
"Bri, kenapa kamu pergi meninggalkan aku secepat ini, aku belum ikhlas, " Syifa memeluk foto Brian yang begitu tampan.
Tok tok tok...
Suara pintu kamar ada yang mengetuk.
"Masuk saja, tidak dikunci kok" teriak Syifa menyuruh orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Dan ternyata adalah sang Mama.
"Eh Mama, ada apa? " Syifa langsung menghapus air matanya.
"Sayang sudah ya jangan menangis terus, kamu yang sabar ya" ucap Rani.
"Mama seneng kan sekarang, aku sudah tidak lagi dengan Brian, lelaki tengil yang Mama maksud itu adalah suami Syifa sendiri, sekarang Syifa kehilangannya untuk selamanya Mah, Syifa baru saja bahagia, tapi kenapa dia pergi meninggalkan aku Mah, Mama puas kan? " Syifa menangis sambil memeluk erat figura Brian.
"Mama, plis, keluar ya, Syifa ingin sendiri" usir Syifa pada Mamanya.
Rani pun menurut, dan langsung keluar dari dalam kamarnya.
"Mah, bagaimana keadaan Syifa? " tanya Nurul.
"Syifa sedang tidak baik Pah, " Rani ikut sedih melihat anaknya seperti itu.
"Kasihan anak kita, mereka kan akan mengadakan resepsi pernikahan, tapi takdir berkata lain, tapi kita bisa apa! " seru suaminya.
Laras pulang ke rumah, namun ia dan Mamanya memgemasi semua barang yang ada di rumahnya.
Sebab rumahnya akan dijual dan pindah ke luar kota, agar tidak ada yang mengetahuinya.
"Bi, maafin Laras ya jika Laras tak bisa memberikan banyak untuk Bibi, karena keadaan kita seperti ini, " ucap Laras pada Bibi.
"Tak apa Non, Bibi ngerti kok," balasnya.
"Bibi, disini tanpa aku, semoga betah ya walaupun bukan aku majikannya," sarannya.
"Iya Non, " balasnya.
"Mah, aku mau ke rumah temen dulu ya, kan besok kita pergi dari rumah ini, " pamit Laras, dan mencium tangan Mamanya dan Bibi.
Tiba dirumah Bimbim, ternyata Bimbim belum pulang dari kampus, maka Laras inisiatif pergi ke kampus.
Tiba di Kampus, pas banget Laras langsung ketemu Bimbim di parkiran.
"Laras, akhirnya kamu berangkat juga, " Bimbim langsung memeluk Laras, namun Laras mendorong Bimbim.
"Maaf Bimbim, gue kesini bukan untuk masuk kampus, gue masih kurang enak badan sebenarnya, tapi gue harus bicara sama loe berdua," pintanya.
Belum sempat bicara lagi, tiba-tiba Tania lewat depan mereka, dan herannya tidak menyapa sama sekali. Laras heran deo Tania yang tidak ceria seperti biasanya.
"Tan, loe kenapa kusut banget, " tanya Laras, mencegah tangannya.
"Gue sedih banget, Syifa hari ini mengurungkan dirinya dari kemarin," jawab Tania.
"Loh kenapa? " Laras mengerutkan keningnya.
"Brian kan meninggal dunia Ras, masa loe gak tahu sih" Tania menjelaskan.
"Astaghfirullah, maaf gue tidak tahu, sebab aku saja hari ini baru pulang dari rumah sakit, " lanjut Laras.
__ADS_1
Tania mengerutkan keningnya, dan mulai bertanya.
"Loh kok aku tidak tahu ya, biasanya dosen ngasih tahu loh, emang loe sakit apa? " kepo Tania, karena baru menyadarkan.
"Biasa terlalu lelah Tan, oh iya sampaikan salam gue ke Syifa ya, sebab gue banyak urusan, " pesan Laras untuk Syifa.
" Oke, nanti gue sampaikan, kalau begitu gue masuk duluan ya," pamit Tania.
"Bim, kapan Brian meninggal? " tanya Laras.
"Kemarin" jawab Bimbim singkat.
Laras bingung lalu yang ketemu di rumah sakit kemarin siapa dong, Laras bingung sendiri, takut itu halusinasi.
"Loh bukannya kemarin Brian itu masuk ke dalam ruangan penginapan ya" ujarnya.
"Masa sih, kamu salah lihat kali" elak Bimbim.
"Bim, gue gak halu" protes Laras.
"Bilang saja kalau kamu masih mengharapkan dia, " skak Bimbim.
"Gak percaya ya sudah, " kesal Laras.
Laras pun menjadi jengkel karena Bimbim tidak mempercayai dirinya.
Dan langsung pergi dalam keadaan yang jengkel, awalnya mau romantisan, eh jadi kejengkelan.
Malamnya, Laras kembali kerumah Bimbim.
Dan beruntung Bimbim belum sempat pergi, padahal ia sudah ditunggu oleh Vino dan Jon, di tempat seperti biasanya.
