Suami Hantuku

Suami Hantuku
Jangan Berterimakasih Saja!


__ADS_3

"Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa dia ikut campur urusan kami?" Benak Ya Ran terus saja bertanya, gadis itu butuh penjelasan siapa dan apa yang menjadi alasan pria itu membantu keluarganya.


"Sudah kukatakan, enyahlah!" Pria itu menendang pria yang tadi menangkap Song Ya Ran. Pria itu kini tersungkur dengan patah tulang.


Melihat bahwa salah satu teman mereka terjatuh, membuat preman yang lainnya berusaha menerjang sosok pahlawan atau orang yang ikut campur urusan mereka.


"Kau siapa? Beraninya mengusik kami?" gertak salah satu preman dengan gigi renggang serta membawa sebilah pisau yang diarahkan ke pria yang baru saja memukul temannya.


"Aku tidak ada waktu meladeni kalian, jika kalian butuh uang dari hutang itu, silakan kalian datang ke kantorku besok. Dan tunggulah pengacaraku menyelesaikan semua ini." Pria itu mampu menangkis serangan preman tersebut kini telah bisa dilumpuhkan.


Sosok pria tadi mengeluarkan sebuah kartu nama yang berisikan informasi nama sebuah perusahaan bidang pemodalan dana atau investasi.


"Kau yakin dengan janjimu, Tuan?" tegur pria yang tangannya telah terkunci oleh sosok pahlawan tersebut.


"Tentu saja, uang yang akan berbicara!" jawab Pria itu dengan gaya bicara santainya.


Begitu sang pria yang sudah membantu itu menghubungi pengacaranya, gerombolan preman tersebut membubarkan diri dengan janji akan mendapatkan sejumlah nominal dari hutang keluarga Song beserta besar bunganya.


"Anda siapa? Kenapa membantu kami?" tanya Ayah Ya Ran pada pria yang telah memberikan bantuan untuk keluarganya.


Jika ayah Ya Ran lihat dari sorot wajahnya yang cukup teguh dan terkesan bijaksana, Ayah Song percaya jika pria itu tak memiliki niat buruk untuk keluarganya.


Sedangkan Ya Ran? Gadis itu membantu ibunya yang sejak tadi menggigil ketakutan. Begitu sang ibu sudah lebih tenang, barulah Ya Ran mengikuti ayahnya untuk menegur serta berterimakasih.

__ADS_1


"Tunggu, Tuan!" Song Ya Ran menahan kepergian pria yang ia panggil dengan sebutan Tuan itu. Setidaknya, Ya Ran harus mengucapkan beribu terimakasih untuknya.


Si pria berbalik arah dan menatap Ya Ran dengan intens dari ujung rambut hingga kepala. "Kau masih sama,"


"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terimalah. Jika boleh tahu, Anda siapa?" Ya Ran berjalan lebih dekat hingga mampu melihat dengan jelas wajah pria yang telah menolongnya.


"Hanya terimakasih saja?"


"Heh?" Song Ya Ran tertegun sejenak. Memang benar apa yang dipertanyakan oleh pria itu. Apakah hanya ucapan terimakasih saja karena besarnya hutang ayah.


"Lalu Anda ingin kami seperti bagaimana? Jangan katakan jika Anda ingin menjual saya seperti kata mereka tadi?" Kembali Ya Ran mengingat ancaman para preman yang ingin menjualnya ke rumah hiburan untuk memenuhi has rat lelaki hidung be lang.


Pria itu menelan ludahnya hingga tak bisa lagi bicara untuk menjawab pertanyaan Ya Ran. Barulah ketika pria itu mampu menguasai suasana, dia menjawabnya, "Apa tampanku terlihat buruk hingga membuatmu beranggapan aku ini ger mo?"


Tak salah jika pria itu marah, baru saja ia menolong Ya Ran dan gadis itu menyebutnya sebagai orang yang memiliki profesi jauh di bawahnya.


"Bagaimana caramu membalasnya?" tanya pria itu dengan tatapan tajam.


"Tuan, kami tidak memiliki apa-apa. Usaha kami hanya kedai ayam goreng saja. Dan hanya dialah satu-satunya harta yang kami punya," jawab Ayah Ya Ran dengan tatapan mengarah ke gadis manis itu.


"Kalau begitu, bayarlah bantuanku dengan harta satu-satunya itu."


"Orang ini ternyata lintah darat, bagaimana bisa meminta aku yang menebusnya." Ya Ran tampak kurang suka dengan ide yang ia rasa buruk itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan berkerja denganmu selama 1 atau 2 tahun tanpa digaji." Pada akhirnya, Ya Ran harus meruntuhkan egonya demi membayar hutang orangtuanya.


Dari kehidupan terdahulu hingga kini, kenapa masalah ekonomi selalu memeluk Ya Ran dengan erat. Dan bahkan dalam kehidupan ini pula, ia harus kembali berurusan dengan pria di kehidupan dahulunya.


"Benarkah? Kau sendiri yang berjanji padaku." Pria itu kembali mengeluarkan kartu namanya untuk Song Ya Ran. Agar gadis itu bisa menemuinya untuk membayar hutang-hutangnya.


"Lin Bai Qin?" tanya Ya Ran begitu ia membaca informasi pemilik Xuedong Investment dari Grup Lin.


"Ada yang salah?"


"Lin Peng Xuan? Keluarga Lin? Ah mungkin hanya marga saja yang sama." Song Ya Ran segera menyimpan kartu tersebut.


"Tidak, secepatnya aku akan menemuimu lagi," ujar Ya Ran dengan kedua mata tidak lepas dari kartu nama itu. Gadis itu terus saja menatap benda berwarna putih itu dan bertanya-tanya dalam hatinya.


Hingga tanpa sadar, Bai Qin telah pergi meninggalkannya. Barulah ketika ayah Song mengajaknya masuk ke rumah, Ya Ran tersadar.


"Ke mana dia? Dia datang dan pergi begitu saja bagai hantu." tukas Ya Ran dengan ketus.


"Haiya ... jangan seperti itu, Ran er! dia sudah membantu kita."


...****...


Preview next eps

__ADS_1




__ADS_2