Suami Hantuku

Suami Hantuku
Aku Harus Keluar


__ADS_3

Ya Ran berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Kepala gadis itu masih cukup pusing, hingga membuatnya hampir terhuyung ketika hendak berdiri. Untung saja Ya Ran sempat berpegangan pada tepian ranjang yang ia tempati. Tetapi ... "Tunggu dulu, ini di mana?" Gadis itu memijit pelan pelipisnya. Barulah Ya Ran teringat kejadian di kamar ini.


Song Ya Ran melihat ke sekeliling rumah bosnya ketika kesadarannya telah penuh. "Bos? Yang Mulia?" cicit Ya Ran mulai mengingat kembali potongan ingatan Dewinya.


Sejenak, Ya Ran menundukkan kepalanya seperti hendak memberi penghormatan. Namun, mulut tipis itu kembali terbuka dan ... "Dasar Dewa tengik! bisa-bisanya dia menghilangkan kesadaranku." umpat Ya Ran begitu ia teringat Bai Qin menghilangkan kesadarannya dengan menghentikan aliran Cakra pada titik pusatnya.


Benar anggapan Ya Ran, setelah membaringkan tubuh tak berdaya Song Ya Ran, Bai Qin meninggalkan gadis yang tak sadarkan diri itu. Kepergian Bai Qin ke Istana Langit seperti yang diminta oleh pihak sana, membuat Bai Qin harus meninggalkan Ya Ran yang masih perlu melanjutkan ujian duniawinya.


Dewa Agung Bai Qin di sambut penuh suka cita di Istana Langit. Bahkan ketika Bai Qin datang bersama Fu Tong dan Yu Tong di gerbang utama Istana, penjaga gerbang terharu dengan kedatangan Dewa Agung mereka.


"Salam, Yang Mulia."


"Selamat datang, Yang Mulia." Para penjaga menyambut kedatangan Bai Qin dan menaruh hormat pada Dewa tingkat tinggi itu.


Seusai menginjakkan kaki kembali di Istana Langit, Bai Qin langsung menghadap Yang Mulia Kaisar untuk melapor.


Kaisar mengucapkan terimakasih pada Bai Qin karena telah menyelesaikan ujiannya. Padahal jika Bai Qin mau, dia bisa datang kapan saja ke Istana Langit. Tetapi, kesungguhan Bai Qin bulat. Dia tidak akan pulang sebelum cobaannya selesai.


"Kau sudah banyak berubah, Bai Qin. Kau bisa menahan naf su serta amarah dengan baik."


"Terimakasih, Yang Mulia."


Yang Mulia kaisar lalu mempersilakan Bai Qin kembali ke Istananya. Sebelumnya, Bai Qin tinggal di Istana Xuedong. Istana khusus untuk Dewa perang Lin Bai Qin.


Kembalinya Bai Qin disambut antusias oleh para peri yang bertugas sebagai pengurus Istana Xuedong. Mereka begitu bersyukur dengan kepulangan Dewa Agung Bai Qin. Tak hanya para peri saja, Mo Lan teman baik sekaligus saudara angkat Bai Qin menyambung kedatangan Dewa Agung tersebut.


"Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kau melarangku turun ke bumi." ucap Mo Lan dan mengajak Bai Qin bersulang secangkir teh buatan Istana Xuedong.

__ADS_1


Bai Qin sendiri tak kuasa menolak ajakan saudara angkatnya, Dia dan Mo Lan tumbuh bersama dalam asuhan Yang Mulia Kaisar Langit. Usia mereka pun tak terpaut jauh, Hanya berbeda beberapa ratus tahun saja. Jika Bai Qin tertarik dengan hal yang berbau militer, maka berbeda dengan Mo Lan. Pria itu menduduki posisi Divisi penasehat Kaisar setelah berhasil naik dari posisi Kasim.


Kedua Dewa Agung tersebut meminum cha khas dari Istana Xuedong. Tetapi hal buruk tiba-tiba terjadi. "Ehm ... " Bai Qin tersedak seketika.


"Kakak, kau kenapa?"


