
Keesokan harinya...
Hari ini adalah hari yang di nantikan, yaitu adalah hari pernikahan ku, hari dimana aku menjadi milik orang lain.
Aku bangun pagi sekali, lalu setelah itu akupun di rias oleh penata rias, penata rias menghabiskan waktu berjam-jam untuk merias diriku
selama aku di rias oleh penata rias, ibu selalu berada di samping ku, menatap diriku dalam-dalam dan memegang tangan ku, aku tidak mengerti kenapa tetapi ibu seperti tidak rela melepaskan ku pergi, aku pun penasaran sehingga menanyakannya kepada ibu
"ibu kenapa?" ucap ku sambil menggengam tangan ibu
ibu pun menitihkan air matanya dan tersenyum kepadaku
"ibu tidak apa-apa vivian, ibu hanya senang melihatmu akan segera menikah" ucap ibu sambil mengusap air matanya
Tak terasa air mata ku menetes, karena tak kuasa membendung kesedihan. aku senang melihat ibu bahagia, tapi di sisi lain aku tidak mau meninggalkan ibu...
"Ibu, walaupun vivian menikah nanti, vivian akan tetap tinggal bersama ibu" ucapku yang tak rela jauh dari ibu
"tidak vivian jangan begitu, setelah vivian menikah nanti, vivian harus tinggal bersama nak damar, karena setelah vivian menikah nanti maka tanggung jawab vivian sepenuhnya ada di nak damar" ucap ibu
"Kenapa begitu bu, walaupun vivian menikah nanti, vivian tetap adalah anak ibu, dan vivian tidak mau jauh dari ibu" ucap ku yang tidak rela
tiba-tiba ibu menggenggam tangan ku dengan erat
__ADS_1
"vivian dengarkan ibu, apapun yang terjadi, vivian harus tetap bahagia, jangan pernah bersedih, walaupun vivian tidak bersama ibu nanti, tapi ada nak damar yang akan menjaga vivian"
ucap ibu yang seakan ingin pergi meninggalkan aku jauh sekali
akupun tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalau aku berdebat dengan ibu lagi, pasti ibu tetap akan mengatakan hal yag sama
"Baiklah bu..." ucap ku yang mengiyakan kata-kata ibu
"Anak baik" ucap ibu sambil mengusap rambut ku
tiba-tiba ibu terdiam...
"Ayah mu pasti akan senang di alam sana, kalau dia tau bahwa putri kesayangannya akan segera menikah" ucap ibu sambil terus mengusap rambut ku dan tersenyum ke arah ku
dan memeluk ibu
"lbu maafkan vivian..." ucapku sambil memeluk tubuh ibu dengan erat
"Vivian, sudah jangan menangis, itu semua bukan salah vivian, lebih baik vivian lupakan saja masa lalu, cepat berdiri..." ucap ibu sambil memapah ku untuk berdiri
"tuh lihat, riasanmu jadi luntur. Sudah jangan menangis, sebentar lagi pengantin pria mu datang, kalau mereka melihat vivian menangis nanti mereka berfikir ibu telah menyiksa pengantin wanita nya..." ucap ibu untuk menghiburku dan menenangkan diriku
aku pun mengusap air mataku dan tersenyum
__ADS_1
"Nah begitu, tersenyum...
anak ibu tampak cantik saat tersenyum " ucap ibu sambil tersenyum ke arahku
tiba-tiba
"ibu, vivian, pengantin pria nya sudah datang" ucap penata rias yang berdiri di balik pintu
aku hanya terdiam mendengar hal itu
"Vivian, nak damar sudah datang. Sudah jangan bersedih lagi, lebih baik kita keluar sekarang" ucap ibu sambil menuntun ku keluar ruangan
aku pun hanya mengangguk dan mengikuti ibu
Beberapa saat kemudian...
Akupun keluar dari ruang tata rias menuju tempat ijab kabul, terlihat orang-orang yang menatapku dari kejauhan. Aku pun sedikit gugup melihat orang-orang menatapku
Aku pun hanya berjalan sambil menunduk sampai akhirnya aku melihat kak damar.
Kak damar kak damar yang mengenakan setelan jas berwarna hitam tampak gagah dan rupawan, sedang duduk di depan penghulu dan dengan kedua orang tuanya di sampingnya.
kak damar pun hanya tersenyum ke arah ku sampai akhirnya...
__ADS_1
*Besambung...