
Beberapa saat kemudian...
Karena ini hari minggu aku berfikir untuk bersih-bersih rumah, walaupun biasanya juga aku suka bersih-bersih tapi karena waktu yang kurang tepat jadi aku tidak terlalu teliti membersihkannya, hanya beberapa permukaan saja yang terlihat oleh mata yang aku bersihkan dan bereskan
Aku sedang membersihkan sudut ruangan dan mengepel lantai tetapi
Tiba-tiba
"Vivian, kamu sedang apa?" ucap mas damar yang tiba-tiba saja berada di depanku
"Eh, mas... vivian sedang bersih-bersih" ucap ku yang sedikit terkejut
"Oh begitu, biar mas bantu yah..." ucap mas damar
"Tidak usah mas... biar vivian sendiri saja yang bersihkan" ucapku
"Tidak apa-apa, biar mas bantu saja... kamu tidak bisa membersihkan semua ini seorang diri" ucap mas damar
"Emm... Tidak apa-apa mas, biar vivian saja" ucapku yang merasa tidak enak
"Mas sudah pernah berjanji akan membantumu membersihkan rumah, jadi biarkan mas membantumu yah" ucap mas damar
Sepertinya aku juga tidak punya pilihan lain karena memang mas damar yang menginginkannya...
"Baiklah kalau begitu..." ucapku
"Mas harus membersihkan yang sebelah mana?" tanya mas damar
Aku pun berjalan ke arah meja dan mengambil lap dan kemoceng
"Mas bersihkan saja yang sebelah sana" ucap ku sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu
Lalu aku pun memeberikan lap dan kemoceng itu kepada mas damar
"Siap Komandan!!!" ucap mas damar sambil hormat menggunakan kemoceng itu
"Hihihi..." aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya
Beberapa saat kemudian...
Mas damar membantuku untuk membersihkan rumah dan memang mas damar itu sedikit jahil dan terus saja menggangguku dari tadi, tapi aku senang melihat mas damar yang berusaha membantuku membersihkan rumah
Beberapa saat kemudian...
"Akhirnya beres juga..." ucap ku yang kemudian duduk di sofa
"Capeknya..." ucap mas damar yang kemudian duduk di sampingku
Aku hanya tersenyum melihat mas damar yang tampak kelelahan...
"Ternyata bersih-bersih rumah itu cukup melelahkan, walaupun setiap hari kamu yang harus membersihkannya sendiri tapi kamu tidak pernah mengeluh" ucap mas damar
"Tidak apa-apa mas, ini sudah tugas vivian, dan juga vivian sudah biasa melakukannya" ucapku
"Kamu memang istri kecil ku yang baik" ucap mas damar
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mas damar
"Kalau kamu merasa lelah untuk membersihkan rumah sendiri, mas bisa mencarikan pembantu untuk meringankan bebanmu" ucap mas damar
"Tidak apa-apa mas, vivian bisa melakukannya sendiri" ucap ku menolak tawaran mas damar
"Emm... baiklah kalau begitu, kalau kamu butuh sesuatu katakan saja kepada mas yah" ucap mas damar
"Iya mas..." ucapku
Tiba-tiba
KRING...KRING...KRING... Suara telpon
"Mas sepertinya ada telpon" ucapku
"Oh iya..." ucap mas damar yang kemudian berdiri dan melangkah menuju telpon yang berada di atas meja
Aku hanya melihat mas damar dari kejauhan
Mas damar mengangkat gagang telpon dan meletakannya di telinga nya
"Halo..." ucap mas damar
Mungkin tidak baik bagiku untuk mendengar pembicaraan mereka, lebih baik aku pergi ke kamar saja...
"Mas, vivian ke kamar dulu yah" ucapku
Mas damar hanya memberikan kode di tangannya yang berarti OK
Aku pun berjalan ke kamar...
*****
Kamar
Aku pun hanya duduk di kamar, sampai akhirnya...