"Kebiasaan buruk kakak iparmu kambuh lagi, bangun tidur sudah mengutuk aku." Bai Qin menatap tanda di pergelangan tangan kanan bagian dalam. Sebelum meninggalkan Ya Ran, Bai Qin sempat memberikan tanda berupa energi spiritual dirinya yang ia masukkan sebagai tinta agar selalu terhubung dengan Ya Ran.


Tanda itu akan bereaksi ketika jantung Song Ya Ran ataupun dirinya berirama tidak semestinya. Semua itu dilakukan oleh Bai Qin hanya untuk memastikan jika Ya Ran selalu aman.


"Kakak Ipar? Jadi Kakak Ipar tidak ikut kembali?"


"Aku meninggalkannya di Alam Manusia, kau tahu sendiri kepulanganku kali ini karena ada hal mendesak, bukan?"


Mo Lan mengerti, Bai Qin tidak ingin membahayakan diri Ya Ran. Akan lebih aman jika identitas Ya Ran tidak diketahui oleh Dewa lain. Lagipula Istana Langit sedang berada di fase krisis.


"Kau mengejekku? Jangan sebut aku Dewa Perang jika berjalan tanpa taktik. Dia bahkan dengan senang hati berlari ke dekapanku." ujar Bai Qin dengan nada sombong seperti biasanya.


"Aku tidak yakin, buktinya butuh waktu lama bagimu untuk mendapatkan cinta Dewi Kesuburan itu dulu, Kak." Mo Lan teringat jika bukan karena saran darinya lah Bai Qin tidak mungkin bisa mendapatkan cinta Ya Ran dulu.


**


Di alam Manusia, Ya Ran bergegas keluar dari kamar Bai Qin setelah mengumpati Dewa itu hingga puas. Pagi sebenar lagi akan beranjak pergi, jadi Ya Ran tidak boleh terlambat ke kampus. Ia bahkan baru teringat belum mengabari kedua orangtuanya karena tidak pulang semalam.


Begitu Ya Ran hendak membuka pintu penthouse milik Bai Qin, ada sebuah energi yang membuatnya terpental hingga satu meter. Ya Ran terjatuh di lantai marmer penthouse Bai Qin.


"Aduh ... sialan! Dewa breng sek." keluh Ya Ran dengan berteriak kencang.

__ADS_1


Usai puas kembali mengumpatnya, Ya Ran dikejutkan oleh kedatangan Nyonya Lin. "Selamat pagi, Nona Song." sapa Nyonya Lin dengan ramah.


"Se-selamat pagi, Nyonya." jawab Ya Ran.


Nyonya Song mendatangi Ya Ran dengan sebuah baki yang berisi sepiring roti panggang di atasnya.


"Anda tidak perlu repot-repot, Nyonya. Bisakah bantu aku keluar dari sini?"


Nyonya Lin teringat bahwa Dewa Agung memintanya untuk menjaga Ya Ran agar tetap berada di dalam rumah tanpa boleh keluar.


"Maaf Nona, Song."


"Tolonglah, jangan pura-pura lagi! aku sudah mengingat semuanya."


Prang ... byar ... benda di tangan Nyonya Lin berjatuhan ke lantai. Ia sangat kaget hingga pegangan tangannya terlepas.


"Yang Mulia," Nyonya Lin membungkuk memberi hormat kepada Ya Ran.


"Berdirilah, Nyonya ... aku harus keluar dari sini!"


"Maaf, Yang Mulia. Hamba ditugaskan untuk memastikan Anda berada di sini."


Ya Ran lalu memusatkan aliran energi pada ujung jari telunjuknya dan mengarahkan aliran energi itu ke arah pintu. Tetapi, sia-sia. Usaha Ya Ran gagal. Bai Qin telah mengurungnya dengan mantra penghalang agar Ya Ran tidak bisa beranjak keluar.


"Aku harus melanjutkan ujianku! percobaan dan penderitaanku belum usai, bukan? Jadi aku harus tetap hidup. Jika aku terus di sini, bagaimana dengan hukuman dari Langit ini selesai?"


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Yang Mulia Dewa Agung telah meminta demikian. Mohon, Yang Mulia bisa menerima. Dewa Agung berkata jika ujian Yang Mulia akan dilanjutkan ketika Dewa Agung kembali."

__ADS_1


"Aku ini manusia! bagaimana jika orang-orang mencariku? Pokoknya aku harus keluar."


__ADS_2