
Keesokan harinya...
Aku bangun pagi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, kak damar pun sudah berpakaian rapih dan sepertinya sudah siap mengantarkan aku ke kampus
"Ayo kita berangkat ke kampus sekarang" ucap kak damar sambil memengang tangan ku dan melangkah keluar rumah
aku hanya mengikuti langkah kak damar sampai akhirnya aku naik ke dalam mobil
Kak damar membawa ku ke Universitas A, yaitu universitas yang kami bicarakan semalam. Tempat Tia dan Dina kuliah juga
Aku sangat senang sekali membayangkan akhirnya aku bisa kuliah dan berkumpul bersama teman-teman ku, aku sudah tidak sabar lagi untuk bisa secepatnya pergi ke Universitas itu
Sesampainya di kampus...
"Ayo turun..." ucap kak damar sambil membukakan pintu mobil nya untukku
"Iya, terimakasih kak" ucap ku sambil melangkah turun dari mobil
"Ayo kita masuk" ucap kak damar sambil memegang tanganku dan berjalan memasuki kampus
"Vivian tidak menyangka, ternyata kampus nya sebesar ini" ucap ku yang senang dan kagum
"Haha... kamu ini ada-ada saja, namanya juga Kampus pasti besar" ucap kak damar sambil tersenyum
Aku hanya menunduk malu...
Tetapi tiba-tiba saja
"VIVIAN..." teriak Tia dan dan Dina yang berlari ke arahku
"Tia, Dina..." aku pun melangkah ke depan, merentangkan tanganku dan memeluk mereka
Sudah lama sejak terakhir kali kami berpelukan seperti ini, aku pun terhanyut berpelukan dengan mereka
Beberapa saat kemudian...
"Ehemm..., vivian seperti nya aku harus pergi ke kantor" ucap kak damar canggung
Aku pun hampir lupa bahwa kak damar ada di samping ku
"Iya kak..." ucap ku sambil berjalan ke arah kak damar, setelah itu aku menggengam dan mencium tangan kak damar
"Baik-baik di sini yah, kalau ada apa-apa telpon aku" ucap kak damar sambil mengusap rambutku
aku hanya mengangguk dan tersenyum kepada kak damar
Kak damar pun melangkah pergi meninggalkan aku bersama teman-teman ku
Di sisi lain...
__ADS_1
"Ceilah, Di anter suami pergi ke kampus cocwit banget" ucap Dina seperti sedang menyinggungku
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dina
"Vivian kita udah nungguin kamu di kampus dari tadi tau gak" ucap tia
"Kenapa kalian bisa tau aku kuliah di sini, padahal kan aku belum kasih tau kalian?" ucap ku penasaran
"Kemarin kita ketemu sama suami kamu, dan dia bilang kamu akan kuliah di sini, jadi kami datang pagi-pagi ke kampus untuk menyambut kamu. hehehe" ucap Dina
Kak damar... Batin ku
"Terimakasih yah teman-teman" ucap ku yang senang akhirnya bisa berkumpul bersama mereka lagi
"Oh ya vivian, karena kamu mahasiswa baru di sini, kamu pasti gk tau jalan kan. Tapi tenang aja biar aku yang anter kamu" ucap tia sambil menarik tanganku
"Tapi aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama vivian" ucap dina komplen
"Nanti pulang kuliah aja, baru kita ngobrol-ngobrol" ucap tia
Akhirnya aku berjalan memasuki kampus dan di antar oleh tia dan dina
Pulang kuliah...
Aku berjalan keluar ruangan...
