
Tok tok tok...
Suara orang mengetuk pintu. Dan Brian pun menolehnya.
Syifa dan yang lainnya juga melihat ke arah sumber suara ketukan pintu itu.
"Assalamu'alaikum, " sapa dokter Daniel dari balik pintu.
"Walaikumsalam" balas semua orang yang berada di dalam kamar inap Syifa.
Dokter Daniel pun berjabatan tangan satu persatu, tak terkecuali Brian.
"Ngapain dokter datang kesini? " tanya Brian, terus terang.
"Saya mau mengontrol kondisi pasien" jawab dokter Daniel.
"Pasien atau Syifa? " sindir Brian.
"Dua-dua nya. Kan Syifa pasien saya, Fa, nanti sore kamu sudah boleh pulang, ini ada sesuatu untuk kamu, karena mungkin sore saya tidak bisa bertemu dengan kamu." Ujarnya, tanpa malu ada banyak pasang mata melihat dirinya.
"Terima kasih dok, " ucap Syifa.
" Kalau begitu, saya permisi dulu, jaga kesehatan ya Fa" dokter Daniel pun keluar.
Vino, Jon, dan Bimbim melihat ke arah Brian.
Semua mata tertuju padanya, Brian pun melotot, kenapa mereka menatap dirinya seperti itu.
" Loe, baik-baik saja kan Bri? " bisik Vino, ditelinga Brian.
Ibu Brian pun merasakan ada hal yang aneh pada Brian.
"Oh iya, Syifa, Ibu mau pulang dulu ya. Udah jam sembilan siang nih" pamit Jessica, Ibu Brian.
" Loh, Bu, kok cepat sekali sih nenek Syifa. Salam buat Ayah ya Bu, maaf Syifa merepotkan Ibu, " Syifa menunduk.
Jessica pun tersenyum pada menantunya.
" Tidak apa sayang, ya sudah Ibu pulang dulu ya? Oh iya, kalian semua tidak ada yang berangkat ke kampus? " tanya Jessica pada teman-teman Brian dan Syifa.
"Nanti Bu, kita berangkat jam sepuluh siang, " sahut Vino, yang mewakili teman semuanya.
"Ya sudah, Ibu pulang ya, Assalamu'alaikum" pamitnya, dan tak lupa Vino, Jon, Bimbim, Tania, Syifa dan Brian, mencium punggung tangan Jessica, Ibu Brian.
Ketika Ibunya Brian sudah tak terlihat, tak selang berapa menit. Vino, Jon, Tania dan Bimbim pamit untuk berangkat ke Kampus.
"Fa, gue sama yang lain mau berangkat ke Kampus dulu ya, elo baik baik ya disini, kalau Brian nakal sama kamu, jangan lupa telepon gue, gue akan langsung tancap gas" ucap Tania, menyindir Brian.
Vino, Jon, Bimbim dan Tania pun pergi meninggalkan Brian dan Syifa berduaan.
Setelah kepergian mereka, Syifa dan Brian hening tak ada satupun diantara mereka yang memulai percakapan.
"Sekarang, loe siap-siap ya, loe bisa mandi sendiri kan? Atau mau gue mandiin? " gurau Brian.
"Perasaan tadi panggil aku kamu, kenapa sekarang loe gue lagi? " tanya Syifa penasaran.
Wajah Brian pun biasa saja, ia anggap bentuk kesopanan saja.
__ADS_1
Bukan ada rasa special, atau apapun itu.
" Bisa sendiri lah, masa iya mandi harus dimandiin segala, emang gue bayi" gerutunya.
Syifa pun berjalan menuju kamar mandi dengan kaki pincang sedikit, sebab masih terasa perih karena goresan aspal.
Brian ingin meraihnya namun Syifa berusaha sendiri, agar tidak merepotkan Brian.
"Kalau ada apa-apa, bilang ya, gue disini main game dulu, oke" saran Brian, perhatian.
" Iya" lirihnya.
Tiba di dalam kamar mandi, Syifa langsung membuka pakaiannya dan langsung menyiram seluruh anggota tubuhnya.
Namun saat selesai mandi, Syifa baru sadar belum membawa handuknya.
" Briii! " teriak Syifa dari dalam kamar mandi.
Tak ada jawaban dari Brian.
"Brian, Brian, tolongin aku dong" teriak Syifa, sambil menggedor pintunya.
Belum ada sahutan juga dari Brian.
