
Keesokan harinya...
Aku membuka mata dan kemudian bangun dari tidurku, saat tersadar aku melihat selimut yang menyelimuti tubuhku
Sepertinya kemarin aku ketiduran...
Setelah itu aku menengok ke samping, dan mas damar tidak ada di sampingku
aku selalu bangun pagi, bahkan lebih pagi dari biasanya jam dinding pun menunjukan pukul 04.30 pagi, tapi masih saja kalah pagi di banding mas damar
Sebenarnya mas damar ini bangun jam berapa sih...
Setelah itu aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diriku
Beberapa saat kemudian...
Aku sudah mandi dan mengenakan pakaian, dan setelah itu aku berkeliling rumah
Tapi mas damar sama sekali tidak ada di dalam rumah
Kemana mas damar, biasanya kalau mas damar pergi selalu memberitahuku...
Dan ini masih terlalu pagi bahkan untuk sekedar berjalan ke luar rumah
Aku pun duduk di sofa dan menunggu mas damar, tetapi
Tiba-tiba
Ceklek... Suara pintu terbuka
Spontan saja aku terkejut...
Suara itu berasal dari pintu depan, aku tidak tau siapa yang datang pagi-pagi begini
Kalau mas damar pasti akan mengetuk pintu dulu, ini pasti orang jahat atau seorang pencuri...
Aku panik dan kemudian mengambil sapu, setelah itu berlajan pelan untuk memastikan
Terlihat seseorang menggunakan jaket berwarna hitam dan wajahnya tertutupi oleh jaketnya itu
Ternyata dugaan ku benar sepertinya dia adalah orang jahat, mas damar kemana kamu mas... istrimu sedang dalam bahaya saat ini...
Seseorang itu berjalan pelan menuju kamar ku
Aku pun memberanikan diriku dan mengikuti langkahnya
Setelah itu dia terdiam di depan pintu kamar ku dan hendak membuka jaketnya
Aku takut dia akan mengambil senjata tajam dan akan menyerangku nantinya
Karena dia mulai lengah, akupun dengan berani memukulnya menggunakan sapu
"PERGI KAMU ORANG JAHAT, JANGAN DATANG KEMARI LAGI" Teriakku sambil memukul orang itu menggunakan sapu yang berada di tanganku
"ADUH... VIVIAN SUDAH, INI MAS" ucap orang itu sambil menahan sapu
"EH, MAS..." Ucap ku yang terkejut melihat mas damar
"Iya ini mas, jangan di pukul lagi yah..." ucap mas damar
"Maaf mas... vivian fikir mas orang jahat" ucap ku merasa bersalah dan melepaskan sapu yang berada di tanganku
Mas damar hanya terdiam, kemudian..
"Iya tidak apa-apa, mas mengerti kamu panik. Lagian ini juga salah mas yang bertingkah seperti pencuri" ucap mas damar
Sebenarnya aku sedikit ragu tapi aku penasaran, dan akhirnya bertanya kepada mas damar
"Emm... kenapa mas berpakaian seperti ini?" tanya ku
Mas damar hanya tersenyum menatapku
"Nanti mas jelaskan tapi kita masuk ke kamar dulu yah, mas mau ganti baju..." ucap mas damar sambil mengusap rambutku
"Iya mas ..." ucapku
mas damar pun masuk ke dalam kamar, kemudian aku pun mengikuti mas damar masuk ke dalam kamar
*****
__ADS_1
Kamar...
Aku pun duduk di samping ranjang dan melihat mas damar yang baru saja berganti baju
Setelah itu mas damar duduk di sampingku
"Mas tadi kemana, kenapa tidak memberitahu vivian?" tanyaku
"Emm... Mas tadi ada urusan, Sebenarnya mas juga ingin memberitahu mu tapi kamu masih tertidur, mas tidak tega kalau harus membangunkanmu..." ucap mas damar
Sebenarnya aku masih penasaran, kemana mas damar pergi walaupun memang ada urusan, apakah perlu sepagi ini...
Tapi aku merasa kurang tepat untuk bertanya, karena sepertinya mas damar juga tidak ingin menjelaskan hal ini
yang terpenting mas damar baik-baik saja itu yang lebih penting
"Emm... begitu, untunglah mas baik-baik saja" ucapku
Mas damar hanya menatapku dan tersenyum
"Tapi sepertinya mas tidak baik-baik saja, karena tadi baru saja mas habis dipukuli oleh istri mas sendiri" ucap mas damar dengan ekspresi seperti orang yang sudah di aniaya
"Emm... maaf mas, vivian tidak sengaja" ucapku merasa bersalah
"Iya mas sudah maafkan, tapi mas merasa tidak nyaman, badan mas sakit" ucap mas damar
Aku tadi memang memukulnya sangat keras, karena aku fikir memang mas damar penjahat jadi aku mengerahkan seluruh tenaga ku
"Sebelah mana yang sakit mas?" tanya ku panik
"Sebelah sini..." ucap mas damar sambil mengusap dada nya
Perasaan tadi aku memukul punggung dan hanya bagian belakangnya, kenapa malah dada yang sakit...
Sebenarnya aku merasa aneh, tapi yasudahlah memang salahku juga...
"Yang ini..." ucapku sambil menyentuh dadanya
"Iya... tapi kurang tepat" ucap mas damar sambil memegang tanganku dan mengarahkannya ke sebelah kiri dadanya
"Sebelah sini yang sakit" ucap mas damar
Mas damar menggenggam erat tanganku yang berada di dadanya, dan kemudian tangan yang satunya memegang kepala ku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya
Aku pun tak bereaksi apa-apa sampai akhirnya bibir mas damar menyentuh bibirku
"UMMM..."
"EMMM..."
