
Beberapa Saat kemudian...
"Akhirnya beres juga..." Ucap mas Damar sambil menutup koper
Aku tidak menyangka bisa selesai secepat ini, Mungkin karena di bantu Mas Damar jadi pekerjaanku cepat selesai
"Syukurlah... Karena semuanya sudah beres, Sekarang Mas harus segera istirahat" ucap ku yang hendak merangkak ke atas ranjang
"Sepertinya kamu melupakan sesuatu" Ucap Mas Damar Yang kemudian memegang tanganku
"Eh..." ucap ku yang spontan saja menengok dan menatap wajah Mas Damar
Sepertinya aku punya firasat buruk, ekspresi wajah Mas Damat saat ini seperti mempunyai maksud lain...
"Apa itu Mas?" Tanya ku
Sebenarnya aku mengerti apa yang mas Damar maksud tapi aku harus memastikan nya terlebih dahulu
"Mas ingat ada seseorang berkata setelah selesai membereskan ini maka akan ada yang di lanjutkan" Ucap Mas Damar
Firasatku benar, Mas Damar masih mengingatnya...
Ternyata mas Damar terburu-buru membereskannya memang untuk hal ini
Aduh bagaimana ini...
Aku pun merasa bingung, Awalnya aku hanya ingin membujuk Mas Damar saja, Dan sebenarnya aku juga tidak berniat melakukannya
"Emm... Apakah masih berlaku" Ucap ku canggung
"Tentu saja, Karena belum masuk masa kadaluarsa" Ucap Mas Damar
Mas Damar ini...
"Apakah tidak bisa di tunda" Ucap ku mengalihkan
"Tidak bisa, karena kamu sudah berjanji tadi" ucap mas damar
"Mas istirahat saja dulu, sepertinya Mas lelah" Ucap ku mengalihkan topik pembicaraan
"Mas tidak lelah, Mas masih bisa mengunggu beberapa saat lagi" Ucap Mas Damar yang tampak serius
Aish... Mas Damar keras kepala sekali...
Ternyata Mas Damar keras kepala sekali, akhirnya aku pun tau sifat Mas Damar yang seperti ini
Aku menghela nafas...
Mas Damar hanya menatap ku seperti menunggu jawabanku
Bagaimana ini...
Sebenarnya tadi aku berkata seperti itu hanya untuk membujuk Mas Damar saja, Tapi tidak di sangka Mas Damar memang sudah menantikannya
Tiba-tiba
"Apakah kamu tidak bersedia" Ucap Mas Damar
Aku hanya tertegun
Dibandingkan dengan kata-kata tadi, ucapan inilah yang paling sulit aku tolak
"Baiklah... tapi setelah ini Mas Harus segera beristirahat yah" Ucap ku menyetujui permintaannya
"Siiiaap Ratuku" Ucap Mas Damar dengan raut wajah yang tampak senang
Ternyata Mas Damar hanya bersemangat dalam hal ini saja...
Aku sering mendengar orang-orang berkata bahwa laki-laki itu mesum apalagi setelah menikah, awalnya aku tidak percaya tapi setelah hari ini aku percaya bahwa yang di katakan orang-orang itu benar
Dan contohnya tentu saja,,, Suamiku ini...
"Vivian... Kamu melamun" Ucap Mas Damar
"Eh, tidak Mas..." Ucapku Canggung
"Emm... begitu..." Ucap Mas Damar
Apa maksudnya ini...
Aku pun merasa canggung dan menengok ke samping
Tiba-tiba saja Mas Damar memegang wajahku dan Mas Damar menyelipkan rambut yang terurai di wajahku
"Vivian..." Ucap Mas Damar yang kemudian memegang pinggangku
Aku merasa gugup, Mau bagaimana pun ini adalah perasaan alami yang di miliki seseorang
Aku hanya menutup mataku perlahan
"Umm..."
Tiba-tiba saja Mas Damar mencium Bibirku
"Emm..."
Baiklah anggap saja ini Ciuman perpisahan
*****
Keesokan harinya...
Aku membuka mata ku perlahan, dan saat tersadar aku melihat ke samping dan Mas Damar tidak ada di sampingku, aku spontan saja menengok ke arah jam ding ding dan aku melihat saat ini baru saja pukul 05:00 pagi dan seperti biasa Mas Damar selalu bangun lebih pagi dariku, terkadang aku ingin bertanya kepadanya tentang hal ini
__ADS_1
Aku pun melangkah turun dari ranjang dan melangkah ke depan
Tiba-tiba
BRUKKK...