Syifa pun terpaksa membuka pintu sedikit, dan mengeluarkan kepalanya saja.
"Pantesan tidak menyautinya, dia sedang main game sambil musikan di telinga" sungut Syifa, kesal melihat Brian.
Syifa mencari cara agar Brian melihat dirinya.
Pluk...
Odol terkena muka Brian, puas!!
"Apaan ini," Brian pun mengambil odol yang tadi terkena wajahnya.
Dan Brian melihat Syifa sedang mengintip.
"Kenapa loe" Brian mendekati Syifa, karena dirasa merasa aneh.
"Stop!! Kamu disitu saja, aku gak pake apa- apa.
Jadi jangan tengok kesini, aku cuma mau minta tolong handuknya, aku lupa bawa handuknya, " pinta Syifa.
"Oh, lupa handuknya ya, ya sudah bentar ya aku ambil dulu di dalam tas, " ujarnya.
Brian pun mencari handuk di dalam tasnya, dan bersyukur Brian tadi tidak lupa membawanya.
"Ini!" seru Brian, melemparkan handuk ke wajah Syifa.
"Ish, sadis banget jadi cowok, " geram Syifa.
Brian pun mendekati Syifa lebih dekat, dan Syifa langsung menutup kembali pintunya dengan kasar.
"Lucu sekali dia" Brian tersenyum, melihat tingkah Syifa yang seperti itu.
Brian pun langsung kembali ke sofa lagi, dan melanjutkan yang tadi.
__ADS_1
"Dia tuh beneran bikin aku jengkel" gerutunya, saat sedang mengganti pakaian didalam kamar mandi.
Setelah dirasa semua sudah terpakai semuanya, Syifa langsung membuka pintu kamar mandi.
Ceklek...
Suara pintu kamar mandi terbuka, Brian pun menoleh kearah suara pintu itu.
Dan Brian terkesima melihat kecantikan Syifa yang tak memakai hijab, Brian tak berkedip melihat kecantikan Syifa yang begitu natural tanpa memakai make up, terlihat sangat lebih segar dan cantik.
"Kenapa Brian memandang ku seperti itu? " batin Syifa bertanya sendiri.
Ketika Syifa bercermin, Syifa baru sadar bahwa ia belum mengenakan hijabnya.
Syifa langsung melemparkan handuk diwajah Brian.
Pluk...
Handuk terkena wajah Brian.
"Apaan sih, main lempar handuk sembarangan, tidak sopan banget" kesal Brian, karena dilempar handuk bekas mandi Syifa.
"Tutup mata, jangan lihat aku yang tak memakai hijab" suruh Syifa, dan Syifa pun merasa malu.
Brian pun kembali melemparkan handuk ke arah Syifa. Dan berjalan mendekatinya, kemudian Syifa mundur ke arah cermin, Brian tersenyum licik melihat Syifa yang gelagapan mundur.
"Jangan kan rambut kamu yang aku lihat, semua tubuh mu saja boleh banget aku lihat, bahkan menyentuhmu saja sangat boleh, sudah halal loh, pahala juga" bisik Brian, panjang lebar memberi peringatan.
Syifa langsung menyilangkan tangannya.
Namun belum selesai berdebat tiba-tiba...
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Brian dan Syifa pun menoleh kearah pintu itu.
"Permisi" ternyata dokter Daniel yang datang.
Brian langsung menutup rambut Syifa, meskipun tak ada rasa cinta, akan tetapi Brian tak mau keindahan rambutnya dilihat oleh pria lain, selain dirinya.
"Cepat tutup rambutnya, nih hijabnya" perintah Brian, melemparkan hijabnya dikepala Syifa.
Syifa tak membantahnya, Syifa pun langsung mengenakan hijabnya.
"Maaf mengganggu kalian ya" ucap dokter Daniel.
"Mengganggu banget" ketus Brian, menyautinya.
"Jangan dengar ucapan dia dokter, oh iya, ada apa ya dokter, hari ini aku sudah boleh pulang kan dokter? " tanya Syifa bersemangat.
Dokter pun tersenyum sumringah, mendengar ucapan Syifa yang begitu antusias ingin pulang.
"Iya, hari ini kamu boleh pulang kok, tidak harus menunggu sore, sekarang juga boleh pulang" jawab dokter.
"Asyik, aku pulang" Syifa tanpa sadar meluk dokter.
Brian melorot.
__ADS_1