"Vivian..." ucap tia sambil melambaikan tangannya
"Gimana kuliahnya, lancar?" tanya dina
"Alhamdulilah lancar, aku seneng banget bisa kuliah" ucapku senang
"Oh ya vivian, aku tuh kagum banget sama suami kamu, dia itu laki-laki yang baik. jarang ada suami yang mendukung istrinya kayak suami kamu itu" ucap tia
"iya nih, aku juga iri banget sama kamu, udah suami kamu ganteng, baik dan mendukung istri banget" ucap dina
aku hanya terdiam mendengar ucapan mereka, memang kak damar adalah laki-laki yang baik. selain baik dia juga suami yang bertanggung jawab, jarang sekali ada suami yang mendukung mimpi istrinya seperti kak damar ini
"Iya, kak damar memang suami yang baik" ucap ku
"Emmm vivian..." ucap tia seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi sedikit ragu
"Ada apa tia?" ucapku penasaran
"Kamu menyebut suami kamu, Kak damar ?" ucap tia
"iya, aku biasa memanggilnya kak damar, memangnya kenapa?" ucap ku penasaran
"Bukannya apa-apa yah, tapi rasanya kalau kamu panggil suami kamu kakak bukannya terasa jauh, jadi bukan seperti suami istri, tapi terlihat seperti kakak beradik gitu" ucap tia memberikan pendapatnya
__ADS_1
Aku hanya tertegun mendengar ucapan tia, memang benar rasanya memanggil kakak kepada seorang suami itu rasanya sangat canggung, bukan seperti layaknya seorang istri memanggil suami pada umumnya
"Iya, memang bener sih, aku juga merasakan hal yang sama. tapi aku bingung harus memanggilnya apa selain kakak?" ucap ku bingung
"Emm... gimana kalau kamu panggil suami kamu sayang aja" ucap dina
"Apa? sayang..." ucap ku terkejut mendengar ucapan dina
"Hei, kenapa kamu kaget gitu vivian, emangnya salah kalau panggil suami sendiri sayang" ucap dina
"Enggak apa-apa sih, tapi itu terlalu..." ucap ku yang terputus karena malu
aku baru teringat saat kemarin aku mengatakan sayang, kak damar langsung antusias begitu, lagi pula aku malu kalau harus memanggilnya dengan panggilan seperti itu...
"Kalau Sayang sih terlalu gimana gitu, Tapi kalau kamu panggil suami kamu Mas aja gimana?" ucap tia
"Mas?" ucapku bingung
"iya, gimana kalau kak damar kamu ganti jadi mas damar, bukannya itu jadi terasa seperti panggilan istri ke suaminya pada umumnya" ucap tia
"Apaan sih Tia, Mas itu katro, Jangan vivian, panggil aja kak damar suamiku hehe" ucap dina gurau
Aku pun sedang berfikir tentang ucapan tia, rasanya memanggil kak damar menjadi mas damar juga tidak terlalu buruk, lagipula hubungan kami juga akan terasa seperti panggilan seorang istri kepada suami pada umumnya
"Makasih tia untuk sarannya, saat aku pulang nanti aku akan panggil kak damar menjadi mas damar" ucap ku senang
"iya sama-sama, aku juga ikut senang kalau kamu senang" ucap tia
"Kenapa kamu malah ngikutin saran Tia dan gak ikutin saran ku panggil kak damar suamiku aja" ucap dina komplen
"Udah panggilan itu lo kasih buat suami lo aja nanti di masa depan dina" ucap tia menyindir, sambil merangkul dina
"Awas lo yah, gue nikah nanti gue gk bakal undang lo tia" ucap dina ngambek
"Bodo amat, orang pacar aja lo gk punya, gimana mau nikah" ucap tia menyindir dina
"Kurang ajar lo tia, lo juga jomlo so belaga nyindir gue lagi" ucap dina kesal
aku pun hanya tertawa melihat tingkah mereka, mereka masih sama seperti dulu, suka ribut dan saling sindir satu sama lain. Tapi walaupun begitu kami sudah bersama selama bertahun-tahun. walaupun kami selalu ribut itu tidak membuat kami saling membenci ataupun berselisih
Perbedaan pendapat membuat Persahabatan kami menjadi lebih berwarna, hal ini lah yang selalu aku rindukan, bukan seperti sahabat tapi layaknya saudara
"Vivian, ayo kita pulang" ucap tia
aku hanya mengangguk dan berjalan pulang bersama mereka
*****
Aku ingin segera pulang, aku ingin bertemu kak damar, dan memanggil kak damar dengan panggilan baru, yaitu Mas damar.
__ADS_1
Apakah kak damar akan senang kalau dia mendengar aku memanggilnya dengan panggilan seperti itu...
*Bersambung......