"Loh, itu Laras, dia kenapa kesini? " batin Bimbim, saat mengeluarkan motor sportnya.
"Laras? Ada apa? " tanya Bimbim bingung.
Laras belum menjawabnya karena ia masih dalam posisi berjalan.
"Ras, ada apa? " tanya Bimbim kedua kalinya.
Laras langsung duduk di teras, tanpa dipersilahkan oleh Bimbim.
Bimbim pun ikut duduk disamping Laras, dan masih bingung kenapa Laras malam-malam datang ke rumah dirinya.
"Laras, kamu kenapa? " masih bertanya hal yang sama.
Laras mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan itu adalah kotak cincin berlian yang diberikan Bimbim kemarin.
"Ini, aku kembalikan kotak ini, aku tidak membutuhkan barang mewah seperti ini Bim, aku juga mau memberikan ini, nanti saja bacanya, kalau aku udah jauh, " Laras menyerahkan sebuah kotak, yang berisikan buku diary nya dan beberapa foto kenangan dulu.
Saat Bimbin ingin membukanya, Bimbim dicegah tangannya oleh Laras, untuk tidak membukanya sekarang.
Cup..
Bimbim melongo dengan tindakan Laras, yang mendadak mencium bibirnya singkat.
"Laras, " lirih Bimbim.
"Maaf Bim, jika aku lancang, hanya itu yang ingin aku utarakan, aku pergi dulu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, " Laras berdiri dan pamit.
__ADS_1
Sebelum pergi, Bimbim mencekal tangan Laras, dan membalas ciuman tadi yang terasa sangat singkat.
Kini ciuman Bimbim sangat lembut dan mendalam, membuat Laras melayang jauh diatas awan.
Laras pun menangis, dan menundukkan kepalanya malu.
"Maaf" ucap Bimbim.
"Tidak apa Bim, aku senang aku harap kamu tidak menyesalinya, permisi. " Pamit Laras.
Laras menghapus air matanya, dan masuk ke dalam mobil taxi.
Dan dalam taxi itu ada mamanya, Bimbim menjadi curiga sebab beum pernah ia melihat Laras seperti itu.
"Pak, tolong masukin lagi motor Bimbim ya, Bimbim tidak jadi keluar, " pintanya pada Pak Satpam.
"Baik, Den" Pak Satpam langsung buru-buru memasukan motor sport milik Bimbim ke dalam garasi.
Bimbim segera masuk dan penasaran isi kotak tersebut.
Tiba di dalam kamar, Bimbim mengunci kamarnya agar tidak ada yang tiba-tiba masuk.
Bimbim duduk diatas ranjang dan membuka isi kotaknya.
Setelah meletakkan kotak cincin diatas meja belajar, kini ia hanya membawa kotak yang Laras kasih ke Bimbim.
"Apa ini, buku diary? Maksudnya apa ya, dibaca gak ya, duh gemetar" gumamnya dalam hati.
Bimbim pun membaca selembar demi selembar, dan ada yang mengejutkan bahwa Laras benar-benar mencintai dirinya.
Dan akan pergi ke luar kota.
Dan disitu tertulis, bahwa Laras benaran pernah ketemu Brian di ruang penginapan. Dengan begitu banyak perban.
Bimbim menghela nafas kasar, dan menutup kembali buku diary milik Laras, dan banyak foto kenangan yang ia potret bersama, sewaktu masih dekat.
"Laras, loe kenapa tidak mau jujur sama gue," Bimbim menutup buku diary Laras, sambil meneteskan air matanya.
Keesokannya, Bimbim tudak langsung ke kampus, melainkan kerumah Laras terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, maaf Bi, Larasnya ada tidak? " tanya Bimbim sopan.
"Walaikumsalam, maaf Den, Non Larasnya tidak ada sudah pindah, huhuhu. Rumah ini sudah dijual sama Non Laras, Den, Bibi juga tidak tahu mereka mau pindah kemana, " tangis Bibi pecah.
Dari dalam ada seorang perempuan menghampiri Bimbim dan Bibi.
"Ada apa ini, dia siapa Bi? " tanya perempuan yang seusia Laras.
"Den Bimbim ini pacarnya Non Laras, Non, Den Bimbim mencari Non Laras, " Bibi buru-buru mengusap air matanya.
"Kamu pacarnya Laras? " tanya perempuan itu.
Bimbim melihat ke arah Bibi, dan Bibi mengkode, beruntung Bimbim paham maksudnya.
"Iya, saya pacarnya" jawab Bimbim.
"Oh, tapi maaf rumah ini sudah dijual sama Laras dan keluarganya, dan saya yang membelinya" terang perempuan itu.
"Oh iya, saya Yuni pemilik rumah ini, senang bertemu anda" sopan Yuni.
__ADS_1
"Saya Bimbim, iya sama-sama" balas Bimbim.
"Ganteng juga, mayan nih" batin Yuni bicara, Yuni tersenyum melihat Bimbim.