Suami Hantuku

Suami Hantuku
Sayangku


__ADS_3

Anggota keluarga Lin dan dua wanita yang menemani Tuan muda mereka berkumpul di sebuah perjamuan makan malam untuk merayakan ulangtahun ke tujuh puluh dua Nyonya Lin.


Tak terlintas sama sekali di benak Ya Ran jika ia bisa satu meja kembali dengan Peng Xuan. Terlebih lagi kini status ia dan Peng Xuan benar berbeda dan tak kan ada lagi kesempatan untuk bersama.


Peng Xuan terus saja menatap Ya Ran, bahkan ia tanpa sungkan sama sekali dengan neneknya. Tak ayal, hal tersebut membuat Wen Rong, wanita yang mengandung benih Peng Xuan kesal.


Wen Rong menggenggam tangan kiri Peng Xuan di atas meja makan dengan mesranya hanya untuk menegaskan statusnya kini, "Lǎogōng .. aku ingin ikan kakap putihnya," pinta Wen Rong dengan nada manja kepada sang suami hasil menikam Ya Ran.


"Sial sekali, kenapa aku harus terjebak dalam kenyataan konyol seperti ini." tukas Peng Xuan dalam benaknya. Ia kesal, sekesal-kesalnya karena tak bisa melakukan apa-apa untuk meyakinkan Ya Ran.


"Xiao Xuan ... istrimu meminta ikan kakap," Kembali Nyonya Lin mengingatkan sang tuan muda Lin.


Namun, siapa sangka Ya Ran tidak terpengaruh sama sekali dengan pandangan menelisik di depannya. Bahkan Ya Ran terus bersikap seperti orang asing seperti seharusnya.


"Qin er, aku tidak menyangka jika hubungan di antara kalian semakin dekat." puji Nyonya Lin dengan pandangan mata terus saja menatap ke arah Ya Ran dengan tajamnya.


Hubungan yang ia maksud adalah kehadiran Bai Qin bersama Ya Ran. Meski hanya meminta Ya Ran hadir pada malam itu, Nyonya Lin tidak menyangka jika gadis manis itu akan menuruti kemauannya meski juga harus mendengarkan ancaman dari Bai Qin tentunya.


"Hubungan?" tanya Peng Xuan menelisik, bahkan pemuda itu langsung menepis tangan Wen Rong begitu saja seusai neneknya memuji paman kecilnya itu.


"Tentu saja, kau tidak tahu jika paman kecilmu itu telah tinggal bersama dengan kekasihnya."


"Kekasih?" Peng Xuan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


Uhuk ... Ya Ran tersedak, secuil makanan sungguh susah sekali untuk ditelannya. Bahkan gadis itu harus menepuk dadanya agar terbebas dari hal konyol tersebut.


"Kau tidak apa-apa?"


"Kau tidak apa-apa?"


Dua pria mengulurkan segelas air dan mengkhawatirkan Ya Ran. Hingga membuat gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan menatap dua pria yang terus melihat ke arahnya.

__ADS_1


Bingung, Ya Ran tidak tahu harus melakukan apa. Gadis itu segera meraih gelas di depannya dan meneguk habis air di dalamnya. Ya Ran sungguh dilema jika harus menerima bantuan salah satu di antaranya.


Kemudian, pasangan Bai Qin itu beranjak berdiri dan pamit ke kamar kecil dan berkata, "Aku hanya sebentar." ucapnya pelan sebelum pergi ke tempat yang ia kehendaki.


**


Di dalam kamar mandi vila keluaga Lin, Ya Ran menatap cermin yang sedari tadi memantulkan gambaran dirinya. Dalam benda datar itu, Ya Ran bisa melihat seperti apa rupanya kini. "Cukup memalukan," tukasnya merasa dirinya sungguh bodoh tidak memikirkan sama sekali jika Lin Peng Xuan adalah salah satu anggota keluarga Lin.


"Apa yang terjadi? Apa ini yang kau inginkan, Ran er?" tegur Peng Xuan ketika Ya Ran keluar dari kamar mandi.


