Suami Pilihan Ibu

Suami Pilihan Ibu
Membujuk


__ADS_3

Keesokan harinya...


Perpustakaan


Aku hanya duduk sambil membaca buku, Aku fikir lebih baik bagiku untuk pergi ke perpustakaan karena aku merasa malas jalan-jalan, jadi aku berfikir untuk membaca buku dan menenangkan fikiran...


"Vivian..."


"Eh..." Aku terkejut karena terdengar ada yang memanggilku


Dan sepertinya aku sudah tidak asing lagi dengan suara ini...


"Ternyata kamu di sini, kita udah cari kamu kemana-mana" ucap Tia yang tiba-tiba duduk di depanku


"Iya, aku fikir kamu gak kuliah hari ini" ucap Dina yang tiba-tiba duduk di sampingku


"Emm... " aku hanya terdiam


Perutku tiba-tiba saja terasa sakit...


Sebenarnya Mas Damar tadi pagi melarangku kuliah dulu, tapi aku bersikeras ingin pergi kuliah


"Vivian, kamu kenapa?" Tanya Tia


"Aku baik-baik aja kok" ucap ku sambil tersenyum


"Oh ya Vivian, gimana kamu kemarin sama kak Damar, lancar kan?" ucap Tia yang tiba-tiba mengawali pembicaraan


"Iya nih, Aku jadi kepo kamu kemarin abis ngapain aja sama kak Damar" Tanya dina


Dina itu paling bisa membuatku merasa canggung


"Emm... aku gak ngapa-ngapain kok" Ucap ku


"Masa sih?" ucap Dina


"Vivian, Tumben kamu pakai syal kayak gitu" ucap Tia yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan


"iya nih Vivian gak nyambung banget pake syal segala, mana lagi musim panas gini lagi" Ucap Dina


Sebenarnya aku juga tidak ingin memakai syal, rasanya sangat panas. Tapi mau bagaimana lagi aku harus menutupi bekas ****** di leherku


"Gak apa-apa kok, aku lagi pengen pake aja" Ucap ku memberika alasan


"Vivian lagi bikin tren fashion baru kali" ucap Tia menyindir


"Udah sini, ngapain sih pake yang kayak beginian" ucap dina yang tiba-tiba menarik syal yang ada di leher ku


"DINA..." teriakku


"Eh, kenapa?" tanya dina yang tampak bingung


"ASTAGA" ucap tia yang tampak kaget melihat ku


"Ada apa tia?" tanya Dina polos


"Liat tuh ada apa di lehernya Vivian" ucap tia sambil menunjuk ke arah leherku


"ASTAGA" Ucap Dina yang terkejut menatapku


Aku spontan saja mengambil syal dari Tangan Dina dan menutup leherku menggunakan syal itu


"Pantes aja kamu pake syal, untuk menutupi tanda cinta" Ucap Tia seperti sedang menggodaku


"Vivian, gimana kemarin terlalu seru yah" Ucap dina tampak antusias


"Ya ampun kalian ini, aku gak ngapa-ngapain kok" Ucapku gugup sambil melambaikan tanganku


"Terus itu tanda emangnya bisa muncul sendiri" Ucap Tia


Aku merasa seperti sedang di introgasi


"Gak tau deh, aku juga lagi pusing gara-gara kejadian semalem" Ucap ku


"Tuh kan bener" Ucap Dina tiba-tiba


"Eh, aku belum selesai ngomong" Ucap ku yang spontan saja karena merasa canggung


"Yaudah makanya jelasin, kita kepo nih" ucap Tia


"Bener tuh, Aku juga" Ucap dina sambil mengusap pundak ku


"Yaudah, aku akan ceritain kejadian semalem..." ucap ku


Sepertinya aku tidak punya pilihan lain, karena kalau tidak nantinya mereka akan terus menggoda ku seperti ini


Aku pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi semalam kepada mereka


"Hahaha... Vivian oh Vivian, kamu ada-ada aja sih" ucap Tia yang tidak bisa menahan tawa nya


"HAHAHA..." Dina kemudian tertawa keras


"Sttt... berisik, ini di perpustakaan" Ucap ku menenangkan mereka


"Ok ok sorry, tapi seriusan lucu banget" Ucap Dina sambil menahan tawa nya

__ADS_1


"Iya nih, kok bisa kebetulan gitu sih datang bulannya" Ucap Tia


"ltu juga kan bukan kemauanku" ucap ku


"Kasian banget kak Damar, Pasti dia gak bisa tidur deh" Ucap Tia


"Iya... kasian kak Damar, pasti dia merasa seperti mimpi buruk hehe..." ucap Dina sambil cengegesan


