Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
22


__ADS_3

"Keluarga pasien" tiba-tiba dokter Daniel keluar, hingga Brian pun tidak sempat melanjutkan kalimatnya.


"Iya dok, saya Mamanya" sahut Rani, ditemani Nurul. Dokter Daniel pun kaget dengan wajah kedua orang tua Syifa.


Dokter Daniel teringat akan ucapan Syifa kala itu, bahwa kedua orang tuanya, tidak pernah perduli sama sekali dengan dirinya.


"Oh iya, Alhamdulilah, keadaan pasien sudah membaik, tapi untuk masuk ke dalam hanya satu orang saja, mohon harap maklum, pasien butuh istirahat yang cukup, siapa dulu yang mau masuk ke dalam? " tanya dokter Daniel.


"Saya saja dulu dok, saya Mamanya" sahutnya.


Dan dokter pun mempersilakan Rani untuk masuk ke dalam.


"Pah, Mama masuk ya? " ijin Rani pada suaminya.


Nurul mengusap punggungnya, dan tersenyum memberi ijin Rani untuk masuk seorang diri.


Ketika Rani baru masuk ke dalam, Nurul melihat Jessica, terlihat tidak asing bagi Nurul.


Karena Nurul tidak mengenal Jessica ataupun Justin mantan pacar Rani dulu.


" Bu, semoga Syifa baik-baik saja, dan tidak membenci Brian " Brian memeluk Jessica, sambil menangis.


"Tuan ada telpon dari klien " ucap asistennya pada Nurul, ketika Nurul melihat Brian dan Ibunya.


Kini Nurul menerima telpon dari kliennya.


Dan pergi dulu agar tidak terganggu pembicaraan nya dengan kliennya.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Rani mengatakan itu sama kamu Nak,?" tanya Jessica pada Brian.


"Bu, dia itu ternyata perempuan yang aku cari selama ini, dan ternyata Syifa adalah Cahaya Bu, aku jadi bingung, takut Cahaya membenciku. Terlihat jelas Mamanya tidak menyukai ku, karena aku tersangka penyebab Cahaya masuk rumah sakit, dan... Aku tak bisa mengatakannya Bu, hiks hiks hiks" Brian menangis dipelukan Ibunya.


Jessica bisa merasakan betapa sedihnya Brian, saat mengetahui hal ini.


Tania, dan Jon kini mendekati Brian, seolah-olah tengah merasakan apa yng dirasakan oleh Brian.


"Sabar, bro, semoga Mamanya Syifa mau merestui pernikahan kalian" JOn memberi semangat, pada sahabatnya itu.


"Terima kasih, kalian mau mengerti gue" balas Brian.


Beda dengan Tania, yang memandang Brian lucu.


"Gue kira loe orang yang tenang, tapi dari ketengilan loe itu, ternyata loe mudah menangis alias cengeng, sama seperti bini loe" gurau Tania, menghibur agar tidak terlalu tegang menghadapi situasi seperti ini.


Brian pun langsung mengusapkan air matanya, sebab apa yang dikatakan Tania, memang benar bahwa dirinya terlalu cengeng untuk macam ini.


Brian berusaha kuat untuk menghadapi rintangan berikutnya, yaitu kedua orang tua Syifa atau Cahaya.

__ADS_1


Di dalam ruangan Syifa, Rani menangis melihat anaknya terbaring dan banyak jarum yang menempel di tubuhnya.


"Sayang, ayo bangun Nak, Mama Minta maaf belum bisa jadi Ibu yang baik, Mama janji setelah kamu sembuh, Mama akan ikut bersamamu Nak, bangun ya Sayang" Rani mencium tangan Syifa, dan mukjizat Nya, tangan Syifa bergerak setelah mendapatkan ikatan bathin dari sang Mamanya.


Rani pun langsung keluar dan berteriak.


"Dokter, dokter tolong anak saya" teriak Rani, dan menyuruh Brian untuk mencari dokter tadi, dokter yang dimaksud adalah dokter Daniel.


"Ada apa Tante, " kaget Brian, Mertuanya berteriak histeris.


"Panggil dokter, cepat! " suruh Rani gegabah.


"I-iya Tante" Brian langsung berlari mencari dokter Daniel.


Ditengah perjalanan menuju ruangan dokter, Brian bertabrakan dengan seorang dokter, beruntung itu adalah dokter Daniel.


"Dokter, tolong Syifa" Brian langsung menarik tangan dokter.


"Iya" dokter Daniel pun langsung menurut dan ikut berlari.


Dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan Syifa, dan memeriksa keadaan Syifa.


" Bagaimana dok, apa yang terjadi dengan anak saya dokter " tanya Rani, mencemaskan putri nya.


"Alhamdulillah, baik Bu, tadi baru bereaksi, dan mulai membaik. " Ucap dokter, memberitahu.


