
Ya Ran sedikit demi sedikit mulai bisa membiasakan dirinya untuk menghadapi tingkah aneh Bai Qin. Meski tak jarang keduanya kerap bersitegang jika memiliki asumsi yang berseberangan.
Selama beberapa hari Ya Ran bekerja di griya tawang mewah milik Bai Qin, gadis itu mampu melupakan kesedihannya. Hati Song Ya Ran berangsur mereda serta merelakan cinta Peng Xuan.
Tetapi tidak dengan Peng Xuan, pemuda itu terus saja menemui Ya Ran di kampus. Bahkan Peng Xuan tak malu lagi menunggu Ya Ran selesai kuliah hanya untuk sekadar bertemu dan membicarakan masa depan hubungan mereka.
"Sudah kukatakan, Xuan! kita tidak bisa bersama lagi. Kau dan aku berbeda. Kau harus bertanggungjawab dengan keluarga barumu." Bukan tanpa alasan Ya Ran mengatakan hal demikian. Setelah kabar hamilnya mantan kekasih Peng Xuan yang kini telah resmi menyandang menantu muda keluarga Lin.
"Tapi aku mencintaimu, Ya Ran. Aku tidak mencintai Wen Rong." jelas Peng Xuan dengan tegas di depan wanita yang begitu ia cintai.
Namun, Ya Ran tetap menepis perasaan Peng Xuan untuknya. Hal yang sebaiknya tidak boleh terjadi ini tidak akan Ya Ran biarkan berkembang semakin besar, "Tapi kau harus bertanggungjawab pada keluargamu."
Lin Peng Xuan hendak menangkap tangan Ya Ran agar gadis itu tak lagi menolaknya. Karena dengan sikap melunak seperti ini, Ya Ran biasanya tidak akan tega kepada Peng Xuan.
"Maafkan aku, Xuan! sungguh, kita tidak bisa bersama lagi. Tolong kembalilah kepada keluargamu."
Tetapi, Peng Xuan tak kekurangan akal. Pemuda berkulit putih itu mendekap tubuh Ya Ran agar gadis itu tak lagi menolaknya. Namun, sungguh di luar dugaan Peng Xuan. Ya Ran begitu dingin. Sehingga ia berusaha meronta dari pelukan Peng Xuan.
Ya Ran berusaha sekuat tenaga dari cengkeraman Peng Xuan. Tak hanya itu saja, Ya Ran juga mengancam, "Jika kau tak melepaskan aku, aku akan berteriak hingga kau malu."
Ancaman Ya Ran yang berniat memperlakukannya, membuat Peng Xuan mengendurkan dekapannya. Dan kesempatan itu digunakan oleh Ya Ran untuk meloloskan diri.
Ya Ran terus berjalan meninggalkan Peng Xuan yang terus menatap punggungnya hingga tak terlihat lagi.
Tanpa sadar, air mata Ya Ran mengalir di kedua pipinya. Dadanya sesak jika mengingat kehidupan cintanya yang telah kandas. Terlebih lagi, Ya Ran juga mencintai Peng Xuan dengan tulus. Ia tidak menyangka jika selama ini Peng Xuan memiliki hubungan percintaan yang cukup jauh dengan Wen Rong sebelum berpacaran dengannya.
"Maafkan aku, Xuan! sungguh ... aku tidak bermaksud jahat padamu, tetap nasib tidak berpihak kepada kita. Aku mencintaimu, Xuan. Tetapi aku ingin kau bahagia dengan mereka." tangis Ya Ran pecah, hingga tidak sadar hujan telah mengguyurnya.
Padahal Ya Ran harus ke tempat Bai Qin seusai kuliah, dan ini sudah lewat waktunya bekerja.
__ADS_1
Song Ya Ran terus berjalan di tengah guyuran hujan, ia tak merasa keberatan dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Karena hujan bisa menyembunyikan air mata kesediaannya.
Gadis itu memelankan langkahnya, mungkin tenaganya telah terkuras oleh perkelahian emosi dengan Peng Xuan tadi. Sehingga Ya Ran tak memedulikan apapun di sekitarnya.
