Suami Hantuku

Suami Hantuku
Jangan Sedih!


__ADS_3

Mo Lan menyadari ada yang tidak beres dengan hubungan kakak angkatnya. Tidak seperti sebelum keduanya dijatuhi hukuman turun ke alam manusia, Bai Qin dan Ya Ran sungguh tak semesra dulu. Terlebih lagi, Mo Lan melihat seperti apa pandangan mata Ya Ran pada kakaknya. "Apa penderitaan membuat kakak ipar sangat dingin kepada kakak?"


Sehingga, Mo Lan mengejar Bai Qin dan berbisik di telinga kakaknya, "Tunggu! Kalian baik-baik saja, bukan?"


"Bukankah kakak berencana menyembunyikan keberadaan kakak ipar?" imbuh Mo Lan dengan penuh tanda tanya.


Bai Qin kesal pada saudara angkatnya, "Apa kau kini sudah menjadi Dewa Gosip, Mo Lan? Apa kau sudah mengerjakan tugas dariku?"


"Sudah, Yang Mulia. Kenapa kau tak jujur saja padaku, Kak?"


Bai Qin berkata, "Cepat atau lambat, keberadaan Ya Ran akan diketahui oleh Dewa lain, aku tidak mungkin bisa terus menyembunyikan Ya Ran di alam manusia, lagi pula di mana ada aku akan ada Ya Ran pada masa mendatang." Dengan penuh percaya diri, Bai Qin menyombongkan dirinya jika ia dan Ya Ran masih baik-baik saja.


"Oh ... " Mo Lan manggut-manggut meski kurang paham dengan penjelasan Bai Qin. Hingga kakak angkatnya mengusir Mo Lan dari Xuedong.


"Cepat pergi! kau bisa menggangu waktuku dan Ya Ran,"


Mo Lan pergi dengan kesal karena Bai Qin telah mengusirnya. Padahal di Xuedong lah Mo Lan bisa bersantai sambil minum arak ataupun teh yang disajikan oleh Peri Istana Xuedong. Sebagai adik angkat dari penguasa Xuedong, Mo Lan sangat dihargai di kediaman Dewa Agung tersebut.


**


"Tunggu, Ya Ran! kau mau ke mana?" Bai Qin menegur Ya Ran ketika melihat kekasih hatinya keluar dari aula utama Xuedong dengan tergesa-gesa.


Ya Ran menoleh ke arah Bai Qin. Ia lupa jika masih berada di Istana Xuedong miliki Bai Qin. Secara tidak langsung, Ya Ran harus patuh dengan pemilik Istana.


Sebelum pergi, Ya Ran berkata, "Aku ingin mengunjungi makam ayahku."


Bai Qin paham jika kepulangan ini sangat menyakitkan bagi Ya Ran. Peri di Istana Xuedong pasti telah mengatakannya pada Ya Ran. Ayah Ya Ran yakni Dewa Pertanian baru saja wafat sekitar 100 tahun. Karena masih berada di alam manusia, Ya Ran tidak mengetahui hal tersebut.


"Ran er, tunggu dulu. Aku tahu kau pasti kecewa."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak kecewa. Aku hanya merasa seperti anak yang durhaka saja karena tidak bisa melindungi orangtuaku." Tanpa terasa mata Ya Ran berkaca-kaca. Hidungnya mulai sembab karena tangisnya.


Bai Qin meraih tubuh ramping berbalut pakaian Dewa seraya menenangkan Ya Ran, "Menangislah! keluarkan semuanya." Kemudian memeluknya.


Song Ya Ran menangis sejadi-jadinya di pelukan Bai Qin. Ia bersumpah akan menuntut balas kepada orang yang berani mengusik keluarganya. Kini, posisi ayah serta dirinya telah digantikan oleh orang lain yang Ya Ran terka masih bersekongkol dengan orang yang tega membuangnya ke dunia manusia.


"Aku akan mengembalikan seperti sediakala, aku bersumpah, Ya Ran." Bai Qin menenggelamkan kepala Ya Ran ke dada bidangnya agar wanita itu bisa berlindung di bawah naungannya.


"Yang Mulia mau menemani aku?"


"Tentu saja,"


Bai Qin bersedia menemani ke manapun Ya Ran inginkan. Seperti mengunjungi persemayaman ayah Ya Ran di Taman Amertha. Bai Qin juga telah gagal melindungi ayah Ya Ran, karena Bai Qin juga menjalani hukumannya di dunia.


