Suami Hantuku

Suami Hantuku
Kita


__ADS_3

Seperti kesepakatan yang telah disetujui oleh kedua belah pihak, Song Ya Ran sebagai pihak yang menerima bantuan harus menerima permintaan kerjasama dari Lin Bai Qin.


Tugas Ya Ran adalah membersihkan rumah Bai Qin setiap harinya. Dan dari upah beres-beres itulah, hutang keluarga Song akan dianggap lunas oleh Bai Qin.


"Lalu apa bedanya dia dari rentenir itu? Menyebalkan sekali!" keluh Ya Ran ketika gadis itu keluar dari perusahaan investasi milik Bai Qin.


**


Bagaimana dengan Bai Qin? Kenapa pria dewasa itu sibuk menangkap kakap yang telah masuk ke dalam jebakannya? Jika dilihat dari kekuasaan serta kesibukannya sebagai pebisnis muda, sangat tidak mungkin bagi Bai Qin jika harus bermain-main dengan gadis muda seusia Ya Ran.


Bahkan Chu Yan harus berpikir keras ketika sang bos memintanya untuk menyiapkan berkas kesepakatan dengan Ya Ran.


"Kenapa Anda membuang waktu hanya untuk hal yang tidak penting?" tegur Chu Yan yang sangat tahu seperti apa watak serta karakter Bai Qin.


"Sejak kapan kau boleh mengkritik aku, Yan er? Rupanya sikap santaiku kini membuatmu besar kepala?" sindir Bai Qin balik, ia sangat tidak menghendaki ada seorangpun yang mengkritisi kebijakannya.


Chu Yan sontak membungkam mulutnya, ia tidak ingin membuat Bai Qin semakin tersulut emosi dari kata-katanya. Jika Chu Yan kira Bai Qin akan bermain dengan gadis itu, rupanya salah. Bahkan sorot mata Bai Qin ketika menatapnya seusai bertanya lebih tepat seperti sekor serigala yang siap mengunyah anak kelinci.


**


Seperti perjanjian, pagi ini Ya Ran akan menjalankan tugas pertamanya sebagai pesuruh di rumah Bai Qin.


Setelah kemarin Bai Qin sempat mengatakan jadwal harian padanya, Ya Ran harus membereskan rumah Bai Qin setelah pria itu berangkat bekerja.


"Apa dia manusia normal? Setiap hari seluruh kegiatannya selalu sesuai jadwal?" keluh Ya Ran sembari membaca selembar kertas yang berisi jadwal sehari-hari bos barunya.

__ADS_1


Mulai dari bangun tidur, lalu sarapan dan berangkat bekerja hingga pulang kembali ke rumah jika tidak ada pekerjaan yang membuatnya lembur.


Bahkan Ya Ran sempat mengeluhkan waktu istirahat Bai Qin yang cukup singkat untuk manusia normal pada umumnya.


Song Ya Ran kini tiba di sebuah bangunan tinggi menjulang seperti yang tertera pada pesan yang dikirimkan oleh Bai Qin kemarin.


Gedung tinggi yang Ya Ran datangi merupakan sebuah griya tawang yang letaknya sedikit bergeser dari pusat perekrutan Beijing. Namun, jangan dianggap remeh, meski letaknya sedikit jauh, Tetapi kemewahan serta pemandangan di sekitar griya tawang itu cukup membuat takjub setiap mata yang memandang. Meskipun juga Ya Ran harus merogoh kocek untuk hari pertamanya tiba di rumah megah Bai Qin.


Menurut petugas bagian informasi, unit Tuan Lin berada di lantai paling atas di gedung ini. Hal Itu menandakan jika sang pemilik rumah merupakan orang berduit hingga bisa membeli satu lantai penuh dan pihak gedung memberikan kemudahan akses berupa landasan helikopter di bagian roof top.


Seorang karyawan bagain keamanan bahkan mengantarkan Ya Ran menuju rumah Bai Qin. Si sekuriti menatap Ya Ran intens dari ujung rambut hingga kaki. Hal itu membuat Song Ya Ran semakin canggung.


Bahkan sebelum masuk ke dalam lift, sekuriti itu mempersilakan Ya Ran untuk masuk terlebih dahulu.


"Silakan, Nyonya Lin!"


"Iya, Nyonya Lin. Silakan Anda naik!"


"Rupanya paman salah paham, saya bukan Nyonya Lin." Seusai menjelaskan kesalahpahaman, Ya Ran masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan dirinya ke tempat kerja.


**


Ya Ran celingukan ke kanan dan ke kiri, karena kebodohannya sendiri ia hanya berada di depan pintu rumah Bai Qin tanpa melakukan sesuatu.


"Aku lupa menanyakan password rumahnya, haruskah aku bertanya padanya sekarang?" gumam Ya Ran.

__ADS_1


Gadis cantik itu menggenggam erat ponsel di tangannya, ia berniat menghubungi Bai Qin untuk menanyakan angka untuk mengakses rumahnya. Tetapi Ya Ran takut jika hal itu bisa mengganggu Bai Qin. Karena Ya Ran takut jika pria itu marah dan mengancam akan menambah masa kerjanya.


"Tanya? Tidak? Tanya? Tidak? Oh ayolah, Ya Ran kau ini bodoh sekai. Kenapa kemarin kau tidak bertanya padanya.


Song Ya Ran menatap layar di ponselnya yang memperlihatkan sudah lebih dari pukul delapan pagi, sudah lewat masa berangkat Bai Qin bekerja.


Namun, siapa sangka pintu rumah itu tiba-tiba terbuka tanpa Ya Ran perlu menginput nomor akses masuk.


"Kenapa berdiri saja? Tidak masuk?" tegur Bai Qin setelah ia membukakan pintu rumahnya untuk Song Ya Ran.


"Bu-bukankah kau sudah waktunya berangkat kerja?"


"Begitu ya? Hari pertamamu bekerja kenapa kau begitu perhatian padaku?"


"Bukan begitu, kau sendiri yang mengatakan jika aku harus mempelajari dan menghafalkan jadwal kehidupanmu?"


Bai Qin kesulitan menjawab pertanyaan Ya Ran, sehingga membuat pria itu mengancam agar Ya Ran segera melakukan pekerjaannya. "Lain kali, kau bisa bertanya padaku jika tidak tahu, seperti password rumahku." tebak Bai Qin kemudian.


Hal itu membuat Ya Ran semakin malu dengan kebodohannya. Ia bahkan mengutuk siapnya.


"Jika kau tak ada kelas pagi, setiap pagi datanglah sebelum pukul tujuh dan siapkan sarapan untuk kita." perintah Bai Qin.


"Kita?" Ya Ran mempertegas pendengarannya yang sedikit bermasalah akhir-akhir ini.


"Iya, kita. Kau dan aku."

__ADS_1


...****...



__ADS_2