Suami Hantuku

Suami Hantuku
Aku Tidak Lemah


__ADS_3

Tinggal di Istana Xuedong tak ubahnya seperti seorang tawanan bagi Song Ya Ran. Jika bagi sebagian besar Dewi atau Peri di Istana Langit, tinggal di kediaman Dewa Perang merupakan impian terbesar mereka, maka tidak bagi Ya Ran. Dia merasa terpenjara di sangkar emas Bai Qin.


Untuk mengurangi kesedihan Ya Ran, akhirnya Bai Qin berinisiatif untuk memberi kebebasan Ya Ran. Tetapi dengan satu syarat, yaitu Ya Ran harus pulang kembali ke Xuedong sebelum larut.


"Benarkah? Jadi mantra pengekangan itu akan dihancurkan?" Mata Ya Ran berbinar ketika Bai Qin berencana melenyapkan mantra sialan itu.


"Iya, tetapi hanya saat aku ingin saja. Jika aku kembali ingin mengekangmu, tidak ada yang bisa menghentikan aku."


"Tidak masalah, cukup seperti ini saja aku sudah berterimakasih kepada Yang Mulia." Meski hanya sebatas ini saja, Ya Ran merasa sudah lebih dari cukup. Jika ditilik dari watak Bai Qin, bisa menerima hal seperti ini sudah termasuk berkah.


Ya Ran tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Dewi itu dengan senang hati bergegas keluar Istana Xuedong setelah Bai Qin mengizinkannya.


Melihat binar bahagia di wajah Ya Ran, tak bisa dipungkiri. Bai Qin seperti tersihir oleh kebahagiaan itu. Sepertinya ada kekuatan yang bisa mentransfer kebahagiaan dari diri Ya Ran ke hati Bai Qin.


"Hati-hati!" Bukan ingin melepas begitu saja, Bai Qin tak ingin mengambil risiko terjadi hal yang tidak diinginkan. Sehingga, Bai Qin menugaskan pengawal untuk menemani Ya Ran.


**


"Aku merasa seperti tawanan dari Kejaksaan," ucap Song Ya Ran dalam hatinya. Ia begitu mengutuk sikap Bai Qin yang Ya Ran nilai keterlaluan.


Tetapi, kesempatan ini tidak akan mengubah keinginan Ya Ran. Dia berencana mengunjungi hutan buah plum di dekat ngarai Jinsha.


Di tempat inilah, Ya Ran sering menghabiskan waktu bersama Bai Qin pada masa lampau. Di dekat aliran sungai Jinsha, banyak ditumbuhi pohon plum, sehingga Ya Ran menamakan tempat ini sebagai hutan buah plum.


Sebagai salah satu Dewa Utama di Istana Langit, tentu Bai Qin tidak memiliki banyak waktu untuk sekadar bersantai. Tetapi di hutan inilah, Bai Qin bisa memanjakan Ya Ran dengan kasih sayangnya. Meski hal itu sangat jarang. Tetapi Bai Qin akan dengan senang hati mengosongkan jadwalnya demi bermain bersama Ya Ran di masa lalu.

__ADS_1


Wajah Ya Ran tersipu begitu dia mengingat kenangan masa lalu itu. Tetapi, kini? Ya Ran tidak menemukan kelembutan Bai Qin seperti dulu. Bai Qin sekarang di mata Ya Ran tak ubahnya pria over protective yang tega mengurungnya.


Dengan sinar kebahagiaan yang terpancar itu lah, membuat orang-orang yang tidak menyukai kedua merasa terpanggil untuk menyakiti Ya Ran.


"Aku akan menunggu di hutan ini, kalian beristirahat saja di ngarai Jinsha!" pinta Ya Ran kepada pengawal dari Bai Qin.


Song Ya Ran tidak menyadari jika ada bahaya yang terus mengintainya. Disadari oleh musuhnya sebagai kelemahan terbesar Bai Qin, menjadikan Song Ya Ran menjadi incaran penjahat.


Terlebih ketidakhadiran pengawal di dekatnya, membuat musuh mampu mendekati tempat Ya Ran dengan mudah.


"Siapa kalian?" tegur Ya Ran dengan lantang terhadap sekelompok makhluk abadi yang kini berada di depannya.


