Suami Hantuku

Suami Hantuku
Keluarga Lin


__ADS_3

Mencegah jika Bai Qin dan Ya Ran telah melewati jalur reinkarnasi untuk kesekian kalinya, Nyonya Lin semakin merasa menyesal karena tidak bisa melindungi salah satu Dewa Agung di Istana Langit.


Dan untuk menebus rasa bersalahnya, Nyonya Lin terus merapal mantra penyesalan agar Yang Mulia Kaisar bisa menerima kesalahannya. Dan atas niat baik serta kesetiaan Nyonya Lin sebagai salah satu bawahan Lin Bai Qin, Sang Kaisar menugaskan Nyonya Lin untuk mengandung roh Dewa Bai Qin yang akan lahir ke dunia ini.


Selama puluhan tahun menjadi ibu bagi Bai Qin, Nyonya Lin merasa terberkati oleh kekuatan Langit. Terlebih lagi, Dewa seperti Bai Qin bisa menjadi putranya di masa kini.


"Yang Mulia, hamba akan selalu mendukung Anda hingga masa hukuman Anda berakhir," Itulah sebuah kalimat berisi janji setia Nyonya Lin kepada Bai Qin.


**


Dalam ketidaktahuan Ya Ran tentang identitas Langit-nya, Nyonya Lin patuh untuk merahasiakan identitas ini dari Ya Ran seperti yang dikehendaki oleh Bai Qin.


Meskipun begitu, Nyonya Lin begitu takjub dengan paras Ya Ran. "Anda tak pernah berubah, Dewi. Kebaikan serta kecantikan Anda adalah kekuatan sejatinya diri Anda."


Nyonya Lin sangat menyayangkan posisi Bai Qin dan Ya Ran yang harus mereka lepaskan akibat harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Cinta mereka kekal tak bisa dipisahkan meski telah melalui beberapa kehidupan sebelumnya.


"Datanglah bersama bocah tengik itu pada malam ulang tahunku!" perintah Nyonya Lin kepada Ya Ran.


Meski begitu, Nyonya Lin juga tak lupa menghaturkan tanda hormatnya tanpa Ya Ran ketahui.


Ya Ran yang merasa tak bisa mencerna suasana, hanya bergeming saja tanpa sepatah kata. Hingga Nyonya Lin kembali menyadarkan Ya Ran dengan pertanyaannya, "Bisa, kan?"


"Maaf, Nyonya ... saya hanya pekerja di rumah ini. Sepertinya Nyonya salah paham."


Tetapi, penolakan serta ketidaksetujuan Ya Ran tak mampu mengurungkan niat Nyonya Lin untuk mengundang kekasih Dewa Bai Qin junjungannya


Atas desakan wanita tua itulah, Ya Ran tak bisa mengatakan tidak untuk permintaan berlebihan itu.


**


"Apa yang harus aku lakukan?" keluh Ya Ran di dalam hati ketika gadis itu berada dalam satu mobil bersama Bai Qin.

__ADS_1


Putra bungsu keluarga Lin itu baru saja menempuh perjalanan dari rumahnya untuk menjemput Ya Ran. Selain mendapatkan perhatian dari penjemputan itu, Bai Qin juga mengirimkan perlengkapan wanita untuk. dipakai Ya Ran pada malam ini.


"Yang harus kamu lakukan hanya duduk diam dan menikmati acara saja, memangnya kau mau apa?" tegur Bai Qin yang bisa membaca semua yang telah Ya Ran risaukan dalam pikirannya.


"Hei, Anda bisa membaca pikiran orang? Namun, meski begitu, itu namanya tidak sopan!"


"Astaga tidak sopan? Lagipula otakmu yang kecil itu bisa digunakan untuk berpikir? Pikiranmu terlalu mudah untuk dibaca," Terpaksa Bai Qin harus menyembunyikan kekuatan spiritual yang ia miliki dari Ya Ran agar gadis itu tidak ketakutan.


