
Jiwa Ya Ran seperti dikuasai oleh makhluk legendaris tersebut. Bahkan kini, Ya Ran kehilangan kesadaran atas dirinya. Kekuatan super dahsyat itu membuatnya lebih gesit menyerang Li Tei. Hingga membuat Dewa Li Tei terpojok tidak berdaya. Ya Ran yang berambisi membunuhnya, tidak pandang bulu. Bahkan Ya Ran tidak bisa membedakan mana lawan dan mana kawan. Di dalam hatinya hanya ada naluri membunuh.
Aura mematikan itu berlangsung terus menerus, Li Tei yang telah kehilangan banyak tenaga, kini berniat segera menuntaskan perkelahiannya dengan salah satu keturunan Suku Phoenix api tersebut.
Li Tei mengerahkan semua kemampuan tenaga dalam serta ilmu pedangnya. Dewa tua itu mengarahkan pedangnya ke arah Ya Ran. Namun, dengan mudah dipatahkan serangannya yang oleh Song Ya Ran.
"Kau ini Iblis!" umpat Li Tei.
Namun, Ya Ran sama sekali tidak mendengarkan ucapan Li Tei. Di dalam tubuhnya kini ada sebuah kekuatan untuk membunuh lawan saja.
Song Ya Ran tidak boleh dibiarkan begitu saja, rohnya bisa dikuasai sepenuhnya oleh makhluk legendaris tersebut. Dan Phoenix itu bisa menyerap semua roh Dewi Ya Ran hingga mengambil alih kuasa atas tubuh Song Ya Ran.
Bukan hanya kekuatan Ya Ran saja yang bertambah, Dewi itu kini telah menjelma menjadi sosok mengerikan. Kedua pundaknya kini tumbuh sayap indah yang menyala-nyala seperti kobaran api. Jika dibiarkan begitu saja, Song Ya Ran berada dalam bahaya.
Tidak berselang lama, tubuh Ya Ran seperti bergetar hebat. Ya Ran menutup kedua matanya dan mendengar ada sebuah panggilan dari lelaki yang cukup dia kenal.
"Ran er, bangunlah!"
Melihat Ya Ran kini tidak fokus lagi dengan perkelahiannya, Li Tei berniat menghabisi nyawa Ya Ran dengan mengarahkan kekuatannya ke arah Song Ya Ran.
Tetapi, usaha Li Tei sia-sia. Sebuah tenaga yang cukup kuat menangkis serangan Li Tei hingga membuat tubuh Ya Ran terpental. Song Ya Ran yang kehilangan keseimbangan bisa terjatuh dari udara. Namun, sosok pelindung itu dengan sigap menangkapnya.
"Yang Mulia Kaisar?" seru Para prajurit yang kebetulan berada di dekat pertempuran antara Ya Ran dan Li Tei.
"Oh, kau membantunya? Apa karena kalian satu suku? Ataukah dia putrimu?" sindir Li Tei dengan sinis.
"Aku tidak perlu mendengarkan pemberontak sepertimu! renungkan semua dosa-dosamu, Li Tei!" Yang Mulia Kaisar menyerang Li Tei dengan kemampuan tenaganya.
Kedua Dewa tingkat tinggi itu saling mengarahkan serangan hingga menyilaukan mata. Song Ya Ran sendiri yang kini berada di dekat Kaisar sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarannya. Dia teringat bahwa harus membalaskan dendam ayah serta Dewa lain yang gugur akibat ulah Li Tei.
Hingga membuat Ya Ran mencabut Renjie dari selongsongnya dan menghempaskan tangan Yang Mulia Kaisar sehingga Ya Ran bisa menerjang Li Tei.
Dewa Li Tei yang merasa terkepung, tidak mampu berbuat apa-apa. Kaisar terus menekannya dan kini Ya Ran juga tidak mau kalah dengan menghunuskan Renjie ke arahnya.
Rupanya, Dewa Li Tei masih memiliki senjata rahasia. Dia mulai merapal mantera terlarang. Siapapun yang menjadi sasaran mantera itu akan berakhir mengenaskan. Bahkan Dewa sekalipun. Dewa tidak bisa ber-reinkarnasi karena roh Dewanya akan lenyap dengan mudah.
__ADS_1
Kaisar menyadari apa yang dilakukan oleh Li Tei kemudian berteriak kepada Ya Ran, "Ran er, awas!"
Song Ya Ran tersentak dengan teriakan Kaisar. Ya Ran menyadari jika ada yang tidak beres dengan musuhnya. Li Tei hanya memiliki satu kesempatan ini saja. Karena tenaga dalamnya telah terkuras habis menghadapi Ya Ran. Sehingga Li Tei hanya bisa menggunakan mantera terlarang ini saja dengan sisa-sisa tenaganya.
Menjadi target dan sasaran Li Tei, Ya Ran merasa terancam. Dia tidak mungkin bisa mengandalkan siapapun. Sehingga Ya Ran mulai bisa berserah. "Aku rela jika gugur di medan perang ini, jika nyawaku harus diambil. Aku rela bisa melindungi alam Dewa ini. Yang Mulia, kuserahkan semuanya padamu."
Renjie yang berada digenggaman Ya Ran bercahaya, sepertinya roh pedang itu mulai bereaksi dengan tuan barunya. Seperti hendak bergerak sendiri, tangan Ya Ran seperti dituntun roh dalam tubuh Renjie untuk menangkis serangan mantera Li Tei.
