
Syifa dan Tania pun langsung masuk ke dalam kelas.
Brian masih menunggu Jon, Bimbim dan Vino. Di samping pintu kelas.
Brian pun langsung berdiri ketika melihat bayangan sang mantan berada di wajah Syifa. Ketika Brian menengok ke dalam kelas.
" Cahaya " gumamnya.
Tepat saat Brian melihat ke Syifa terlihat ada senyuman Cahaya, Syifa pun balik melihat ke arahnya.
Syifa heran kenapa Brian menatap dirinya seperti itu.
Ketika Syifa melotot ke arah Brian, Brian pun tersadar bahwa yang ia lihat bukan Cahaya melainkan Syifa, istrinya.
" Hai bro, loe kenapa tidak masuk ke dalam, " tanya Bimbim. Menepuk pundaknya.
" Males, ada cewek cengeng disitu " jawabnya.
"Kan dia bini loe, Brian?" skak Bimbim.
"Tau akhh gelap" lanjutnya.
Bimbim pun geleng-geleng, tak mau meninggalkan Brian sendiri.
Vino dan Jon belum juga muncul batang hidungnya.
Vino sudah pasti ada Tania di samping dirinya.
Sedangkan Jon sendiri sambil berlari karena akan terlambat masuk jam bimbingan.
"Kalian dari mana saja " tanya Bimbim, penasaran.
" Gue antar bokap dulu, dan kebetulan ketemu Tania sedang membeli air minuman " terang Vino, Tania masuk terlebih dahulu.
"Loe kenapa Jon? " tanya Bimbim lagi.
" He he he, gue kesiangan, gegara malam itu, gue capek, gak bisa tidur " Jon cengengesan.
Setelah di interogasi satu persatu oleh Bimbim, mereka semuanya masuk kedalam.
Jam masuk pukul delapan pagi, masih banyak yang terlambat.
Padahal dosen pembimbing belum ada yang masuk juga.
Dan hari ini adalah jadwal Keagamaan khususnya Agama Islam.
Dosen pembimbing itu pun masuk dengan mengucapkan salam.
" Assalamu'alaikum, pagi semuanya " sapa dosen itu.
" Walaikumsalam, pagi juga " balas semua para Mahasiswa dan Mahasiswi.
" Perkenalkan nama saya Fatih, panggil saja saya Fatih, apa ada yang mau ditanyakan? " Fatih memperkenalkan dirinya di depan para Mahasiswa dan Mahasiswi.
Syifa masih belum ngeh bahwa Fatih yang di depan matanya adalah Ustadz yang dulu ia taksir.
Mata Syifa terbelalak kaget melihat sosok Pria di depannya.
Tak menyangka Fatih akan menjadi Dosen.
" Astaghfirullah, itu kan Pak Ustadz Fatih" Syifa menelan saliva tak percaya.
__ADS_1
" Fa, kita gak salah lihat kan? " Tania berbisik pelan.
" Iya Tan, kita tak salah lihat. " Ujar Syifa deg-degan.
Syifa dan Tania masih diam membisu.
Fatih masih belum memperhatikan satu persatu orang yang berada di dalam kelasnya.
Fatih nampak melihat sosok Syifa dan Tania, di ujung pojok yang sedang pura-pura membaca buku, namun sayangnya bukunya terbalik, sehingga Fatih mendekat Syifa.
" Yang dipojok, siapa nama kamu" tanya Fatih dari arah mejanya. Syifa tak mau membuka bukunya yang menutupi wajahnya.
Brian mengerutkan keningnya, melihat Syifa seperti itu.
" Loe kenapa menutup wajah loe" tanya Brian, balik badan menoleh ke belakang.
" Diam dong" pinta Syifa berbisik.
Karena tidak ada sahutan dari Syifa, maka Fatih berinisiatif mendekatinya.
"Kamu kenapa tidak menyahuti, kamu tidak bisa mendengarkan saya tadi? " tanya Fatih lembut.
Karena Fatih orangnya lemah lembut pada siapa saja, terutama pada perempuan.
" Dan kenapa membaca bukunya terbalik, emang bisa? " sindir Fatih halus.
Tania yang dari tadi tiba-tiba tertawa pelan.
Dan terdengar oleh Syifa, Syifa pun mencubit paha Tania.
"Auhhh" Tania kesakitan, dan mengelus pahanya yang tadi di cubit Syifa.
Fatih mengambil buku yang masih menutupi wajahnya, dan sangat terkejut Fatih melihat Syifa yang sekarang berada di depan dirinya.
" Hai, " Syifa malu malu.
Tak banyak bicara, Fatih kembali ke depan lagi untu memberikan bimbingan pada semuanya.