Bahkan sebuah truk yang berjalan cukup kencang dari arah belakang tak mampu menyadarkan Ya Ran. Langkahnya tak membawa Ya Ran sedikit bergeser ke tepi jalan. Jika hal ini terus berlanjut, nyawa Song Ya Ran dalam bahaya. Karena truk itu bisa menabrak tubuhnya.
Berkali-kali sang sopir membunyikan klakson agar Ya Ran berjalan menepi. Tetapi, bunyi klakson tidak bisa membangunkan Ya Ran dari lamunannya.
Dan ... dari jarak kurang dari dua meter dengan truk tersebut, tubuh Ya Ran tertarik ke tepi oleh sebuah tangan yang dengan gesit menghentakkan Ya Ran dari lamunannya.
Tubuh Ya Ran tertarik hingga terpelanting bersama pria yang menariknya agar menjauhi bahaya tersebut. "Kau cari mati, ya?" maki sopir truk kepada Ya Ran yang terjatuh bersama seorang pria berjas hitam tersebut.
Keduanya terjatuh ke tepi jalan. Dengan posisi Ya Ran berada di atas pria tadi. Barulah ketika terjatuh, Ya Ran berhasil sadar dari lamunannya.
"Ma-maaf." pinta Ya Ran.
Tangis Ya Ran semakin pecah lagi, karena kebodohannya dengan berjalan sembarangan berakibat hampir kehilangan nyawanya.
"Aku minta maaf, Tuan!" Song Ya Ran bangun dan berusaha mengulurkan tangannya untuk membantu Bai Qin.
"Bai Qin? Lin Bai Qin? Lintah darat itu?"
"Kau harus membayar ini berkali-kali lipat." ancam Bai Qin menerima uluran tangan Ya Ran.
Namun, "Ah sial!" keluh Bai Qin dalam hati, ia meringis menahan rasa sakit di daerah pinggangnya. Mungkin posisi terjatuh dan benturan dengan pembatas jalanan membuat Bai Qin kesakitan.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Ya Ran yang menangkap hal buruk itu langsung berjongkok di depan Bai Qin.
"Lepaskan tanganmu!" perintah Bai Qin ketika Ya Ran berniat membantu Bai Qin berdiri.
__ADS_1
"Baiklah, kurasa Anda tidak baik-baik saja. Haruskah aku meninggalkan Anda, Tuan?"
"Apa katamu? Apa kau buta?" maki Bai Qin dengan kesal karena Ya Ran berniat meninggalkan dirinya sendiri. Padahal jauh-jauh ia pergi mencari Ya Ran dan meninggalkan pekerjaannya demi Ya Ran.
"Lalu?"
**
Ya Ran akhirnya membantu Bai Qin berdiri. Bahkan memapah pria itu menuju mobil Bai Qin. Tentu saja keduanya basah kuyup.
"Apa yang kau lalukan?" tegur Bai Qin ketika Ya Ran membawanya ke kursi belakang mobilnya.
"Aku tidak akan membahayakan Anda lagi, duduklah yang tenang. Aku akan mengemudikan mobil Anda untuk pulang."
"Pulang? Kita pulang?"
"Iya, aku bisa mengemudi." jelas Ya Ran kembali.
Bai Qin menuruti kemauan Song Ya Ran. Biasanya Bai Qin akan duduk manis ketika disopiri oleh Chu Yan ataupun sopir kantor, kini Ya Ran lah yang memaksanya. Pria itu tidak marah, karena Ya Ran menyebutkan jika mereka harus pulang.
Sebelum menyalakan mesin mobil, Ya Ran berusaha mencari sesuatu. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga Bai Qin menegurnya, "Kenapa? Kau tak terbiasa mengemudikan mobil manual?"
"Bukan, aku mencari kain untuk mengeringkan tubuh Anda." Bagaimanapun juga Bai Qin adalah bos Ya Ran, sudah sebaiknya ia bersikap baik dan penuh perhatian dengannya.
"Aku baik-baik saja,"
...****...
__ADS_1