Peng Xuan sengaja menunggu Ya Ran muncul, terlebih lagi gadis itu sendirian tanpa ada yang menemaninya. Tak sampai di situ saja, Peng Xuan juga mencengkeram tangan Ya Ran.


"Lepaskan, Xuan! kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."


"Tidak, Ya Ran ... aku mencintaimu. Dan terus akan selalu mencintaimu."


"Tidak bisa, kini kau seorang suami yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tolong mengertilah, Xuan." Ya Ran memelankan suaranya seperti sedang memohon agar Peng Xuan memahami dirinya.


"Bicara apa kau ini? Aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan dia."


**


Jika Ya Ran dan Peng Xuan sedang bersitegang dengan saling melemparkan asumsi mereka, maka Bai Qin juga tak kalah gusar. Pria itu juga beranjak dari ruangan perjamuan makan untuk menyusul Ya Ran yang ia nilai sudah terlalu lama di kamar mandi.


Sebagai seorang Dewa Langit, tentu saja Bai Qin mampu mengetahui apa yang telah terjadi di depan kamar mandi.


"Teruskan saja, lalukan tugasmu Xiao Ran. Dan kau akan berlari ke arahku." Pria itu cukup percaya didi jika Ya Ran tidak akan pernah mengubah keputusannya.


Tepat di saat kedatangan Bai Qin terlihat oleh kedua mata Ya Ran. Gadis itu berteriak memanggil pria itu dengan lantangnya. "Sayang ... maaf membuatmu menunggu lama." Tak lupa, Ya Ran melambaikan tangannya ke arah paman Peng Xuan tersebut.


Tersenyum, tentu saja. Bai Qin mengulas senyumnya demi Ya Ran. Tak hanya itu saja, Lin Bai Qin yang dikenal cuek oleh Peng Xuan kini menggenggam tangan Ya Ran begitu gadis itu berada di dekatnya.

__ADS_1


Ya Ran pergi meninggalkan Peng Xuan seperti yang dikehendaki oleh Bai Qin. Kini yang tersisa hanya Peng Xuan dengan segala penyesalannya. Ia menyesal karena gagal mempertahankan Ya Ran di sisinya.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan hal seperti itu karena .... " ucap Ya Ran dengan pelan setelah ia merasa cukup jauh dari Peng Xuan.


"Karena apa? Karena kau masih menyukainya?" tebak Bai Qin spontan.


"Bicara apa? Aku tak memiliki perasan lagi dengannya. Namun, kenapa Anda bisa menebaknya, Tuan?"


"Tentu saja aku tahu, semua yang ada di dalam otak kecilmu aku bisa mengetahuinya."


"Dasar pria menyebalkan!" keluh Ya Ran di dalam hati karena ia sangat tidak berani melawan pria yang telah membantu keluarganya terlepas dari jeratan hutang.


Namun, siapa sangka Peng Xuan terus mengikuti keduanya sebelum Bai Qin dan Ya Ran tiba di ruang perjamuan.


"Ya Ran ... Song Ya Ran!" Peng Xuan dengan tegas memanggil wanita yang ia cintai itu.


Ya Ran menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Bai Qin juga, "Tuan Lin, Tidak ... Lin Bai Qin, bisakah kau menolongku sekali ini saja?" pinta Song Ya Ran.


"Heh?" tanya Bai Qin.


"Hanya satu menit saja, tidak-tidak cukup tiga puluh detik saja ... " Belum sempat Ya Ran menjelaskan permintaannya, gadis itu segera menarik pundak kokoh Bai Qin kemudian Ya Ran mulai berjinjit hingga bisa mendekati wajah tampan khas oriental Bai Qin.


Ya Ran menarik dasi yang menghiasi kerah kemejanya Bai Qin dan mendekatkan bibir merah meronanya lalu mendaratkan bibir itu tepat di bibir Bai Qin.


Ide gila itu tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Ya Ran. Bahkan tanpa berpikir panjang, ia mencium pria yang kini merupakan majikannya. "Bagaimanapun jika dia marah padaku? Aduh, bagaimana caranya aku menjelaskan padanya?"


...****...



__ADS_1



__ADS_2