"Aduh kalian ini aku ceritain malah kayak gitu" Ucap ku kesal


"Aish... Aku itu kasian sama kak Damar, karena dia belum beruntung kali ini" ucap Tia


"Mungkin Harus di coba lain kali" Ucap Dina


"Udah dong jangan di bahas lagi, aku malu tau" Ucap ku sambil menutupi wajahku menggunakan kedua tanganku


"Hahaha..." Dina kembali tertawa


"Udah Dina, kasian tuh Vivian mukanya sampe merah gitu kayak udang rebus" Ucap Tia


"Tapi aku salut sih sama kak Damar, dia tetap tenang dan memahami situasi jarang ada cowo kayak gitu" Ucap Dina


"Iya Vivian, kamu beruntung punya suami seperti kak Damar" Ucap Tia


Aku juga merasa begitu...


Setelah pulang kuliah aku pun pulang, aku melangkah ke dalam rumah dan berjalan ke kamar


Hari ini aku merasa lemas, mungkin ini karena aku sedang datang bulan


*****


Malam hari pun tiba...


Aku sedang duduk sambil menunggu mas damar pulang, Aku sebenarnya merasa sangat lemas. Tetapi aku teringat dengan tugasku yaitu menunggu kepulangan suami ku.


Walaupun terkesan sederhana namun hal ini bisa membuat rumah tangga menjadi lebih harmonis


Karena memang aku terbiasa dengan hal seperti ini sewaktu ayahku masih hidup, ibu selalu menyambut ayah sepulang kerja. Walaupun hanya sekedar membukakan pintu, bersalaman, atau membawakan barangnya namum itu bisa membuat seorang suami merasa sangat di hargai dan di hormati oleh istrinya


karena setiap hal kecil yang kita lakukan juga sangat berpengaruh apalagi dalam sebuah hubungan


Dan rasanya hatiku pun merasa tenang setiap melihat suami ku pulang dengan selamat...


Beberapa saat kemudian...


Ting... tong... ting... tong... Suara bel


Aku spontan saja berdiri dan melangkah ke arah pintu


"Mas pulang..." Ucap mas damar


Aku pun kemudian menggengam tangan mas Damar dan mencium nya


"Ayo masuk mas..." Ucapku yang kemudian mengambil tas yang ada di tangan mas Damar


*****


Kamar...


Aku melihat mas damar yang duduk di samping ranjang dan tampak termenung


Aku tidak tau apa yang terjadi kepada mas Damar, karena penasaran aku pun melangkah mendekati mas Damar


"Mas kenapa?" Tanyaku yang kemudian duduk di samping mas Damar


"Emm... Mas tidak apa-apa" ucap mas Damar


Aku mengerti ekspresi ini, pasti mas Damar sedang dalam masalah...


"Mas... Kalau ada masalah atau ada sesuatu yang mengganjal di hati mas katakan saja kepada Vivian" Ucap ku membujuk mas damar


Mas Damar hanya terdiam dan tampak termenung


Aku pun menggenggam tangan mas Damar dan menatapnya


Mas Damar pun menatap wajahku dan kemudian memalingkan wajahnya dariku


"Mas...kenapa?" Tanya ku dengan nada lembut


Mas Damar menghela nafas...


"Sebenarnya Mas ada dinas di luar kota selama satu minggu, mas sedang berfikir apakah mas harus pergi atau tidak" Ucap mas Damar


Aku fikir ada apa sampai membuat mas damar murung seperti ini...


"Emm... Kalau memang itu tugas, maka harus di jalankan" Ucap ku


"Apakah kamu setuju kalau mas pergi?" Tanya Mas Damar


"Karena ini pekerjaan mana mungkin Vivian tidak setuju..." ucap ku


"Kamu memang istri mas yang pengertian..." ucap mas Damar


Aku hanya tersenyum mendengar Mas Damar berkata seperti itu

__ADS_1


"Tapi Vivian, apakah kamu tidak takut di rumah sendirian kalau mas pergi?" Tanya mas Damar


"Vivian tidak apa-apa mas, Mas tenang saja Vivian tidak takut kok" ucapku


"Apakah benar seperi itu" Tanya Mas Damar lagi


"Iya mas, Vivian baik-baik saja. Mas tidak perlu khawatir" ucap ku meyakinkan Mas Damar


"Syukurlah kalau begitu, Tadinya Mas bingung dan berfikir kalau Mas pergi mungkin kamu akan takut tinggal sendirian di rumah, Tapi karena kamu sudah setuju Mas jadi merasa tenang..." Ucap Mas Damar


Ternyata Mas Damar merasa bingung karena mas Damar fikir aku akan takut kalau ditinggal sendirian di rumah


Tidak di sangka ternyata mas damar mengkhawatirkan aku...