Kemudian dokter keluar dari ruangan Syifa, ketika dokter keluar, Brian mencegahnya dan bertanya tentang keadaan Syifa.


"Dok, bagaimana keadaan Syifa, istri saya, " tanya Brian, cemas.


"Alhamdulillah sudah siuman, dan membaik" jawab dokter Daniel, tenang dan memberitahu.


Brian pun bisa bernafas lega, mendengar penuturan dokter, bahwa Syifa dalam keadaan baik-baik saja. Setidaknya ia tidak kenapa-napa, dan tidak terjadi hal yang buruk.


"Terimakasih dokter, sudah memberitahu" ucap Brian, lega. Dokter Daniel pun tersenyum menanggapi ucapan Brian.


Kemudian dokter pun permisi, mau mengecek pasien yang lainnya.


"Syukur lah Brian, Syifa tidak kenapa-napa, gue khawatir banget tahu gak, " timpal Tania.


Tania menghapus air matanya, ketika mendengar kabar dari dokter Daniel. Menyatakan bahwa Syifa baik-baik saja.


Kini Tania, Jon dan Brian duduk di samping kamar Syifa, begitu juga Jessica.


Bibi Syifa pun dari tadi duduk, tidak kemana-mana.


"Ma-mama, aku dimana? " tanya Syifa tergagap.

__ADS_1


"Sayang, alhamdulillah, kamu sadar Nak, Mama sangat khawatir sekali Nak. Mama langsung saja pulang mendengar kamu dirawat di rumah sakit, " ucap Rani, sambil menangis dan mencium tangan Syifa.


"Brian mana Mah, aku ingin bertemu dengan dia" pinta Syifa, memelas pada Mamanya.


Karena tidak tega melihat keadaan Syifa, Rani pun terpaksa memenuhi permintaannya.


Rani pun keluar dari kamar rawat Syifa, dan memanggil Brian.


"Brian, kamu dipanggil Syifa, dia ingin bertemu sama kamu" panggil Rani, saat Brian akan beranjak ke toilet menjadi urung.


Brian pun kini masuk ke dalam kamar rawat Syifa, dan tersenyum melihatnya.


Syifa pun menoleh saat Brian masuk, dan tersenyum lebar.


Syifa langsung beranjak duduk dari kasur, dan meminta Brian untuk mendekati dirinya.


"Brian, duduklah disamping aku" pintanya, dengan nada lembut.


"Iya" Brian sangat bersemangat sekali, setelah mengetahui bahwa Syifa adalah Cahaya nya.


"Kamu kenapa, Brian tersenyum begitu? " tanya Syifa, merasa ada yang aneh pada diri Brian.


Kini Brian memberanikan diri untuk memegang tangannya, dan mencium punggung tangannya.


"Tidak kenapa-napa kok, aku merasa sangat bahagia kamu sudah sadar, dan masih mengenalku, aku kira kamu melupakan aku lagi" Brian menunjukkan wajahnya yang memelas.


Syifa memperhatikan Brian, dan membalas pegangan tangannya erat.


"Aku tak akan mungkin melupakan kamu Brian, meskipun kita lama tidak bertemu" ucapnya.


Membuat Brian bingung, kenapa Syifa mengatakan hal semacam itu, tidaklah ia ingat bahwa dirinya sudah menjadi istrinya.


"Fa, kamu? " tanya Brian.


"Maaf Brian, bercanda kali" gurau Syifa.


"Oh iya, sekarang gue ingat, loe itu kan suami gue, dan gue baru sadar, dulu gue pernah pacaran sama loe, dan loe ngajarin gue balapan motor sampe gue kecanduan dan menjadi pemenang terus. Hingga gue kecelakaan dan di pindahkan ke luar Negeri oleh Mama. Bahkan gue amnesia kan, dan gue operasi wajah dan berganti nama menjadi Syifa. " Terang nya panjang lebar, menjelaskan dengan detailnya.


" Tapi kok gue merasa, loe masih mencintai Cahaya yang dulu bukan yang sekarang ya," tebak Syifa.


Brian memeluk Syifa dengan erat, seperti tidak ingin berpisah dan ingin selalu bersama dirinya.


"Fa, lupakan Cahaya, yang kini dihadapan gue adalah Syifa, istri SAH gue, gue bahagia sekali saat tahu kalau loe itu masa lalu gue, loe tahu tidak gue bahkan tidak pernah mau berpacaran lagi, Semenjak loe dikabarkan meninggal dunia.


Gue hampir gila dan di katain homo oleh semua orang, karena janji gue, gue tidak mau sama wanita lain selain Cahaya ku. " Brian menceritakan panjang lebar, dan berusaha untuk tegar.


"Brian"

__ADS_1


__ADS_2