"Dasar bede bah!"


"Hei ... kau mengutuk aku?" tegur Bai Qin lagi, Ya Ran membuang mukanya dari Bai Qin. Ia kesal karena Bai Qin terlalu menganggap remeh dirinya.


"Kenapa? Tak ingin melihatku?" Bai Qin yang biasanya terkesan pendiam tak banyak omong, kini membuat sopir yang ia pekerjakan kaget dan tak menyangka jika sang bos rupanya cukup ramah dengan wanita itu.


Tak berselang lama, keduanya tiba di sebuah vila mewah keluarga Lin. Song Ya Ran melihat bangunan megah itu dengan takjub, "Pantas saja mudah baginya mengeluarkan uang untuk membayar hutangku,"


"Kenapa?" Bai Qin menyadarkan lamunan Ya Ran dan mengajak gadis itu masuk ke dalam vila karena udara di luar cukup dingin pada malam ini.


Song Ya Ran menggeleng sebelum ia mengikuti langkah kaki Bai Qin masuk ke dalam vila keluarga Lin tersebut.


"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja ... " Ya Ran memutus kalimatnya hingga membuat Bai Qin khawatir.


"Ada apa? Jika kau keberatan, kita bisa kembali." Bai Qin menawarkan kepada Ya Ran untuk tidak menghadiri undangan Nyonya Lin jika Ya Ran merasa tak nyaman.


"Tidak, Tuan! aku baik-baik saja. Alangkah kecewanya Nyonya besar jika Anda tidak datang."


"Ibu dan aku telah terbiasa, ibu mengerti dengan semua keputusanku." Tentu saja Nyonya Lin mengerti, bagaimana bisa Nyonya Lin melawan titah Dewa Bai Qin, baginya setiap kata yang terucap dari Yang Mulia adalah berkah baginya.


"Kau tidak boleh seperti itu, bagaimanapun juga dia ibumu." Kesal dengan cara berpikir Bai Qin, Ya Ran sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Lalu ... kenapa kau begitu peduli terhadap aku dan ibuku?" tegur Bai Qin.

__ADS_1


"Aku? Aku ... aku hanya tidak ingin hubungan antara ibu dan anak semakin renggang. Dia ibumu, sudah sepantasnya Anda menghormatinya."


Sudut bibir Bai Qin sedikit terangkat yang menandakan jika ia tersenyum meski hanya sedikit. Bai Qin puas karena Ya Ran begitu mempedulikan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk!"


**


Kedatangan Bai Qin bersama Ya Ran disambut hangat oleh Nyonya Lin. Sudah lama sekali, wanita tua itu tak melihat junjungannya di rumah keluarga Lin. Hingga momen ulang tahunnya kali ini layak untuk diabadikan.


Namun, di sisi meja ruang penyambutan, tatapan tajam justru ditujukan untuk Ya Ran. Dialah sosok tampan yang kini duduk dengan seorang wanita berbusana hitam dengan perut sedikit membuncit.


"Peng Xuan? Lin Peng Xuan? Keluarga Lin?"


"Selamat datang di keluarga Lin, anakku," sambut bahagia Nyonya Lin.


"Ini tidak mungkin, jangan katakan jika Peng Xuan adalah anggota keluarga Lin juga,"


"Kau sudah datang, Paman kecil? Nenek sudah lama menunggumu." Peng Xuan berdiri menyambut kedatangan Bai Qin dan juga Ya Ran.


Raut wajah Ya Ran semakin tegang, hingga membuat gadis itu mundur selangkah dan berada di belakang Bai Qin seperti menjadikan sosok pria tinggi itu sebagai pelindungnya.


"Jangan takut, ada aku!"


Bai Qin mengajak Ya Ran untuk memberikan Pai Kui kepada Nyonya Lin terlebih dahulu. Pai Kui diartikan sebagai bersujud menyembah kepada orang tua.


...****...



__ADS_1




__ADS_2