Berulang kali Ya Ran bersujud di depan pusara sang ayah. Begitu pula Bai Qin. Keduanya benar-benar patah hati hingga tidak mampu berkata apa-apa. Baik Ya Ran maupun Bai Qin dalam suasana hati yang buruk.


Begitu Ya Ran telah meluapkan semua kesedihannya, Bai Qin mengajak Ya Ran kembali ke Xuedong. Namun, Ya Ran menolaknya, "Aku ingin kembali ke alam manusia. Di alam Surgawi ini tidak cocok denganku."


Song Ya Ran menatap teman lamanya Lu Ming dan berlari ke arahnya. Tentu saja karena Ya Ran merindukan teman baiknya itu.


"Aku mendengar dari peri yang bergosip, mereka membicarakan kepulanganmu, Ran Jie."


Ya Ran menepuk pundak Lu Ming seperti biasanya. Karena keduanya memiliki umur hanya selisih puluhan tahun saja, membuat Ya Ran tidak sungkan memperlakukan Lu Ming selayaknya teman Ya Ran sendiri. "Kau sudah tumbuh besar, Xiao Ming."


Tak hanya menyambut Ya Ran, Lu Ming juga hormat kepada Bai Qin selaku Dewa yang lebih tinggi posisinya. "Salam, Yang Mulia."


"Bangunlah, teman Ya Ran adalah temanku juga." ucap Bai Qin dengan penuh bijaksana.


"Jie, aku mengumpulkan bubuk Langit. Mampirlah ke tempatku!" Lu Ming begitu bahagia dengan kembalinya Ya Ran. Hingga tanpa rasa bersalah pada Bai Qin berniat membawa Ya Ran ke tempatnya.

__ADS_1


Buru-buru Bai Qin menutup akses penglihatan Lu Ming pada Ya Ran dengan berseru, "Dewi akan pulang ke Xuedong!"


Ya Ran bertanya-tanya dalam hatinya, "Kenapa pria ini begitu aneh? Bahkan itu bermula ketika aku tiba di Istana Langit."


"Jika begitu, mampir saja. Aku memiliki semangka manis kesukaan jiejie."


"Tidak perlu! kita akan segera kembali ke Xuedong," sahut Bai Qin dengan nada tinggi.


**


"Yang Mulia, kenapa kau terus seperti ini?" keluh Ya Ran pada Bai Qin dalam perjalan pulangnya seusai mengunjunginya pusara sang ayah. Padahal dirinya tidak melakukan kesalahan sama sekali. Salahkah Ya Ran jika menerima hadiah dari Lu Ming? Bukankah Lu Ming adalah teman Ya Ran?


Namun, tidak dengan Bai Qin. Pria itu keberatan jika Ya Ran dekat dengan lelaki manapun termasuk Lu Ming ataupun Mo Lan sekalipun.


"Mo Lan, Lu Ming lalu siapa lagi? Apa kau akan terus mau didekati oleh mereka? Ingatlah statusmu kini."


"Status? Status apa? Aku hanya makhluk fana di dunia bawah saja!" Ya Ran menunjuk ke bawah langit yang menunjukkan tempat dunia manusia.


Bai Qin kesal karena Ya Ran terus saja membahas alam manusia. "Kenapa? Apa kau keberatan pindah ke sini karena tak bisa melupakan alam manusia?"


"Yang Mulia, aku masih memiliki tanggungjawab di sana. Taukah kamu aku memiliki orangtua dan juga teman?"


"Dan juga Peng Xuan? Apa kau masih mengingatnya?"


Song Ya Ran gelap mata, dia tidak bisa mempercayainya Bai Qin yang kembali menuduhnya tidak bisa melupakan Peng Xuan. Bahkan mempercayai dirinya saja tidak.


"Apa aku seperti itu di matamu, Yang Mulia?" Song Ya Ran menahan semua emisinya. Dia tidak mungkin akan membukanya di tempat umum. Meski Ya Ran begitu ingin menampar Bai Qin dan memakinya.


"Aku akan percaya jika kau mau tinggal di Xuedong bersamaku," Bai Qin membawa Ya Ran kembali ke Istana Xuedong dan berniat mengurung Ya Ran kembali dengan mantra pengunci seperti beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2