Suami Pilihan Ibu

Suami Pilihan Ibu
Saran


__ADS_3

Kantin


Aku baru saja sampai di kantin, biasanya aku yang sampai duluan tapi kelas ku baru saja selesai, aku harap tia dan dina tidak menungguku terlalu lama


"Vivian... sini..." teriak tia sambil melambaikan tangannya kepadaku


"Hei... vivian" ucap dina sambil melambaikan tangannya


Aku pun melambaikan tanganku sambil melangkah ke tempat tia dan dina


"Maaf semuanya aku datang terlambat..." ucapku yang baru saja sampai


"Biasanya kamu yang datang duluan, tapi bisa terlambat juga" ucap dina menyindirku


"Kelasku baru saja selesai, terus tadi aku juga sekalian pergi mengantarkan buku catatan dosen ke ruangannya" ucapku sambil duduk di kursi


"Wah, vivian ternyata seorang mahasiswa yang teladan yah" ucap tia


"Yoi..." ucap dina mengiyakan perkataan tia


"Enggak kok, tadi itu juga cuma kebetulan searah jadi sekalian aja aku anterin catatan dosen ke ruangannya" ucapku


"Emm... begitu..." ucap tia


"Udah jangan banyak omong, kita makan dulu yuk, aku udah laper dari tadi nungguin vivian" ucap dina


"iya, maaf deh... aku gak sengaja" ucap ku merasa bersalah


"Yaudah vivian jangan peduliin dina, ayo kita makan juga" ucap tia


Aku hanya mengangguk mendengar perkataan tia


Beberapa saat kemudian...


*****(Selesai makan)


"Oh ya vivian, apa tadi kamu berangkat ke kampus bareng kak damar?" tanya tia


"Emm... tadi pagi aku berangkat naik taksi" jawab ku


"Enggak di anterin kak damar?" tanya tia


"Emm... tadi pagi sebenarnya mas damar mengajak aku pergi bersama tapi aku menolak karena tidak ingin merepotkannya" ucap ku


"Bukannya itu memang tugas kak damar sebagai seorang suami?" tanya dina


"Memang benar sih, tapi aku tidak mau merepotkan mas damar hanya untuk hal yang masih bisa aku atasi sendiri. Dan aku juga tidak mau terus bergantung kepada mas damar" ucapku


"Astaga, vivian kita yang dulu sudah berbeda, Sekarang vivian kita berubah menjadi sosok istri yang baik" ucap tia


"Iya, beruntung sekali kak damar mempunyai istri seperti kamu ini" ucap dina


Aku hanya terdiam mendengar ucapan tia dan dina


Aku adalah istri yang baik?, Mas damar beruntung memiliki istri sepertiku?...


Kata-kata itu sontak saja membuatku terdiam


Sebenarnya siapa yang beruntung di sini, mas damar atau aku? Timbul banyak pertanyaan di benak ku


sungguh aku tidak tau apa aku pantas mendapatkan pujian seperti itu, jika di bandingkan dengan mas damar aku bukanlah apa-apa.


Aku hanyalah sebagai pelengkap, tanpa aku pun mas damar sebenarnya adalah seorang pria yang hebat


sementara aku? istri macam apa aku yang bahkan belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri


Apakah aku senang di puji seperti itu?


jawabanku... tidak!!!


aku malah malu karena belum pantas menerima pujian seperti itu


*****


"Vivian..." ucap tia sambil melambaikan tangannya di wajahku

__ADS_1


"Eh, iya..." ucapku yang terkejut


"kamu bengong kenapa?" tanya tia


"Aku tidak apa-apa kok, Oh yah aku lupa, aku mau berterimakasih kepada kalian berdua" ucapku mengalihkan topik pembicaraan


"Berterimakasih untuk apa?" tanya tia


"Yah Karena berkat saran dari kalian kemarin, akhirnya sekarang hubunganku dengan mas damar semakin membaik" ucapku


"Benarkan apa yang aku bilang" ucap dina


"Syukurlah... aku jadi senang mendengarnya" ucap tia


"Aku gak tau lagi harus bagaimana caraku untuk membalas kebaikan kalian" ucapku


"Apaan sih vivian, kita kan teman memang seharusnya begitu. Jangan sungkan kayak begitulah" ucap dina


"iya nih vivian, kamu dan kak damar bahagia aja kami senang mendengarnya" ucap tia


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka berdua, sampai akhirnya...


"Oh ya vivian, aku mau tanya" ucap dina


"Tanya apa?" ucapku penasaran


"Kak damar usia nya berapa?" ucap dina


Aku tertegun mendengar pertanyaan dina, bagaimana caraku menjawabnya bahkan aku sendiri pun tidak tau usia mas damar


pertanyaan dina ini memang terkesan asal tapi membuatku bingung, apa yang harus aku katakan...


"Emm... aku tidak tau usia mas damar" ucap ku yang sedikit ragu mengatakannya


"Apa???" ucap dina terkejut


"Yang bener?, seriusan nih?" ucap tia seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan


"Emm... yah aku beneran gak tau usia mas damar" ucap ku meyakinkan mereka


"Emm... Selain namanya aku tidak tau apapun tentang nya" ucap ku


"Kamu tidak tau apa-apa tentang kak damar, gimana kamu bisa menikah dengannya" tanya dina


Lagi-lagi perkataan dina membuatku terdiam, aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan pada mereka. Semua ini cukup rumit


"Eh, maaf Vivian... Aku salah bicara yah" ucap dina merasa bersalah


"Eh, ga papa kok... Sebenarnya semua ini cukup rumit untuk di jelaskan" ucap ku


"Tapi apakah kamu melakukan pernikahan itu karena terpaksa?" tanya tia


Namun sepertinya pada akhirnya aku harus menjelaskannya juga...


