
Beberapa hari kemudian...
Kantin
Aku hanya duduk sambil menunggu tia dan dina, saat ini perasaan ku sedang campur aduk dan tidak karu-karuan. Ada banyak hal yang membuatku cemas dan bingung selama beberapa hari ini
"Vivian..." ucap dina yang baru saja duduk di depanku
"Maaf kita telat, tadi masih ada urusan soalnya" ucap tia yang juga baru saja duduk di sampingku
"Kamu kenapa vivian, kok murung gitu" ucap tia
"Iya, kamu kenapa nih?" ucap dina
"Aku gak papa kok" ucapku
Tiba-tiba, Dina mendekatkan wajahnya ke arahku...
"Aku tau kamu pasti lagi mikirin kak damar kan?" ucap dina
Aku hanya terdiam mendengar ucapan dina, karena antara kami tidak ada rahasia, jadi mereka tau apa yang aku cemaskan selama beberapa hari ini
"Vivian, memangnya kamu belum bicara dengan kak damar?" ucap tia
"Aku bingung, mas damar seperti menjauhiku" ucapku putus asa
"Apakah karena kejadian itu..." ucap tia
"Mungkin..."ucapku
Beberapa hari yang lalu setelah mas damar menciumku di taman, tiba-tiba mas damar bersikap aneh. Mas damar seperti menghindariku dan lebih pendiam, tidak seperti sebelumnya
"Vivian, kenapa kamu tidak jelaskan saja" ucap tia
"Jelaskan bagaimana?" ucapku penasaran
"Kamu bilang saja kepada kak damar, bahwa kamu tidak apa-apa. Aku fikir kak damar bersikap seperti itu padamu karena mungkin kak damar berfikir bahwa dia memakasamu untuk melakukannya" ucap tia
"Aku juga berfikir hal yang sama, tapi bagaimana caraku menjelaskannya. Mendekati mas damar saja aku malu" ucap ku
"Kenapa malu, dia kan suamimu sendiri. Lagipula kamu mau kesalahpahaman ini terus berlanjut tanpa penjelasan, bukankah itu juga membuatmu tidak tenang" ucap tia
Aku juga merasa ucapan tia ada benarnya, aku harus menjelaskan semuanya kepada mas damar bahwa aku tidak masalah dengan apa yang dia lakukan malam itu
"Baiklah, aku akan mencobanya..." ucapku
__ADS_1
"Ehem... tapi aku tuh masih gak nyangka kamu sama kak damar belum pernah begituan" ucap dina
Aku hanya terdiam mendengar ucapan dina
"Apa maksudnya begituan?" ucap tia dengan raut wajah penasaran
"Yaelah tia, lo tuh pura-pura bodoh atau emang bodoh beneran sih" ucap dina meledek tia
"Iya aku tau, tadi cuma becanda..." ucap tia sambil tersenyum
"Kalian ngomong apaan sih" ucap ku dengan nada tinggi
"Hehe... ternyata kak damar kuat juga yah" ucap tia
"Hahaha... setuju" ucap dina
"Apaan sih kalian berdua" ucap ku dengan nada kesal karena malu dengan ucapan tia dan dina
"Hahaha... vivian malu tuh mukanya merah" ucap dina mengejekku
"Enggak kok, merah di mana?" ucapku panik sambil memegang kedua pipiku
Kami pun bercanda sampai akhirnya...
"Aku juga lapar dari tadi nungguin kalian" ucapku
"Karena vivian lagi galau, makanya vivian yang akan teraktir makan siang kita hari ini" ucap tia
"Bener tuh, vivian traktir" ucap dina
"Kok kalian jahat sih, seharusnya kan kalian yang teraktir aku" ucapku protes
"Yaelah, jarang-jarang kamu teraktirnya juga" ucap tia
"Iya, nih sekarang vivian pelit" ucap dina menyindir ku
"Vivian pelit... vivian pelit..." ucap tia meledek ku
Kalau sudah begini aku pun tidak punya pilihan lain
"Yaudah, hari ini aku yang traktir" ucapku
"HORE....." ucap tia dan dina serempak
Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka yang konyol
__ADS_1
Setelah itu aku pun memesan makanan untuk kami bertiga
Beberapa saat kemudian...
Kami pun sudah selesai makan
Tiba-tiba
"Vivian, aku ingin berkata sesuatu kepadamu" ucap tia
"Ada apa tia?" ucapku penasaran
"Sepertinya kamu harus berusaha membuka hatimu untuk kak damar" ucap tia
"Aku juga berusaha untuk menerima mas damar. Tapi aku masih belum bisa melakukan kewajibanku, aku belum siap" ucap ku yang masih ragu
"Vivian... kak damar itu pria normal aku yakin akan ada saatnya di mana dia tidak bisa menahan nafsunya, aku hanya berharap kamu bisa secepatnya menerima kak damar. Aku yakin kak damar adalah seorang laki-laki yang baik" ucap tia
"Aku juga merasa seperti itu, tapi bagaimana caranya? Aku sangat gugup dan canggung saat bersama mas damar" ucap ku yang bingung dengan masalah ini
"Aku mengerti kamu canggung dan gugup tapi kamu harus berusaha sedikit demi sedikit agar kamu bisa lebih dekat lagi dengan kak damar. Intinya kamu harus lebih sering berinteraksi sama kak damar" ucap tia
"Iya Vivian, perempuan dan laki-laki itu berbeda, mungkin saja kamu bisa menunggu tapi kak damar tidak bisa. Kamu harus memahami perasaannya" ucap dina
Walaupun tia dan dina terkesan konyol dan suka bercanda, Tapi yang mereka ucapkan sekarang ini ada benarnya. Selama ini mas damar selalu mengerti aku, seharusnya aku juga bisa mengerti perasaan mas damar
"Terimakasih teman-teman untuk sarannya, tumben kalian bijak" ucapku meledek mereka berdua
"Eh, apa-apaan nih... di kasih saran malah ngeledek" ucap dina sambil memalingkan wajahnya
"Kalau aku tuh dari dulu emang bijak, kamu nya aja yang gak sadar" ucap tia
"Iya kalian berdua bijak, Ayo kita pergi ke kelas..." ucapku yang langsung berdiri dan menarik tangan tia dan dina
"Tuh denger, gue bijak tia..." ucap dina
"Gue juga tau..." ucap tia nyolot
"Hahaha..." aku hanya tertawa melihat tingkah mereka
*****
Mas damar tunggu aku...
*Bersambung.....
__ADS_1