Dari busananya, Ya Ran menganggap jika sekumpulan penjahat itu bukan berasal dari klan iblis. Song Ya Ran sempat mencuri dengar pembicaraan Bai Qin dan Mo Lan yang mengatakan jika ada upaya pemberontakan dari kerajaan Iblis untuk tidak lagi tunduk dengan Istana Langit.


Ya Ran menduga jika kelompok itu merupakan prajurit perang Istana Langit. "Namun, kenapa mereka ingin menangkap aku?"


Sebagai salah satu Dewi yang dianugerahi kemampuan, tentu saja Ya Ran tidak takut sama sekali. Bahkan degup jantungnya sama sekali tak berubah. Hal itu tidak bisa memberikan sinyal bahaya ke Bai Qin, karena tanda di pergelangan tangannya tak bersinar.


"Aku harus mencari cara, aku tidak akan menang jika melawan mereka." Ya Ran memutar otaknya untuk mengulur waktu hingga pengawal Bai Qin datang menolongnya.


"Kalian salah menahan aku!"


"Diam! sebaiknya kau ikuti saja."


Song Ya Ran mengambil ancang-ancang, dia mulai mengatur aliran cakra untuk menghadapi para perusuh itu.

__ADS_1


Sekumpulan penjahat itu menyerang secara bersamaan. Dan Ya Ran meladeni dengan tangan kosong. Hanya kemampuan kecilnya lah yang menjadi modal untuk menghadapi penjahat itu.


"Namun, jika aku ikut mereka, aku pasti akan tahu siapa dalangnya. Aku juga bisa memberikan informasi kepada Yang Mulia." Ide gila itu muncul dalam benak Ya Ran. Sehingga ia sengaja mengalah dan membiarkan salah satu penjahat itu melukai dirinya.


Darah mengalir di pundak Ya Ran, karena tergores salah satu penjahat tersebut. Meski hanya luka gores yang tak berarti, Ya Ran bersandiwara seakan merasa menderita dan kesakitan. Sehingga para penjahat itu mengikat tubuh Ya Ran dan membawanya ke markas.


Tetapi Song Ya Ran tidak bodoh, Dewi itu menjadikan tetesan darahnya sebagai clue untuk menemukan keberadaannya.


Song Ya Ran terus dibawa mereka ke tempat terpencil. Jika Ya Ran tidak salah ingat, tempat ini menjadi perbatasan Istana Langit dan Istana klan iblis.


Kemudian, para penjahat itu memasukkan Ya Ran ke dalam penjara bawah tanah. Tubuh Ya Ran dilempar begitu saja hingga terjerembab ke tanah tandus.


Seusai melempar Ya Ran, mereka pergi begitu saja. Kesepakatan ini dimanfaatkan oleh Ya Ran untuk mengirim pesan kepada Bai Qin. Untung saja, Ya Ran masih menyimpan cincin dari pria itu. Rupanya cincin bermata biru safir itu adalah bentuk lain dari makhluk tak kasat mata. Dengan mantra pembangkit, Ya Ran bisa merubah cincin itu menjadi seekor burung Phoenix kecil berwarna biru kemerahan.


Dewi Ya Ran segera berucap untuk diucapkan kembali oleh Phoenix tadi. "Yang Mulia, aku sudah membuat tanda di perjalanan tempat aku ditangkap. Jangan terburu-buru menyelamatkan aku, karena aku ingin tahu siapa dalang di balik penculikan ini. Aku baik-baik saja, jadi jangan terlalu mengkhawatirkan aku." Seusai menguapkan hal tersebut, Phoenix itu lenyap.


Ya Ran bisa tersenyum dengan lega dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas tanah tanpa memikirkan seperti apa khawatirnya Bai Qin padanya nanti ketika mendapatkan pesan dari Phoenix.


Karena tak adanya tanda bahaya dari pergelangan tangannya, Bai Qin tidak menyangka jika Ya Ran dalam masalah. Begitu ia menerima laporan dari anak buahnya yang kehilangan Ya Ran dan mendapati jejak darah Ya Ran, Bai Qin langsung naik pitam.


"Bisa-bisanya dia tak ketakutan sama sekali! bahkan ritme jantungnya saja tidak berubah. Kau pikir kau hebat apa?" Bai Qin mengeluh tentang sikap yang diambil seenaknya saja oleh Ya Ran tanpa memedulikan keselamatannya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2