Stars;Devils The Beginning Book S

Stars;Devils The Beginning Book S
[Season 2] Eps 48 : Penyambutan


__ADS_3


“Apakah benar jika kalian mengikuti apa kata mereka, kalian akan


selamat, tidak bukan, tapi mengapa kalian masih mengikuti kata mereka, terpaksa,


atau ditekan, atau itu pilihan kalian, jika kalian masih takut mati untuk apa


kalian hidup, begitulah menurutku”


“eh, begitu ya, menarik juga, bagaimana apa ada pertanyaan, dari


partisipan..... baiklah kamu, perkenalan dulu baru bertanya” ucapnya sembari


menunjuk salah satu partisipan yang ada di halaman gedung.


“nama saya .... saya ingin bertanya apakah wajar kita sebagai manusia


mempunyai rasa takut, dan bagaimana jika ada manusia yang tidak memiliki rasa


takut, mungkinkah dia bukan manusia”


“bagaimana .... apakah perlu di ulang pertanyaan ibu ....”


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[ Juni 09 2003 ]


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Tidak perlu, baiklah saya akan jawab pertanyaan ibu ... kita sebagai


manusia mempunyai rasa takut dan memang itu wajar sangatlah mustahil jika ada


manusia yang tidak mempunyai rasa takut, namun si ibu bertanya semisal ada


manusia yang tidak mempunyai rasa takut ya kan, di lihat dari ibu apakah ibu melihat


dia sebagai manusia atau tidak, karena memiliki atau tidaknya rasa takut


bukanlah pembeda melainkan kepemilikan kita tidak akan bisa mengetahui rasa


takut tersebut, karena setiap manusia selalu, berusaha untuk menahan dirinya


sendiri”


Dari banyaknya partisipan terlihatlah seorang wanita yang sedang


meninggalkan partisipan tersebut, seorang penjaga tersebut menegurnya.


“acara belum selesai nona”


Namun si wanita menghiraukan dan tetap pergi dari seminar tersebut.


Ia pun pergi ke gedung dan duduk di atap gedung tersebut sembari


memakan camilan, ia pun berbaring menatap langit dan menunggu hal yang telah di


ramalkan oleh Mahaguru sebelumnya.


Usai menghabiskan camilannya Nagisa pun turun dan mencari tempat


kelahirannya Si Bencana, usai berkeliling rumah sakit, ia menemukan Si Bencana


berada dalam proses melahirkan, Nagisa pun merencanakan setelah bayi tersebut


lahir ia akan segera membunuhnya, begitulah perencanaannya, ia pun pergi ke


luar untuk membeli minuman.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[ Pra Pengulangan 1 ]


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Saat dia keluar dari minimarket ia di kejutkan dengan kemunculan


kakaknya duduk diam menunggu Nagisa melewatinya.


Nagisa pun tidak mempercayai bahwa itu kakaknya, Vilan pun berusaha


meyakinkan Nagisa bahwa dia benar-benar Vilan.


Nagisa pun mencoba mempercayainya.


“tapi mengapa kakak kembali”


“sebenarnya sih aku ragu mampukah kamu menyelamatkan dunia, tapi aku


akan mencoba percaya, begitulah tujuan pertamaku”


“pertama, lalu yang kedua” tanya Nagisa dengan kebingungan


“jangan bunuh bayi itu” ucap Vilan membujuk Nagisa


“tapi dia sumber bencana di masa depan.”


Angin pun bertiup kencang dan tempat sampah pun beterbangan dan


muncullah Sang Waktu sembari berkata “kamu akan menyesal jika membunuh bayi


itu”


“siapa dia ?” tanya Nagisa dengan terkejut


“oh dia salah satu dari para Sang, mungkin itu saja”


Vilan pun pergi mengikuti Sang Waktu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[ 10 juni 2003 ]


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Esok harinya


Nagisa kebingungan antara Membunuh tidaknya bayi tersebut ia pun memikirkan


maksud Sang Waktu bahwa aku akan menyesal karena membunuh si bencana, ia pun


menghubungi teman timnya dengan berkata


“kita hentikan


pencarian si bencana”


“memangnya kamu


sudah menemukannya”


“sudah kalian


bisa serahkan padaku” ucap Nagisa.