Dalam diam aku merasa senang karena Mas Damar mengkhawatirkan aku, tetapi mau bagaimanapun aku tidak boleh menjadi beban atau pun menjadi penghalang pekerjaan Mas Damar...


"Mas... Vivian akan selalu mendukung setiap pekerjaan mas, dan Vivian juga tidak ingin menjadi penghalang untuk pekerjaan mas" ucap ku


"Terimakasih Vivian, Mas janji setelah selesai Mas akan pulang secepatnya" Ucap Mas Damar


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Mas Damar


"Oh yah, Mas berangkatnya kapan?" Tanya ku


"Besok!" Ucap Mas Damar


"APA? BESOK?" Ucap ku terkejut


"Iya..." Ucap Mas Damar sambil menganggukan kepalanya


"Kenapa tiba-tiba begini mas" Tanya ku penasaran


"Emm iya, Mas tadinya berfikir untuk menundanya. Tapi karena kamu sudah setuju jadi Mas akan berangkat besok" ucap mas Damar


"Kenapa Mas tidak bilang dari tadi" Ucap ku menggerutu


"Maaf yah... Karena tadi Mas masih merasa ragu" ucap Mas Damar sambil mengusap rambutku


"Sudah tidak ada waktu lagi, Vivian akan segera membereskan barang-barang Mas sekarang juga" Ucapku yang kemudian berdiri


Tetapi, tiba-tiba...


"Ahhh..."


Mas Damar menarik tanganku dan memeluk ku


"Mas..."


"Tidak usah terburu-buru, santai saja" Ucap Mas Damar


"Emm.. Mas, pekerjaan itu tidak boleh di tunda-tunda nanti takutnya tidak keburu di bereskan bagaimana" Ucapku


"Sebentar saja, Mas hanya ingin bersama denganmu sebentar saja..." Ucap mas damar


Aku tidak punya pilihan karena memang ini sudah malam, karena memang waktunya sangat mepet. Aku takut nanti tidak cukup waktu untuk menyiapkannya dan Mas Damar juga perlu istrirahat karena harus berangkat besok


"Mas... Setelah Mas pulang dinas nanti juga kita bersama lagi" Ucap ku membujuk mas Damar


"Mas hanya ingin melepaskan kerinduan mas karena satu minggu nanti tidak bertemu denganmu" ucap mas damar sambil menyenderkan kepalanya ke pundak ku


Aduh... bagaimana ini...


"Vivian..." ucap mas damar yang kemudian mengusap wajahku


Jangan bilang mas Damar mau cium aku...


Mas Damar mendekatkan wajahnya ke wajahku


Astaga, sepertinya Mas Damar memang hendak menciumku...


"MAS..." Ucap ku yang spontan saja menutup wajah mas Damar menggunakan tanganku


"Kenapa Vivian?..." tanya Mas Damar yang kemudian memegang tanganku yang berada di wajahnya


"Emm.. Mas... Nanti saja kita lanjutkan setelah mas pulang Dinas, Sekarang mas harus istirahat dulu yah" Ucapku gugup


"Aish... Kalau tau begini, Mas tidak jadi pergi dinas" Ucap mas damar sambil menekuk wajahnya ekspresi Mas Damar saat ini persis seperti anak kecil yang sedang mengambek


Kekanak-kanakan...


Aku menghela nafas dan berusaha tenang


Tetapi dalam situasi saat ini aku tidak boleh menyinggungnya, karena memang suasana hatinya sedang tidak baik


Aku harus melakukan sesuatu...


"Bagaimana kalau begini, setelah Vivian selesai membereskan barang-barang mas. Kita lanjutkan lagi... Bagaimana?" Ucap ku membujuknya


"Baiklah kalau begitu, Biar mas bantu agar cepat selesai" Ucap Mas damar antusias


Dan kemudian Mas Damar berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaiannya


Syukurlah... Ternyata berhasil membujuknya...


Aku merasa seperti mempunyai bayi besar...

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2