"Memang awalnya aku menolak karena terlalu mendadak, dan aku juga belum siap. tapi pada akhirnya aku menerima pernikahan ini karena tidak ingin mengecewakan ibu, aku juga sempat berbincang-bincang dengan mas damar waktu itu


Saat itu mas damar terlihat tulus dan tidak memaksaku. Maka dari itu aku mencoba untuk menjalaninya


Dan sepertinya keputusan ku juga tidak salah untuk menerima pernikan ini, aku senang karena akhirnya bisa melihat ibu bahagia, dan juga mas damar adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, aku beruntung menjadi istri mas damar" ucapku menjelaskan kepada mereka


"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya..." ucap tia


"Iya vivian, aku juga sebagai temanmu akan selalu mendukung mu selama kamu bahagia" ucap dina


"Terimakasih teman-teman" ucap ku terharu mendengar perkataan mereka


Mereka hanya tersenyum menatapku...


"Tapi vivian sepertinya aku memiliki sebuah saran" ucap tia


"Apa itu?" ucap ku penasaran


"Kamu kan belum tau apapun tentang kak damar jadi mulai sekarang sering-seringlah berkomunikasi sama kak damar, jadi kalian kan bisa saling tau dan memahami karakter satu sama lain" ucap tia


"Iya vivian bener kata tia, kamu harus sering berkomunikasi sama kak damar, kalau ada waktu luang ajak kak damar jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama supaya hubungan kalian itu semakin erat" ucap dina

__ADS_1


Kalau di fikir-fikir perkataan mereka ada benarnya juga, aku jarang sekali mengobrol bersama mas damar. Mungkin aku bisa mencoba saran dari mereka


"Emm... terimakasih yah teman-teman untuk sarannya, aku akan mencobanya. Semoga aja setelah ini aku bisa lebih tau dan memahami mas damar" ucap ku


"Bagus, memang seharusnya begitu. jadi kamu jangan cuma nunggu kak damar bertindak, kamu juga harus bertindak" ucap tia sambil menggepalkan tangannya


Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah tia


"Bener tuh, Oh yah kalau gak salah inget besok kan akhir pekan" ucap dina


"Gak salah inget?, besok itu memang akhir pekan dina. Emangnya di rumah lo gak ada kalender" ucap tia menyindir


"Bukan gitu, gue juga kan agak menerka-nerka gitu" ucap dina


"Gue tuh suka gak paham sama bahasa lo tuh, emang nya kenapa kalau besok akhir pekan? lo kan jomlo gak kemana-mana juga" ucap tia


"Ni orang emang suka bikin emosi, bukan begitu maksud gue" ucap dina


"Terus maksudnya apa?, lo tuh kalo ngomong suka berbelit-belit" ucap tia


"Jadi gini nona Septia... Kalau besok akhir pekan vivian kan jadi punya waktu sama kak damar buat berduaan hehe..." ucap dina sambil tertawa kecil


"Apa kamu bilang..." ucap ku terkejut mendengar perkataan dina


"haha... Oh begitu, bilang dong dari tadi" ucap tia sambil menepuk punduk dina


"Gue tadi mau bilang gitu, lo nya aja yang keburu nyerocos " ucap dina


"Haha... masa sih???" ucap tia dengan nada bicara provokasi


"Ni orang emang minta di tampol" ucap dina dengan nada kesal


"Hei udah-udah jangan ribut, aduh kalian ini" ucapku untuk menenangkan mereka


Kami terdiam sejenak... lalu


"Gimana vivian, saranku?" tanya dina


"Emm..." ucap ku sambil berfikir apa yang harus aku jawab


Tiba-tiba


"Emang dasar dina tuh polos banget, mereka itu kan suami istri jadi gak usah di tanya-tanya lagi. Vivian juga tau apa yang harus dia lakukan, kalau di tanya-tanya terus kan vivian jadinya malu" ucap tia sambil memandang wajahku dan memberikan isyarat kepada dina


"Oh gitu,,, aku ngerti.... hehe... maaf yah vivian" ucap dina


"Eh, kalian ini apaan sih" ucap ku sedikit canggung


"Vivian, kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berduaan sama kak damar" ucap tia


"Semoga aja besok hujan, jadi kalian bisa saling menghangatkan satu sama lain" ucap dina


"Aduh kalian berdua ini... udah ahh aku mau balik ke kelas duluan..." ucap ku sambil berdiri


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena malu bercampur gugup mendengar ucapan mereka


Aku pun bergegas melangkah meninggalkan mereka


"Vivian... tunggu..." ucap tia mengejarku


"Hei-hei vivian malu nih yeh..." ucap dina sambil menepuk pundak ku


"Aduh, dina ini apaan sih" ucap ku dengan nada kesal


Setelah itu kami pun berjalan sambil tertawa bersama...


*****


Sepertinya saran dari mereka agar aku berkomunikasi dengan mas damar harus segera aku coba


Besok adalah akhir pekan, memang waktu yang tepat untuk ku mengobrol bersama mas damar


Aku ingin tau tentang dirinya dan semua hal tentangnya agar aku bisa lebih memahami dirinya...


*Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2