Dalam benak


Nagisa pun “jika aku benar-benar menyesal membunuh Si Bencana, dan membiarkan


dirinya hidup, dan menjadi bencana, itu akan menghancur siapa pun di masa


depan” kawan rohnya pun muncul sembari berkata


“mengapa tidak di


jadikan milikmu”


“betul juga, jika


dia memang akan menjadi bencananya dunia, mengapa tidak aku buat dia menjadi

__ADS_1


bencananya miliku, jika dia bisa aku kendalikan aku bisa mengubah arah


bencananya, terima kasih ya” ucap Nagisa bicara sendiri.


“tapi itu masalah


si bencana, bagaimana dengan kepunahan ke 3”


Ia pun memukulkan


kepalanya ke pohon akan stres berat.


Usai menjernihkan


pikiran Nagisa pun kembali ke alun-alun kota Jember, sesampai di sana ia pun


pergi ke belakang gedung untuk mencari keberadaan anak tersebut, setelah


berkeliling melewati beberapa gang namun tak menemukan keberadaan bayi tersebut.


Nagisa pun duduk


terdiam di atas teras rumah orang lain sembari menunggu kabar dari teman


rohnya, beberapa menit kemudian muncullah roh tersebut menyampaikan bayi itu


tidak terlahir di rumah sakit namun di rumah bidan, mendengar ucapan tersebut


Nagisa pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai di belakang rumah sakit


kota, ia pun pergi masuk ke dalam gang tersebut dan berjalan turun menuju


sungai.


Sesampai di


sungai tersebut Nagisa pun menggigit jari kelingkingnya dan meneteskan darahnya


“Keluarlah!” ucap Nagisa, jauh di seberang terlihat seorang lelaki sedang buang


air besar dengan jongkok, Nagisa Pun hanya meliriknya, Air pun mulai berbuah dan


mengguyur Nagisa, Nagisa pun tertelan Air tersebut dan lenyap, lelaki di


seberang terkejut melihat seorang gadis menghilang di telan air, ia pun


langsung berdiri, memakaikan celananya tanpa membilas pantatnya berlari menuju atas


dengan ketakutan, beberapa warga yang melihat lelaki tersebut tertawa terbahak-bahak,


melihat tingkah lelaki tersebut.


Sesampai di dunia


roh Nagisa memanggil Lapis, sembari menunggu Lapis nagisa mempersiapkan


beberapa bekal untuk perangnya.


“bagaimana caramu


menghentikan dia” ucap Lapis berjalan menghampiri Nagisa.


“akan ku cegah


dia sebelum dia keluar dari pulau tersebut” ucap Nagisa


“bukanya itu


pulang tidak bisa di masuki siapapun”


“karena itulah


aku meminta tolong padamu, sebagai roh air seharusnya kamu bisa menenangkan


para air.” Ucap Nagisa


“akan kucoba ada


hal lain”


bayi, kamu tidak perlu menjaganya, cukup awasi saja sebelum aku menghampirinya”


Ucap Nagisa.


“apa dia yang si


bencana” tanya Lapis


“baguslah kamu tahu”


“mengapa kamu


biarkan dia hidup”


“akan ku jadikan


dia menjadi miliku” ucap Nagisa


“jadi kapan kamu


berangkat” ucap Lapis


“sekarang,


antarkan aku” ucap Nagisa


Mereka berdua pun


pergi ke Yaman di tengah Samudra Hindia, sesampai di sana Nagisa terkejut


penampilan pulau tersebut sangatlah beda dari tempat yang pernah ia jamah,


perairan di sekitar pulau tersebut sangatlah curam, seakan pulau tersebut


tertutup dari dunia luar, langit-langit pun di tutupi oleh awan hitam dan pusaran


angin, suasana gersang menyelimuti pulau tersebut 1/3 flora tidak di temukan di


tempat lain selain di pulau tersebut.


“selamat menjelajah”


ucap Lapis.


“aku titipkan dia


ya” ucap Nagisa berjalan pergi ke dalam pulau tersebut


“benar-benar tempat


yang layak” ucap Nagisa


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[ 19 Juli 2003 ]


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sebulan Nagisa


sudah berjalan mencari keberadaan Dkah namun tak tertemukan, ia pun mulai


merasa ada sesuatu yang salah.


Demi mencegah


Nagisa pun kembali ke pesisir pantai dan menggigit jarinya lalu meneteskan


darahnya ke air laut tersebut, namun air tak bereaksi apapun, ia pun mulai


menyadari telah melupakan sesuatu.

