
Bukan hanya sedikit memaksa, Bai Qin juga mengancam akan membumihanguskan dan meratakan keluarga Ya Ran di dunia manusia jika Dewi itu tidak mau kembali dengannya ke Istana Xuedong. "Kau sudah gila?" umpat Ya Ran berapi-api, dia tidak bisa percaya jika Bai Qin akan melakukan hal menjijikan seperti ini demi dirinya.
Meski begitu, nyatanya ancaman serta paksaan Bai Qin rupanya manjur. Ya Ran bersedia kembali ke Istana Xuedong seperti yang dikehendaki Bai Qin.
Puas dengan keputusan Ya Ran, tak membuat Bai Qin bersenang hati. Wajah Dewa Perang itu kembali masam begitu keduanya menginjakkan kaki di kediaman Dewa Perang.
Kehadiran Mo Lan yang dianggap pengganggu adalah sumber ketidaksukaan Bai Qin. "Kurasa kau memiliki cukup banyak waktu luang, Mo Lan?" sindir Bai Qin.
"Tugas dari Yang Mulia yang memintaku untuk terus mengawasi Gunung Kunlun tidak lupa kulakukan, lalu apa lagi?"
"Apa lagi? Apa kau sadar kehadiranmu menjadi perusak suasana, ha?" Emosi Bai Qin tak tertahankan karena Mo Lan benar-benar tidak paham maksudnya. Bai Qin hanya ingin berduaan saja dengan Ya Ran di Xuedong tanpa ada gangguan.
Alhasil, Bai Qin mampu mengusir keberadaan adik angkatnya. Dewa Agung itu bergegas ke dalam Xuedong untuk menemui Ya Ran.
Bai Qin menelusuri setiap bagian Xuedong, mulai dari Balai depan kemudian masuk ke aula utama hingga ke tempat meditasi. Namun, belum menemukan keberadaan Song Ya Ran.
Seorang peri Istana Xuedong menyebutkan jika Dewi berada di sekitar ruang pemujaan. Dan Bai Qin segera menuju tempat di mana Ya Ran berada.
Di dalam ruang pemujaan, Ya Ran terlihat mondar-mandir dengan tangan berada di belakang punggungnya.
"Aku tidak tahu jika kau di sini," tegur Bai Qin hingga membuat Ya Ran menoleh ke arahnya.
"Yang Mulia tadi sibuk dengan anggota penasihat," Keduanya kompak berjalan ke arah jendela kayu di samping altar.
"Tinggallah di sini, jangan mencoba melarikan diri!"
__ADS_1
"Yang Mulia, aku tidak seperti Yang Mulia yang pantas mendapatkan doa serta persembahan dari makhluk hidup lain, karena aku bukan makhluk abadi seperti Yang Mulia."
Bai Qin tidak ingin menambah panjang perdebatan dengan Ya Ran. Karena ia tahu seperti apa kerasnya watak Ya Ran.
"Ini sudah larut, istirahatlah!" ajak Bai Qin keluar dari ruang pemujaan. "Mereka sudah menyiapkan kamar kita." lanjut Bai Qin kemudian.
Sontak hal tersebut membuat kedua mata Ya Ran melotot tajam, "Kita?" Tetapi, belum puas Ya Ran protes, Bai Qin telah membawanya ke ruang peristirahatan utama di Xuedong.
"Bukankah Dewa tidak butuh istirahat?" tanya Ya Ran kembali.
Benar, Dewa tidak perlu tidur seperti yang dikatakan oleh Ya Ran. Dan Dewa juga tidak makan seperti manusia atau makhluk fana lain. Mereka akan menerima persembahan seperti dupa yang dibakar ataupun persembahan lainnya. Tetapi, mereka juga perlu istirahat dari segala hal yang mengganggu perkiraan mereka.
"Ran er, aku sudah tidak seperti Dewa Perang yang dulu. Hidup di alam manusia merangsang otakku hingga memenuhi naluri manusiawi. Harusnya kau paham bukan?" Dewa itu kemudian mendesak Ya Ran hingga Ya Ran tidak bisa bergerak dan hampir membentur tembok kamar.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Dasar Dewa tengik!" Ya Ran memaki Bai Qin di dalam hatinya.
Tak bisa marah kepada Ya Ran, bahkan Bai Qin terpingkal dengan semua usaha Ya Ran yang menjauhkan dirinya dari Song Ya Ran sendiri. "Baiklah ... Baiklah! jika kau ingin aku mencari cara untuk balas dendam, aku akan menuruti permintaanmu, Ya Ran."
Ya Ran sendiri merasa bersalah telah meminta hal yang membahayakan bagi Bai Qin. Balas dendam sebenarnya tidak ada di benak Ya Ran. Dewi itu hanya ingin hidup tenang saja. Namun, ia malah meminta hal yang begitu ia khawatirkan.
"Yang Mulia, tunggu dulu!" Ya Ran menahan kepergian Bai Qin, hingga membuat Dewa Agung itu menghentikan langkahnya.
Cup, Song Ya Ran tanpa diduga mencium pipi kanan Dewa Agung Lin. "Apa ini undangan tidur bersama?'
__ADS_1
Niat untuk memberi semangat, Yang Mulianya kini berubah dengan rasa kesal. Bagaimana bisa Bai Qin menganggap hadiahnya sebagai undangan?
Menilik mimik wajah Ya Ran yang kembali masam, membuat Bai Qin tak tega untuk terus menggoda, "Aku hanya bercanda, sudah larut. Sebaiknya kau istirahat saja!" ucap Bai Qin sebelum meninggalkan Ya Ran di kamarnya. Dan sebelum keluar, Bai Qin menyempatkan untuk mengecup dahi Ya Ran dengan penuh kelembutan.
"Tetaplah bahagia, Ran er! yang ku inginkan hanya senyum kebahagiaan itu.".
"Yang Mulia?'
"Apa? Kau merindukan aku?"
"Hm ... jika Yang Mulia memerlukan bantuanku, jangan ragu untuk memintaku. Aku bisa melindungimu demi keselarasan 3 alam."
"Tetaplah di dekatku, jangan pergi dari jangkauanku itu sudah membantuku."
**
Meninggalkan Ya Ran, Bai Qin langsung memanggil orang kepercayaannya untuk membahas rencana balas dendam kepada pengkhianat di Istana Langit. Selain mendengar kabar rencana penyerangan klan iblis, Bai Qin juga harus membersihkan anggota senat di Istana Langit yang telah melanggar aturan.
Bai Qin telah meletakkan sedikitnya satu poin dalam masing-masing pasukan perang. Selain bertugas mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan, Bai Qin juga meminta pionnya untuk menebas siapa saja yang berani mengkhianati dirinya.
Pengintaian selanjutnya, Bai Qin akan menyelimuti kematian mertuanya. Karena dia tidak akan diam saja melihat tangis menyedihkan Song Ya Ran.
"Aku bersumpah akan membersihkan nama baik klanmu, Sayang!" Semua itu Bai Qin lakukan demi kebahagiaan Song Ya Ran.
...****************...
__ADS_1