"UMMM"
"HAhhh" Nafas berat
"Sepertinya rasa sakitnya telah hilang" ucap mas damar sambil tersenyum dan melepaskan tangannya dari wajahku
"Mas ini, kenapa malah mencium vivian tiba-tiba" ucap ku protes kepada mas damar
"Emm... Ini adalah kompensasi karena tadi kamu sudah menganiaya mas" ucap mas
Menganiaya... Batinku
"Lagi pula bukannya kata kamu kalau mas mau mencium mu tidak perlu bertanya lagi, jadi mas hanya melaksana perintah yang kamu berikan saja" ucap mas damar
Kenapa suamiku ini berubah menjadi menyebalkan seperti ini sih... Batinku menggerutu
Aku sepertinya kalah kali ini, mas damar pintar sekali membuat alasan
Mas damar yang seperti ini rasanya berbeda sekali dengan mas damar yang ku kenal kemarin
Daripada memikirkan hal ini lebih baik aku membuat sarapan...
"Mas, Vivian membuat sarapan dulu yah..." ucap ku sambil berdiri
"Emm... iya, mas juga ada ada beberapa pekerjaan, jadi mas juga akan pergi ke ruang kerja dulu sebentar" ucap mas damar
Aku pun mengangguk dan kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Aku sudah selesai membuat sarapan dan menghidangkannya di meja
Setelah itu aku menunggu mas damar beberapa saat, tapi mas damar belum datang juga
Sepertinya aku tidak bisa menunggu mas damar lebih lama lagi, aku takut nanti sarapannya dingin
Daripada itu, mas damar tadi bilang dia ada beberapa pekerjaan, aku takut mas damar bekerja tetapi belum sarapan. itu tidak baik untuk kesehatannya
Akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi ke ruang kerja mas damar
Ruang kerja...
Aku berada di depan pintu ruang kerja mas damar
Tok...tok...tok... Suara mengetuk pintu
"Mas... ini vivian" ucap ku sambil terus mengetuk pintu tetapi mas damar tidak menjawab ku
Aku pun memegang gagang pintu dan ternyata pintunya tidak di kunci
aku memberanikan diriku dan masuk ke dalam ruang kerja mas damar
Setelah itu aku melihat mas damar sedang berada di sudut ruangan sambil menggenggam ponsel dan meletakannya di telinganya, aku fikir mungkin mas damar sedang menelpon seseorang
Tetapi jarak ku dan mas damar agak jauh, jadi aku tidak bisa mendengar apapun dan rasanya juga kurang sopan kalau aku menguping pembicaraannya
tetapi aku melihat dokumen yang berantakan di meja mas damar, aku berfikir untuk membereskannya
Akhirnya aku melangkah mendekati meja itu dan...
Tiba-tiba
Mas damar membalikan badannya...
"EH, VIVIAN..." ucap mas damar yang terkejut dan langsung mematikan teleponnya
"Eh, Mas..." ucap ku yang terkejut bersamaan
"Kenapa kamu di sini?" tanya mas damar yang tampak panik
Aku tidak tau apa yang sebenarnya mas damar fikirkan, dan aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi
"Vivian mau mengajak mas untuk sarapan, vivian sudah menunggu tapi mas belum datang juga, takut sarapannya keburu dingin jadi vivian kesini untuk mengajak mas sarapan bersama" ucapku mengalihkan topik pembicaraan
"Emm... begitu, maafkan mas karena sudah membuatmu menunggu begitu lama, ayo kita sarapan..." ucap mas damar sambil mengusap rambutku
"Iya mas..." ucap ku sambil mengangguk
*****
Aku pun duduk dan sarapan bersama mas damar, tetapi melihat ekspresi wajah mas damar aku merasa mas damar sedang mengkhawatirkan sesuatu
Karena penasaran aku pun bertanya kepada mas damar
"Mas kenapa?" tanya ku
"Emm... vivian, tadi saat di ruang kerja kamu mendengar apa saja?" tanya mas damar
Sebenarnya aku yang bertanya terlebih dulu, tapi mas damar malah balik bertanya kepadaku
aku tidak ingin ada kesalahfaham, jadi aku pun menjelaskan semuanya kepada mas damar
"Tadi sebenarnya sebelum masuk ke ruangan mas vivian mengetuk pintu dulu, tetapi mas tidak menjawab dan pintu mas juga tidak di kunci, jadi vivian berfikir untuk masuk dan mengajak mas untuk sarapan bersama, tapi vivian melihat mas sedang menelpon jadi vivian tidak ingin mengganggu
Vivian tidak mendengar apa-apa mas, dan vivian juga tidak berniat untuk mendengarkan percakapan mas, karena tadi melihat meja mas berantakan vivian berniat untuk membereskannya tetapi mas damar tiba-tiba saja berbalik badan dan terkejut, setelah itu mas juga tau apa yang terjadi" ucap ku menjelaskannya kepada mas damar
"Emm begitu, syukurlah..." ucap mas damar dengan raut wajah yang sedikit tenang
Aku tidak tau apa yang mas damar khawatirkan kalau sampai aku mendengar percakapannya, tetapi rasanya juga tidak mungkin bagiku untuk bertanya kepada mas damar
melihat mas damar yang khawatir seperti itu, aku berfikir mungkin ini bukanlah hal yang mudah untuk aku fahami saat ini
Sebenarnya dari awal, sebelum pernikahan aku merasa penasaran dengan identitas mas damar
Dari sikap para karyawan di toko itu sangat berbeda kepada mas damar, dan juga seperti sangat menghormatinya
Dan saat itu juga aku pun bertanya-tanya, dan ingin tau kebenarannya, siapa sebenarnya suamiku ini...
*Bersambung...
__ADS_1