__ADS_1
KRET... Suara pintu
Dan terlihat mas damar yang melangkah ke dalam kamar
"Eh mas, Sudah telponnya?" tanya ku
"Emm... iya..." ucap mas damar yang tampak ragu
Aku melihat raut wajah mas damar yang terlihat murung, karena penasaran aku pun bertanya kepada mas damar
"Mas kenapa?" tanya ku
"Emm... Hari ini mas ada rapat penting di kantor, jadi mas harus ke kantor sekarang juga" ucap mas damar
"Emm... begitu" ucapku
Mas damar hanya terdiam menatapku sampai akhirnya
"Vivian... kamu tidak masalah kan?" tanya mas damar
Apakah mas damar mengkhawatirkan aku...
"Tentu saja tidak, mas sudah cukup membantu vivian hari ini. Lagi pula tugas kantor lebih penting" ucapku agar mas damar tidak perlu mengkhawatirkan aku
"Terimakasih Vivian, karena sudah mengerti mas" ucap mas damar sambil mengusap rambutku
Aku hanya tersenyum...
"Mas siap-siap dulu yah" ucap mas damar
"Mas... biar vivian saja yang siapkan perlengkapan mas" ucap ku
"Baiklah kalau begitu..." ucap mas damar
Aku pun berjalan ke arah lemari dan mencarikan baju untuk mas damar ke kantor
Beberapa saat kemudian...
Mas damar pun sudah rapih dengan pakaiannya
Dan akhirnya aku mengantar mas damar ke depan rumah...
"Mas hati-hati yah..." ucapku sambil memberikan tas berwarna hitam itu kepada mas damar
"Iya, kamu juga yah" ucap mas damar
"Kalau kerjaannya sudah selesai cepat pulang" ucapku
"Iya, setelah pekerjaan mas selesai mas akan cepat pulang, mas juga tidak mau istri mas yang cantik ini menunggu terlalu lama..." ucap mas damar
"Mas pergi dulu yah..." ucap mas damar sambil membalikan badannya
"Hati-hati mas..." ucapku sambil melambaikan tanganku
"iya..." ucap mas damar sambil melambaikan tangannya di dalam mobil
Mas damar pun pergi menggunakan mobil
Aku hanya tersenyum dan kemudian masuk ke dalam rumah...
*****
Rumah ini begitu sepi saat mas damar pergi, karena di rumah sebesar ini hanya ada aku sendiri
Tiba-tiba saja aku teringat pada ibu...
walaupun rumah kami sederhana tapi tidak pernah terasa sepi karena ibu selalu berada di sampingku, dan ibu juga selalu berada di rumah
Di saat seperti ini aku sangat merindukan ibu, aku tidak tau bagaimana kabarnya setelah hari pernikahan itu
Aku bahkan belum pernah pergi rumah ku setelah hari pernikahan, sungguh membuatku menjadi seperti orang asing saja
Untuk saat ini mungkin aku tidak bisa pulang, walaupun aku merindukan ibu aku juga belum bisa pulang saat ini
selain harus meminta izin mas damar dulu, tampaknya mas damar sibuk dan aku juga tidak mau mengganggu pekerjaannya
Mungkin saat ini aku hanya bisa menelpon ibu saja...
Aku pun memutuskan untuk menelpon ibu...
Aku pun berjalan ke kamar untuk mengambil telpon
Beberapa saat kemudian...
Kamar...
Aku menarik nafas panjang dan kemudian menelpon ibu
*****(Pembicaraan lewat telpon)
"Halo ini siapa?..." Suara dari dalam telpon
Tiba-tiba saja aku tertegun, aku sangat mengenali suara ini
__ADS_1
Ini suara ibu...