Setelah bimbingan selesai, Fatih memanggilnya.
" Fa, kamu kuliah disini, sungguh sangat kebetulan sekali, kita bisa bertemu lagi. "
"Ya, Ustadz, aku gak nyangka kita ketemu di sini" balasnya.
" Oh iya, kenapa Ustadz mengajar di sini sebagai dosen? " tanya Syifa.
" Pengen saja Fa, jenuh rasanya di Pesantren terus, apalagi kamu udah gak ada di sana, rasanya Pesantren sepi tanpa kamu" jujur Fatih.
Brian menguping pembicaraan mereka.
Karena Syifa dan Fatih berbicara di depan pintu kelasnya.
Dan Brian di samping pintu dan tertutup tembok.
Jadi baik Syifa atau Fatih tidak ada yang mengetahuinya.
"Ustadz Fatih, biasanya kan begitu, waktu dulu Syifa tidak ada juga kan seperti itu " seingat Syifa memang seperti itu.
" Tidak Fa, sejak kamu masuk Pesantren, suasana disana sangat ramai, ramai kenakalan kamu, dan kecerewetan kamu, hingga seisi Pesantren heboh, " Ustadz Fatih membayangkan Syifa yang dulu.
Syifa mendadak diam.
__ADS_1
"Fa, boleh saya bertanya? " Fatih ragu-ragu.
" Iya, boleh dong Ustadz " ujarnya.
" Duh jangan panggil Ustadz, panggil Kak Fatih saja ya, terlalu tua kalau dipanggil Ustadz, " pintanya.
" He he he, iya Kak Fatih " Syifa senyum.
" Kalau boleh jujur, apakah kamu mau ta'aruf dengan ku Fa? " Fatih langsung pada intinya, karena tak mau basa basi.
Brian yang masih bersembunyi di balik tembok kaget dan melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan Dosen tadi.
Apa katanya mau ta'aruf sama Syifa.
" Ehem... " Brian sengaja berdehem, dan melihat tajam ke arah Syifa.
Syifa pun menundukkan kepalanya.
" Maaf Pak, kalau boleh saya tahu, tadi saya mendengar, Anda ingin ber ta'aruf dengan dia? " tunjuk Brian ke arah Syifa.
" Kamu menguping pembicaraan kami? " tuduh Fatih.
" Iya, saya mengupingnya. Dan asal anda tahu, Syifa sudah punya SUAMI !!!" ucap Brian penuh penakanan.
Fatih melihat ke arah Syifa. Syifa menunduk tak berani menatap ke arah Fatih.
Fatih masih dalam diam mencerna ucapan Brian.
Dan Fatih menatap intens ke Syifa.
" Fa, apa itu benar? Kamu sudah menikah? Kenapa dulu kamu menolak lamaran saya? Tolong jawab jujur, " tanya Fatih beruntun.
Brian tersenyum miring melihat reaksi Syifa yang terlihat gugup.
" Iya, Kak Fatih, Syifa sudah menikah dengan seseorang dan baru dua hari ini Syifa menjadi istrinya, " jawab Syifa, dengan nada pelan.
Fatih mengerutkan keningnya, tak memahami perkataan Syifa.
" Dua hari menikah, tapi kenapa kamu masuk kuliah, seharusnya kamu lagi honeymoon dong Fa, apakah pernikahannya karena terpaksa Fa? " tanya Fatih, penasaran.
Brian jadi kesal, Fatih terlalu ikut campur masalah rumah tangganya.
Brian ingin tahu apa jawaban dari Syifa.
" Pasti dia mau jelekin gue, secara si Fat Fat itu kan perfect, bisa mengaji dan dewasa" batin Brian, menebak nebak.
"Aku menikah bukan karena keterpaksaan Kak, tapi ketidaksengajaan, kecelakaan karena bersentuhan. Secara agama kan kita tidak boleh bersentuhan antara laki-laki dan perempuan.
Jadi kita dinikahkan hari itu juga." Syifa sedih menceritakan kejadian itu.
Fatih ikut merasa tak enak hati, melihat wajah teduh Syifa.
" Aku minta maaf Syifa, mungkin aku terdengar lancang, ingin tahu bagaimana kronologi pernikahan kamu" Fatih merasa bersalah.
"Fa, elo harus jaga marwah elo sebagai seorang istri, gue akan memantau, jangankan gue temen loe semuanya akan mantau, paham loe! " ancam Brian.
Brian pun berlalu dari hadapan Fatih dan Syifa.
" Fa, dia siapa kamu, sampai dia ngomong seperti itu sama kamu? " imbuhnya.
" Sebenarnya... "
__ADS_1
"Fa!!" teriak seseorang.