"Aduh..."
"Vivian... kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Mas Damar sambil memegang bahu ku
"Eh, Mas..." Ucap ku yang terkejut seketika melihat Mas Damar yang telanjang dada berdiri di depanku dan hanya mengenakan handuk kecil di pinggangnya
Aku merasa situasi saat ini cukup canggung dan aku pun mengalihkan pandanganku darinya
"Kamu sudah bangun?" Tanya Mas Damar
Aku fikir pertanyaan Mas Damar ini hanyalah basa basi saja karena dia pastinya sudah melihat aku berada di depannya
"Em... iya Mas, Mas baru selesai Mandi yah?" Ucap ku yang kemudian balik bertanya kepada Mas Damar
"Iya... Karena Mas mendapatkan penerbangan pagi jadi Mas"Ucap Mas damar yang terputus
"Maaf yah Mas Vivian bangun kesiangan" Ucap ku memotong ucapan Mas Damar
"Tidak Vivian, Mas juga sama...
hanya Mas bangun sedikit lebih pagi darimu saja" Ucap Mas Damar tampak canggung
"Kalau begitu biar Vivian bantu Mas menyiapkan pakaian Mas yah" Ucap ku
"Tidak apa-apa Vivian, lagi pula semuanya kan sudah beres dari semalam. Kalau masalah hal kecil seperti ini saja Mas masih bisa sendiri" Ucap Mas Damar
"Tidak Apa-apa Mas biar Vivian saja, walaupun hanya hal kecil tapi ini tugas Vivian" Ucap ku
Mas Damar hanya terdiam... kemudian
"Terimakasih Vivian Kamu memang istriku yang Baik" Ucap Mas Damar sambil mengusap rambutku
Aku hanya tersenyum dan kemudian menyiapkan pakaian Mas Damar
*****
Beberapa saat kemudian...
Mas Damar sudah rapih dengan pakaiannya, dan Mas Damar memegang dasi di tangannya
"Mas..." Ucap ku yang spontan saja mengambil dasi itu dari tangan Mas Damar
"Ada apa Vivian?" Tanya Mas Damar
"Biarkan Vivian saja yang melakukannya" Ucapku menawarkan diriku untuk membantunya
"Emm... Baiklah kalau begitu" Ucap Mas damar yang kemudian membungkukan badannya
Aku pun memakaikan dasi itu di leher Mas Damar, Rasanya aku sangat senang karena bisa membantunya
Tiba-tiba Mas Damar memelukku
"Eh..." Ucap ku terkejut
"Vivian Terimakasih..." Ucap Mas Damar membisikannya di telingaku
Dalam diam aku merasa senang, sebenarnya aku hanya melakukan sesuatu yang sederhana, tapi sepertinya Mas Damar sangat menghargai apapun yang aku lakukan untuknya
Aku merasa pelukan Mas Damar ini begitu erat seperti Mas Damar tidak ingin melepaskanku
Sebenarnya aku pun juga sama, rasanya seperti aku akan berpisah jauh dari Mas Damar begitu lama
*****
Dapur...
Aku sedang memasak di dapur dan menyiapkan beberapa bekal untuk Mas Damar...
"Kamu sedang apa?" Tanya Mas Damar yang baru saja datang sambil menyeret koper berwarna hitam itu di tangannya
"Vivian sedang membuat bekal untuk mas di perjalanan nanti" Ucapku sambil terus memasukan beberapa makanan ke wadah makan
"Istriku memang yang paling perhatian" Ucap Mas Damar
Aku hanya tersenyum
"Vivian kamu tidak pergi kuliah" Tanya Mas Damar
"Tidak Mas, kebetulan Vivian sedang tidak ada kelas hari ini" Ucapku
"Begitu..." Ucap Mas Damar
Aku hanya mengangguk
Kemudian aku memasukan bekal makanan yang aku buat ke dalam tas kecil
"Ini Mas..." Ucap ku sambil memberikan Tas itu kepada Mas Damar
"Terimakasih Istriku..." ucap Mas Damar
Tiba-tiba
"Vivian, sepertinya mas harus berangkat" Ucap Mas Damar sambil melihat jam yang ada di tangannya
"Biar Vivian antar Mas ke Bandara yah" Ucap ku
"Tidak apa-apa, kamu di rumah saja biarkan Mas pergi sendiri" Ucap Mas Damar
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh Mas?" tanya ku penasaran
"Tidak, Pokoknya kamu di rumah saja" Ucap Mas Damar yang seakan tidak mau aku pergi untuk menemaninya
Aku merasa penasaran, kenapa Mas Damar tidak ingin aku ikut bersamanya apakah mungkin ada sesuatu...