__ADS_1


“sialan, apa aku


yang terlambat atau dia yang mendahuluiku” ucap Nagisa.


Ia pun menyesali


akan kesalahannya dan berteriak entah kemana, sembari meminta maaf ke kakaknya


bahwa ia gagal.


Jauh di atas


lebih tepatnya di Altarisk para sang sedang menatap kondisi Nagisa


“yakin ini maumu”


ucap Sang Takdir. Bertanya ke Sang Pembeda.


“hanya ini yang


menurutku jauh lebih baik dari 3 pilihan itu” ucap Vilan


(Sebelumnya)


sang


penentu dengan wujud manusia membawa 3 bola berwarna dan meminta sang takdir


dan Sang Pembeda untuk memilih salah satu dari ke


tiga bola di antaranya bola biru, hijau, dan merah, sang takdir mulai terlihat


di tengah kegelapan sinaran ia pun berubah wujud menjadi manusia “aku pilih


ini” ucap Sang Pembedajuga melakukan hal yang sama,


sinar terang mulai berubah wujud menjadi manusia “aku jauh lebih memilih warna


hijau” tersisa warna merah, sang penentu pun melempar dan bola tersebut pecah


dan menunjukkan hal mengerikan yang akan terjadi kepada Alam Fana, sang penentu


pun meminta sang takdir untuk memecahkan bola berwarna biru yang di pilih olehnya,


dan cahaya terang keluar dari pecahan tersebut menunjukkan terlahirnya titisan


dari surga, sang penentu meminta vilan untuk memecahkan bola hijau yang di


pilih olehnya, dan muncullah suratan yang akan memperbaiki sekaligus menghancur


Donya “ini semua garis awal dari siklus baru” sang penentu pun pergi


meninggalkan vilan dan sang takdir.


(Setelahnya)


Usai undian


tersebut terlihat Vilan kebingungan menerjemahkan suratan takdir tersebut, Sang


Takdir pun membantu membacakannya, ia berkata


“terdapat


5 kesempatan untuk mengulangi kesalahan dan perbaikan, gunakanlah dengan


sesalah mungkin dan sebenar mungkin, begitulah... jadi.. apa pilihanmu


sekarang” tanya Sang Takdir ke Sang Pembeda.


Vilan pun


makin bingung apa yang di maksud dengan pilihan.


Sang


Waktu pun datang dengan wujud Manusianya dan berkata


“biar ku


bantu, yang pertama kamu mendapat 3 kesempatan tuk berbuat salah sekaligus


benar, yang kedua kamu mendapat 1 kesempatan tuk memperbaiki kesalahan agar


menjadi kesalahan lebih lanjut, yang ke tiga kamu mempunyai 1 kesempatan tuk


membenarkan kesalahanmu agar menjadi kebenaranmu, tapi itu sudah pasti kesalahan.”


“tunggu-tunggu,


aku tidak paham, mengapa tidak ada yang bagus dari semua pilihan tersebut”


tanya Vilan


“karena


semua yang benar adalah salah, dan yang salah pasti salah, jika kamu


membenarkan kesalahan pasti akan menjadi kesalahan, dan jika kamu menyalahkan


kesalahan juga akan menjadi kesalahan, bahkan jika kamu menyalahkan kebenaran


itu adalah kesalahan” ucap Sang Takdir


 


“beri aku


waktu untuk berpikir” ucap Vilan


“waktu


tidaklah banyak” ucap Sang Takdir


“baiklah


aku pilih yang pertama”


“apa


rencanamu” ucap Sang Takdir


“biarkan


dunia hancur, buat adikku melakukan kesalahan” ucap Sang Pembeda


“yakin ini maumu”


ucap Sang Takdir. Bertanya ke Sang Pembeda.


“hanya ini yang


menurutku jauh lebih baik dari 3 pilihan itu” ucap Vilan


“Selamat satu dari


3 kesempatan telah terpakai” ucap Sang Waktu memunculkan jam raksasa di


belakangnya dengan beberapa jam kecil dan jatuhnya beberapa butir planet dan lempengan


ALAM.


“Pengulangan akan


segera terjadi” ucap Sang Waktu


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


[Selanjutnya Eps 49 : Pra N Pasca WWA 3 ]


(Dkah pun muncul dan pengulangan akan terjadi)

__ADS_1


Bersambung


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2