok.


Usai menemui Pak Rex Nagisa pergi ke ruang bawah


untuk mencari buku tersebut, namun ia di pertemukan dengan penjaga tersebut.


Nagisa pun mengatakan alasannya dengan jujur,


lalu si penjaga tersebut meminta Nagisa untuk diam sejenak, usai pemeriksaan


melalui penglihatan Nagisa mengambil buku tersebut, namun si penjaga melarang


membawa buku tersebut, Nagisa pun membacanya disana, namun setiap halamannya


tidak tertuliskan apa pun ia pun mencoba bertanya kepada penjaga mengenai isi


dari buku tersebut, namun tidak ada reaksi, Nagisa pun meletakan buku tersebut


lalu pergi menemui Pak Rex dan menanyainya.


“jika memang terlihat tidak ada tulisan, berarti


Anda bukannlah yang terpilih oleh buku tersebut.”


“lalu siapa yang terpilih”


“D3 dan D6 terpilih oleh buku tersebut”


“bagaimana bisa kakak ku terpilih oleh buku


tersebut, bagaimana dengan Anda”


“aku tidak terpilih juga, setahuku buku tersebut


yang memilih siapa pemiliknya”


Nagisa pun pergi ke ruangannya dan berpikir “jika


bukan laki-laki, apa yang membuatnya terpilih” dengan berjalan ke sana kemari.


Esok harinya Arif memulai latihannya dengan


Mahaguru berawal dari menguasai Ilmu bela diri Tapakkan, Tepian, dan Silat


mata.


Lalu berlanjut memperdalam pemahaman jiwa dan

__ADS_1


keberadaan.


Setelah itu iya meningkatkan kekuatan elemennya


secara sendiri kadang ia juga bertarung dengan mahaguru sebagai uji coba


kekuatan barunya.


5 tahun telah berlalu Arif telah menguasai segala


hal yang bisa di ajarkan oleh Mahaguru.


Sementara itu Nagisa telah memutuskan untuk


mencari kembali Mahaguru yang sempat tertunda.


“aku pergi dulu, aku titipkan academi kepadamu”


“iya, hati-hati” ucap Pak Rex.


Dengan letih karena lemparan Mahaguru Arif


meminta istirahat sejenak.


“ini”


“apa ini” Arif pun membukanya.


“minumlah itu untuk menjaga tubuhmu jika suatu


saat kekuatanmu melebihi batas tubuhmu”


“terima kasih”


“ada hal terakhir yang akan ku ajarkan kepadamu”


“baiklah, mari kita mulai”


“tapi apa kamu siap mati demiku”


“maksudnya, resikonya kematian.”


“tidak kamu akan kubunuh”


“boleh saja”


“apa kamu tidak keberatan untuk mati”


“aku sudah mati sebanyak 3x”


“gila kamu ya”


“asal aku bisa kembali.”


“kamu dengar itu kan” ujar Mahaguru, seketika


muncullah portal waktu, dan keluarlah San Waktu.


“sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Mahaguru”


Sementara itu di altarisk semua para Sang


terkejut melihat keberadaan Sang Waktu berada di sana, mereka pun menganggap


Sang Waktu berkhianat dari posisinya dan tugasnya.


“kamu bisa mempercayai anak ini” ucap Mahaguru.


“mengapa aku harus percaya padanya”


“karena dia di luar nalar, dan itu mustahil bagi


manusia yang terbatas akan segalanya, selama aku melatihnya, aku menyadarinya.”


“aku tidak bisa langsung percaya padanya”


“kalau begitu bagaimana jika kita buktikan”


Sang Waktu pun menghampiri Arif dan berbisik


kepadanya


“buktikan padaku, lakukan dengan caramu sendiri,


aku sudah mengizinkanmu”


Arif hanya bisa terdiam mendengar ucapan sang


waktu.


Perlahan Sang Waktu pergi, Mahaguru meminta Arif


untuk bersiap-siap


“kita mau kemana”


“ikuti aku”


Dengan cepat Mahaguru melakukan perpindahan


antara gunung ke gunung.


Usai melewati pegunungan yang panjang.


Mereka berdua beristirahat sejenak di dalam gua.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[ ~ Nama : Catly ~ ]


{ ~ Umur : 1000+ ~ }


{ ~ Status : berada  ~ }


{ ~ Kekuatan : portal ~ }

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mahaguru pun meminta Arif untuk menyerahkan


nyawanya kepadanya.


“Dengan senang hati” ucap Arif menantikan hal ini


yang terjadi.


Sementara itu di altarisk para sang merasa aneh


melihat reaksi Arif.


“aku sudah mengizinkanmu untuk menentukan siapa


yang layak hidup” ucap Sang Kehidupan melihat Arif dari Altarisk bersama dengan


para Sang yang lainnya.


Vilan pun meminta kepada para Sang yang lainnya


untuk memberi kesempatan kepada Arif.


“kenapa, apa kamu mengenal” ucap Sang takdir.


“tidak, tapi sepertinya dia berbeda dengan yang


lainnya”


Sang Waktu pun tiba di altarisk, para sang


lainnya menatap dengan sinis.


“kamu yang membenci manusia kenapa membelanya”


ujar Sang Kematian.


“dia berbeda, dan dia bisa diharapkan” ujar Sang


Waktu berjalan menuju ruangannya “jika kalian tidak percaya, kalian buktikan


sendiri”


Vilan pun di turunkan bersama dengan Sang


Kehidupan, berwujud manusia dan muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka


berdua.


“lama ya” ujar Mahaguru.


“aku sudah mengizinkanmu” ujar sang kehidupan.


“aku Vilan aku berharap penuh kepadamu” ujar


Vilan sembari menepuk pundak Arif, lalu mereka berdua pergi dengan perlahan


melayang menjadi cahaya.


Mahaguru pun memberikan pujian terhadap Arif


dengan berkata “bagaimana bisa kamu menguasai izin dari ketiga Sang,


benar-benar di luar nalar”


Dengan penuh rasa bangga Arif tersenyum, lalu


berkata “segera bunuh aku”


“sudah siap, menjadi korban” ujar Mahaguru.


“siap” Mahaguru pun menghampiri Arif lalu


memeluknya sembari berkata


“percayalah pada dirimu sendiri” terbunuhlah Arif


dengan tangannya sendiri.


Setelah selesai membunuh, Mahaguru mencuci


tangannya di air hujan yang menetes, sembari menunggu Skyjin dan Prejin datang


menemuinya.


Dengan penuh penghormatan Mahaguru menghormati


pengorbanan Arif, dan datanglah mereka berdua mengambil roh Arif dan raga Arif


untuk di otopsi sebagai percobaan undead pertama.


Mahaguru pun telah melakukan perjanjian dengan


bangsa jin mengenai project undead, dan berharap tidak ada hambatan.


Usai itu Mahaguru pergi keluar untuk mengecek


cuaca, setelah hujan reda, Mahaguru berjalan kembali ke gubuknya, untuk


menyelesaikan urusan utamanya.


Sang Waktu pun mempersiapkan rencana selanjutnya yang


berhubungan dengan pencitraan, perlahan dia akan menggunakan Arif sebagai objek


percobaannya dan akan membuat dampak besar bagi Alam Donya, namun ia ambisi ini


tidak menguntungkan dirinya saja, tapi juga akan menguntungkan Arif untuk


mencapai impiannya saat ia di minta untuk menyebutkan impiannya saat di


Academi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2