Selain itu, Yang Mulia Kaisar tidak akan diam saja. Kaisar membantu Song Ya Ran dari belakang. Dewa tertinggi itu juga mengerahkan kekuatan Phoenix apinya untuk melindungi Ya Ran.
"Sebagai keturunan Phoenix api terakhir, kau harus hidup Ran er!" ucap Yang Mulia Kaisar.
Serangan mantera Li Tei seperti memantul begitu saja ketika mengenai Renjie dan juga tenaga Yang Mulia Kaisar. Mantera itu berbalik menyerang Li Tei sendiri. Semua itu karena keteguhan hati Ya Ran dan dibantu oleh Renjie dan juga Yang Mulia Kaisar.
Syukurlah Ya Ran bisa terselamatkan. Tubuhnya lemas lunglai hingga berlutut menyentuh tanah. Kaisar segera mendatangi Ya Ran dan membantunya berdiri. Sedangkan Li Tei, Dewa itu musnah begitu saja menjadi partikel atom dan menyatu dengan udara alam Dewa ini.
"Siapa aku, Yang Mulia?" Ya Ran mulai bertanya mengenai silsilah klannya.
"Ceritanya panjang, Ran er!" Kaisar meyakinkan Song Ya Ran bahwa dia akan baik-baik. Karena selama ini semua telah melindunginya.
Song Ya Ran kembali teringat dengan Bai Qin, "Bagaimana dia bisa bertarung tanpa ini?" Ya Ran mengayunkan Renjie. Lalu Dewa keturunan Phoenix api itu menuju ke tempat Bai Qin yang sedang bertarung habis-habisan dengan Raja Azura.
**
Ya Ran menguatkan dirinya melesat ke arah Bai Qin dan melemparkan Renjie ke pemilik aslinya. "Bai Qin ... tangkap!"
"Wanita itu minta diajari sopan santun, bagaimana bisa menyebut suaminya dengan begitu mudah?"
Mo Lan juga tengah terluka parah, dan dia akan melindungi Ya Ran dari serangan pasukan Iblis karena Ya Ran tidak membawa senjata.
"Kakak Ipar tidak boleh ke sana!" cegah Mo Lan melarang Ya Ran memasuki medan pertempuran dua Dewa itu.
"Aku bisa menyembuhkan lukanya, aku akan membantunya."
"Tidak, Ya Ran. Berhenti! aku akan membereskan kekacauan ini." Kaisar juga melarang Ya Ran memasuki medan pertempuran.
__ADS_1
"Tapi, Yang Mulia? Bagaimana dengan Dewa Agung?"
"Aku tahu kau begitu mengkhawatirkan dia, tetapi kau juga harus memikirkan dirimu. Dewa Agung Bai Qin akan baik-baik saja."
Kaisar melarang Ya Ran dan dirinyalah yang akan membantu Bai Qin menyelesaikan perang ini agar segera berakhir.
**
Dengan bantuan Renjie dan tenaga dalamnya telah kembali penuh seperti sebelumnya, Bai Qin membuat formasi segel untuk mengekang Raja Azura. Bai Qin akan mengurung Azura dengan pedang dan tenaga dalamnya.
Formasi yang dibuatnya menyerupai gugusan garis yang melintang hingga membuat sebuah lobang besar di udara. Seekor Naga legendaris keluar dari formasi itu, dengan naga itulah Bai Qin akan menarik Azura ke dalam pusara.
Raja Iblis Azura memberontak, untung saja ada Kaisar Langit. Yang Mulia Kaisar mendorong Azura ke arah lubang hitam tersebut dengan dibantu oleh Naga Bai Qin.
"Kurang ajar!" umpat Azura karena Kaisar terus mendorongnya.
Dengan tangannya yang tertinggal, Azura mengayunkan bilah Iblisnya ke dada Kaisar Langit hingga membuat Kaisar terluka parah.
Bilah beracun itu menembus jantung Kaisar hingga Pemimpin Kerajaan Langit itu tersungkur ke tanah. Bai Qin yang menyadari hal itu setempat goyah. Untung saja, Ya Ran terbang dan mendekati Yang Mulia Kaisar. Tubuh bersimbah darah itu kini tak bergerak.
Ya Ran segera melakukan hal yang tadi dilakukan oleh kaisar ke Azura seusai membantu menutup kedua mata Kaisar.
Meski sedang berduka, Ya Ran harus terus berjuang memenangkan perang ini. Dirinya mengeluarkan roh Phoenix api nya kembali dan mendorong Azura ke arah lubang itu.
Tidak hanya Ya Ran saja, seluruh pasukan yang tersisa juga melakukan hal yang sama karena merasa sakit hati pemimpin mereka terbunuh di tangan Azura.
Semua pasukan Langit membantu Bai Qin memasukkan Raja Azura ke lubang formasi. Sang Naga Suci pun berhasil menarik Azura masuk mengikutinya. Hingga perang pun berakhir setelah kematian Azura.
Para pasukan Iblis yang tersisa ditangkap dan harus tunduk di bawah Kerajaan Langit kembali.
Ada rasa lega dan duka di Lembah Kunlun ini. Lega karena mereka berhasil memenangkan perang dan duka karena kehilangan pemimpin Langit.
"Yang Mulia belum sempat menceritakan asal-usulku." tangis Ya Ran pecah di depan jasad Kaisar Langit.
"Selamat tinggal, Yang Mulia. Semoga tenang Baginda." Seluruh pasukan berlutut di depan jasad Baginda Kaisar begitu pun Bai Qin.
__ADS_1
Dua orang yang Ya Ran kenal gugur di medan perang. Dan semua ini karena keserakahan dan kedengkian saja.
...****************...