
Kesal dan merasa tak terima, membuat Peng Xuan mengorek kehidupan Ya Ran. Pemuda itu masih belum bisa melupakan masa lalunya bersama Ya Ran. Diam-diam Peng Xuan terus membuntuti mantan pacarnya itu agar bisa memastikan kecurigaannya. Dia sangat yakin jika Ya Ran tidak mungkin menjalin hubungan dengan pamannya.
"Dari semua lelaki di dunia ini, kenapa harus paman? Ya Ran ... aku yakin kau hanya ingin membalas dendam padaku saja. Iya, itu pasti!" gumam Peng Xuan di dalam mobilnya.
Sudah dua hari ini, Xuan mengintai Ya Ran di kampusnya. Bahkan ketika Ya Ran pergi ke kediaman Bai Qin juga tak luput dari pengintaian Xuan.
"Ah mana mungkin? Tapi, Ya Ran sungguh bisa leluasa masuk ke rumah paman, jangan-jangan memang benar mereka melakukan semua ini di belakangku?" Xuan begitu takut jika Ya Ran akan memilih Bai Qin sang paman dan benar-benar meninggalkan dirinya.
Peng Xuan terus melihat ke arah gerbang universitas untuk mencari keberadaan Ya Ran. Dia tahu jika Ya Ran belum pulang. Sehingga Peng Xuan akan terus menunggu keluarnya Ya Ran dan terus mengikutinya untuk mencari kebenaran yang sebenar-benarnya.
Pucuk dicinta, tak lama terlihat gadis berkulit putih dengan potongan rambut sebahu. Ya Ran memang baru saja memotong rambutnya seusai kandasnya hubungan dengan Xuan. Hal seperti ini umum dilakukan jika para gadis menyimpan rasa sakit hati atas pengkhianatan dari pasangan mereka.
"Ran er?" Peng Xuan menghidupkan mesin mobilnya dan segera memacu kendaraannya menyusul ke manapun Ya Ran pergi.
Song Ya Ran memang tidak menaruh kecurigaan sama sekali jika Xuan kembali membuntuti dirinya. Kejadian seperti beberapa waktu yang lalu telah dilupakan oleh Ya Ran. Pasalnya, gadis itu telah membuat sebuah pengakuan atas hubungannya dengan Bai Qin.
Tanpa diduga oleh Ya Ran, Peng Xuan keluar dari mobilnya dan menyergap Ya Ran. "Apa yang kau lakukan, Xuan? Apa kau gila?" bentak Ya Ran yang keberatan jika ketika Peng Xuan akan memasukkannya ke dalam mobil.
"Iya aku gila, aku gila karenamu!"
"Berhentilah melakukan hal bodoh, Xuan! sia-sia saja." tegur Ya Ran. Gadis itu sungguh tidak bisa percaya jika Peng Xuan akan terus bertindak seperti ini.
"Aku tahu kau berbohong padaku, iya kan? Kau mengaku dekat dengan Paman Bai Qin hanya untuk membalas dendam padaku? Benar bukan?" Peng Xuan terus meracau menuduh Ya Ran melakukan kebohongan.
"Sudah berapa lagi kukatakan, aku tidak mencintaimu. Dan sekali lagi aku katakan, aku dan Pamanmu Bai Qin akan segera menikah." jelas Ya Ran berapi-api. Tanpa sadar ia kembali mencari masalah dengan membual kepada Peng Xuan.
__ADS_1
"Dasar ja lang!" Peng Xuan berniat menampar Ya Ran, tangannya telah diangkat ke udara dan akan mendaratkan serangan itu ke pipi Ya Ran.
Namun, Ya Ran mampu menangkis semua itu. "Jadi begini caramu memperlakukan calon bibimu, Xuan?" sindir Ya Ran kembali.
Tubuh Peng Xuan lemas dengan kalimat yang baru saja Ya Ran ucapkan. "Semudah itukah? Semudah itu cintamu berpaling?"
Pada kenyataannya, Peng Xuan lah yang kalah. Ia benar-benar merasa dipecundangi oleh Ya Ran. Duka yang masih belum sembuh total, kini semakin bertambah dengan luka yang baru saja tertoreh. Ya Ran mengatakan akan menjadi bininya. Hal konyol itu sama sekali tidak pernah diimpikan oleh Peng Xuan.