Tak terasa air mata terjatuh dari pipiku, aku sangat senang bercampur haru bisa mendengar suara ibu
"Halo..." Suara di dalam telpon
"Halo ibu, ini vivian..." ucapku gemetar
"Ya allah vivian..." ucap ibu yang seakan terhenti
"Ibu vivian kangen..." ucapku dengan suara manja dan menitihkan air mataku
"Kamu ini... masih saja seperti anak kecil" ucap ibu
Aku pun menghela nafas panjang dan bersikap tenang
"Ibu apa kabar?" tanya ku kepada ibu
"Alhamdulilah kabar ibu baik, kamu sendiri apa kabar?" tanya ibu
"Alhamdulilah vivian baik bu" ucapku
"Nak damar apa kabar?" tanya ibu
"Alhamdulilah mas damar juga baik" ucap ku
"Syukurlah... Tapi kemana nak damar ibu ingin mendengar suaranya" ucap ibu
"Emm... ibu, mas damar baru saja pergi ke kantor" ucapku
"Hari minggu masih ke kantor?" tanya ibu dengan nada tinggi
"Iya bu, mas damar ada rapat penting jadi harus segera ke kantor" ucapku
"Oh begitu... Nak Damar memang anak yang baik, walaupun dia sibuk, tapi dia selalu saja menepatkan waktu menelpon ibu" ucap ibu
"APA? Mas damar menelpon ibu?" ucapku yang terkejut bercampur rasa penasaran
"Iya... Nak Damar selalu menempatkan waktu menelpon ibu saat dia ada waktu, dan beberapa hari yang lalu nak damar mampir ke rumah mengobrol dengan ibu, nak damar juga membeli beberapa bingkisan dan Buah-buahan untuk ibu" ucapku
Mas damar... Batinku
Aku sungguh merasa bersalah saja kepada mas damar...
Aku berfikir setelah aku menjadi istrinya mungkin aku akan menjauh dari ibu dan bersamanya, itulah yang membuat langkah ku berat saat itu
Tetapi ternyata mas damar lah yang lebih memperhatikan ibu daripada aku
Aku bersalah karena telah salah menilai mas damar selama ini...
"Ibu mengobrol apa saja dengan mas damar?" tanya ku penasaran
"Nak damar hanya mengatakan kamu sekarang kuliah, jadi kamu sedikit sibuk setelah itu kamu juga yang mengurus rumah seorang diri, dan selalu melayani nak damar dengan baik. Ibu sangat senang sekarang kamu menjadi seorang istri yang baik dan bertanggung jawab" ucap ibu
Aku merasa tersentuh, dan terharu mendengarnya...
Aku tidak tau lagi ingin berkata apa, air mata menetes untuk yang ke sekian kalinya...
"Ibu maafkan vivian... karena tidak menelpon ibu selama ini" ucapku merasa bersalah
"Tidak apa-apa nak, ibu bersyukur kamu baik-baik saja" ucap ibu
"Terimakasih ibu..." ucapku
Aku rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara dengan ibu...
"Ibu sepertinya vivian ada urusan, nanti vivian telpon lagi" ucap ku untuk menutup pembicaraan
"Baiklah kalau begitu..." ucap ibu
"Assalamu'alaikum..." ucapku
"Wa'alaikum salam..." ucap ibu
Tuut... Suara telpon di matikan
*****
Aku hanya menggengam telpon di tanganku dengan erat, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan
Perasaan ku campur aduk, satu hal yang aku inginkan saat ini adalah bertemu dengan mas damar...
Aku rasanya ingin sekali memeluk mas damar dengan erat dan mengatakan terimakasih untuk semua yang mas damar lakukan untuk ku
Mungkin kata terimakasih tidaklah cukup, tapi dari lubuk hatiku yang terdalam sepertinya aku merasakan sesuatu yang berbeda kepada mas damar, perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan
Mungkin hatiku sudah tergerak untuk mas damar, Mungkinkah aku telah mencintainya...
Aku tidak tau sejak kapan, tapi perasaan ini bergejolak begitu saja pada diriku
Aku hanya menyesali diriku yang bodoh dan tidak pernah memahami suamiku sendiri
"Mas damar maafkan vivian, vivian telah bersalah kepada mas selama ini, Sekang vivian akan berusaha menjalankan kewajiban vivian sebagai istri yang sesungguhnya" ucapku dengan deraian air mata
__ADS_1
*Bersambung...