"Kenapa memangnya Mas?" Tanya ku lagi
"Vivian... Mas tidak ingin kamu repot kalau harus mengantar Mas ke bandara, Kamu di sini saja Mas bisa ke pergi bandara sendiri" Ucap Mas Damar
Aku hanya tertegun
Ternyata Mas Damar tidak ingin merepotkan aku...
Aku merasa bersalah karena tadi telah salah faham terhadapnya
"Emm... Kalau begitu Vivian antar sampai teras saja yah" Ucapku
"Baiklah istriku..." Ucap Mas Damar
*****
Teras rumah...
"Vivian kamu hati-hati di rumah yah" Ucap Mas Damar menasehatiku
"Iya mas, Mas tenang saja Vivian akan baik-baik saja" Ucapku
"Kalau kamu takut sendirian Kamu telpon Mas saja, atau ajak temanmu menginap untuk menemanimu sementara waktu di rumah" Ucap Mas Damar
"lya, Mas..." Ucapku Sambil mengangguk
Mas Damar hanya terdiam dan menatapku
"Mas... cepat berangkat nanti mas ketinggalan pesawat" Ucapku mengingatkan
Tiba-tiba Mas Damar memeluk ku
"Mas..." ucapku terkejut
"Vivian, Biarkan Mas memelukmu sebentar saja" Ucap Mas Damar
Aku merasa seperti ada sesuatu yang sedang Di fikirkan Mas Damar
"Vivian..." Ucap mas Damar dengan lembut
"Iya Mas..." Ucapku
"Emm... Sebenarnya mas tidak ingin meninggalkan kamu yang manis ini" Ucap Mas damar sambil membisikannya di telingaku
Astaga perkataan Mas Damar ini membuatku merinding saja...
"Mas..." Ucapku sambil melepaskan pelukannya
Mas Damar menghela nafas...
"Vivian, Rasanya Mas masih tidak rela meninggalkanmu sendirian di rumah" Ucap Mas Damar
"Tidak apa-apa Mas, Vivian bisa menjaga diri, Mas tenang saja Vivian akan baik-baik saja di sini" Ucapku agar Mas Damar tidak khawatir
"Mas masih merasa sedih" Ucap Mas Damar sambil bersandar di bahu ku
Sikap Mas Damar yang manja ini, memang seperti bayi besarku
"Mas... nanti juga kita akan bertemu lagi, jadi mas jangan khawatir" Ucapku membujuk Mas Damar
"Emm...Baiklah kalau begitu" Ucap Mas Damar yang kemudian berdiri tegak
Syukurlah...
"Mas... Hati-hati di jalan yah" Ucap ku
Tiba-tiba
Mas Damar memegang wajahku dan
CUP... Suara kecupan
Mas Damar mengecup kening ku
Aku hanya terdiam antara terkejut dan bingung...
"Mas janji akan cepat pulang, kamu juga baik-baik di rumah yah tunggu Mas pulang, Kalau ada apa-apa telpon Mas saja" Ucap Mas Damar
"Iya Mas..." Ucap ku sambil mengangguk
"Kalau begitu Mas berangkat yah" ucap Mas Damar
"Iya Mas..." Ucap ku sambil mengangguk
Mas damar pun membalikan badannya dan melangkah berjalan semakin menjauh sampai akhirnya masuk ke dalam mobil
Mataku hanya tertuju kepada Mas damar, Mas Damar mungkin menyadari aku yang terus memandangnya dan kemudian Mas Damar Pun tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku
aku pun membalas senyumannya dan melambaikan tanganku
Mas Damar menjalankan mobilnya dan aku hanya terus memandangnya sampai akhirnya mobil itu perlahan menjauh dan hilang dari pandangan ku
*****
Selama kami menikah baru kali ini Mas Damar pergi meninggalkanku, dalam lubuk hatiku rasanya aku belum bisa menerimanya tapi mau bagaimana lagi ini sudah merupakan tugas dan tanggung jawab Mas Damar aku tidak boleh menghalanginya
Aku tidak boleh egois dan hanya mementingkan urusan pribadiku
__ADS_1
Ayolah Vivian, ini hanya satu minggu setelah itu suamimu akan pulang...
*Bersambung...