Peng Xuan kembali dengan luka mengangga dan bersumpah akan meminta harga yang harus orang-orang itu bayar untuknya.
Dengan kepergian Peng Xuan, Ya Ran bisa bernapas lega. "Mungkin dengan cara itulah, aku bisa membuatmu berhenti melakukan hal tidak benar, Xuan. Kau adalah masa laluku dan tidak akan bisa menjadi masa depanku." Ya Ran kembali berjalan melanjutkan perjalanannya.
Waktu yang ia perlukan untuk pergi ke rumah Bai Qin sedikit tergadai dengan pertengkarannya dengan Peng Xuan. Tak hanya itu saja, langit sepertinya merestui kesedihan Ya Ran. Langit akan menutupi duka dan rasa sedih Ya Ran dengan menurunkan air matanya yang membasahi bumi.
"Aku sudah telat!" gumam Ya Ran mengingatkan pekerjaannya, gadis itu segera mencari payung di dalam tote bag miliknya. Namun sial, Xiao Lan belum mengembalikan kepadanya. Sehingga Ya Ran harus berhenti sejenak untuk berlindung dari hujan.
Bus yang Ya Ran tunggu tak kunjung datang, jika seperti ini terus ia bisa terlambat. Hati Ya Ran tak tentu, ia segera menghubungi Bai Qin dan mengatakan akan terlambat hari ini.
Tetapi, belum sempat Ya Ran menghubungi Bai Qin. Justru pria itu tiba di depan wajah Ya Ran. Mobil yang dikendarai oleh Bai Qin berhenti di depan halte, pria itu keluar dengan membawa sebuah payung kecil ke arah Ya Ran.
"Sudah lama?" tegur Bai Qin singkat.
"Heh? Apa?" Ya Ran sontak kaget dan belum bisa menelaah keadaan tentang kedatangan Bai Qin.
"Aku baru saja berniat mengunjungi kamu, tapi kamu datang duluan."
__ADS_1
"Benarkah? Kau ingin aku menjemputmu?"
"Heh?" Ya Ran semakin bingung. Hingga Bai Qin mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasa seperti wanita gampangan yang mudah saja masuk ke mobil pria. Apa Peng Xuan benar? Aku adalah ja lang?'
Bai Qin menatap Ya Ran dan menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil setelah Bai Qin bukakan pintu untuknya. "Tunggu apa lagi? Jangan berpikir yang tidak-tidak!"
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Ya Ran.
"Bodoh, aku tidak pernah meminta sembarang orang masuk ke mobilku." tukas Bai Qin sebelum menutup pintu mobil sisi kanan. Bai Qin kemudian masuk ke sisi mobil sebelah kiri dan menjalankan mobilnya.
Di dalam mobil, suasana kembali canggung. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Hingga tanpa diduga oleh Bai Qin, sebuah mobil mengebut dan hampir menyerempet mobilnya. Untung saja Bai Qin dengan cepat membanting ke arah kiri.
Tepat pada saat itu, Ya Ran sempat menangkap punggung Bai Qin ketika pria itu membanting stir ke kiri. "Ha ... ?' Seketika Ya Ran menutup mulutnya agar jeritannya tidak lolos begitu saja.
Bukan kaget karena kejadian mengejutkan itu, Ya Ran tersentak dengan bentuk tubuh bagian belakang Bai Qin. "Tidak mungkin!"
"Apa kau keget?" tanya Bai Qin membuyarkan lamunan Ya Ran. Namun, yang membuat Ya Ran semakin tersipu adalah ia kedapatan melihat Bai Qin dengan intens.
"Ti-tidak ... apa Anda baik-baik saja?" Untuk menutupinya, Ya Ran berpura-pura mengkhawatirkan Bai Qin.
"Iya,"
Tidak sekali dua kali ini saja Bai Qin menangkap gelagat Ya Ran. Pria itu menemukan Ya Ran terus menatapnya. "Apa aku begitu tampan hingga pandanganmu tak lepas dariku?"
__ADS_1
Song Ya Ran mengerutkan alisnya, "Jangan bermimpi!"
"Jika kau terus menatapku, aku bisa menciummu."