Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
12


__ADS_3

"Aku... " Tania tak meneruskan.


"Jujur Tan,? " tekan Vino.


"Aku tidak seperti dia yang berani dulu, aku terlalu cupu. Dan sejak keluar dari Pesantren aku merubah penampilan saat aku berteman dengan seseorang, selain Syifa. Kalau Syifa suka keluyuran, pembalap juga banyak yang suka sama dia, Syifa selalu menyemangati gue. Dia nyuruh gue untuk jangan terlalu lugu, jadilah gue seperti ini, tapi justru kebalikannya. Sekarang Syifa yang jadi alim, huft, " Tania panjang lebar menjelaskan kepribadian dirinya sendiri pada Vino.


" Semua orang juga pasti butuh perubahan, tidak satu atau dia orang yang seperti kalian, kita semua juga sama, asal jangan lupa pada masa saja, dan jangan sombong, " tegasnya.


" Tapi Brian menjengkelkan loh, sombongnya pake banget, " kesal Tania saat mengingat kejadian dirumah Brian.


" Bukan sombong Tan, tapi terlalu manja" tukas Vino.


Tania tak ingin melanjutkan lagi pembahasan tentang Brian, karena pada dasarnya pasti akan membela Brian.


Tania dan Vino masih di taman kampus sambil memantau Syifa dan Brian di depannya.


Di dalam kantor kampus, Fatih melamun dan ada salah satu dosen agama juga disitu yang seangkatan dengan dirinya, dia seorang perempuan baru juga memulai pembimbingan di kampus ini. Dulu juga satu kampus dengan Fatih, entah itu sesuatu kebetulan atau ketidaksengajaan.


"Loh, Fatih, itu beneran kamu Fatih? " tanya wanita itu, membuyarkan lamunan Fatih.


Fatih terperanjat kaget, seseorang yang ada di hadapan dirinya.


Dia adalah sosok wanita yang dibilang soleha dan hapalan qura'an dan mengaji dengan sangat merdu sekali.


Tiap perlombaan di kampus selalu menjadi juara pertama.


" Alisa? " ucap Fatih, kaget dan tak percaya.


" Iya, ini aku, kamu mengajar disini? " tanya Alisa.


"Iya, baru kemarin, saya mengajar disini, kamu sendiri sedang apa disini? " Fatih balik bertanya.


Mereka pun saling tersenyum satu sama lain, sehingga mereka tak menyangka akan kembali bersama menjalin persahabatan lagi.


Diantara mereka tidak ada yang namanya saling menyukai.


Baik itu Fatih ataupun Alisa, mereka hanya berstatus pertemanan.


Dihati mereka juga tak ada debaran jantung yang mengguncang.


Alisa sempat bertunangan dengan ulama di sebuah Pesantren namun sayangnya, jodoh berkata lain, Alisa harus kehilangan tunangannya, sebab tunangannya telah tiada atau bisa dikatakan meninggal dunia karena sakit.


Kembali ke cerita Syifa dan Brian ya...


Syifa dan Brian pun masih asyik duduk sambil bersandar di bahu masing-masing.


"Ehem, asyik nih yang sudah halal toyiban, mesraan tidak ada setan yang mengganggu dan tidak ada nyamuk yang berdengung" cibir Tania, sedangkan Vino disamping Tania.


Syifa pun langsung duduk tegak lagi tidak condong seperti tadi.

__ADS_1


"Ganggu sekali mereka, lagi asyik juga! " seru Brian dalam hati.


"Tumben kalian berduaan, biasanya ribut" sindir Tania.


" Syirik aja loe! " sahut Brian kesal, dan meninggalkan Syifa.


Brian menarik tangan Vino, kode untuk Syifa dan Tania.


Vino pun menurut saja, karena mungkin Syifa sedang butuh teman curhat.


Tania masih melihat tatapan Brian sengit. Terlihat Brian dan Vino sudah tidak terlihat, Tania langsung duduk di samping Syifa.


"Huwaaaaaaaa" Syifa mendadak menangis lagi.


"Idih, cengeng banget loe" Tania merasa risih, dengan tangisan sahabatnya itu.


" Tan, ihhhh, tadi gue nyandar di bahu Brian, gawat ini gawat!!! " heboh Syifa.


" Ya sudah sih Fa, dia laki loe, " ujarnya.


" Ya tapi gue gak nyangka aja, kok gue mau sih, tanpa sadar loh ya" cicit Syifa.


Tania tak mau menanggapi Syifa yang terlalu lebay. Tania langsung berdiri dan masuk jam kelas bimbingan.


Syifa pun ikut di belakang Tania.


Brian masih memainkan gitar dan duduk di lantai.


Tania sudah berjalan mendahului Syifa yang kalau jalan seperti siput, lambat.


Syifa menghentikan langkah kakinya, saat tepat di samping pintunya ada Brian yang sedang bernyanyi, sambil memainkan gitarnya.


" Ganteng juga suami aku, meskipun tengil dan arogan cuek serta gengsi, tapi tampan sekali, tapi penampilannya robek robek, hem, " batin Syifa dan menghembuskan nafasnya.


Perlahan-lahan Syifa berjalan sangat pelan. Tapi dari arah depan Brian melihat Syifa, yang nampaknya enggan masuk ke dalam. Brian sengaja menyudahi main gitarnya dan masuk ke dalam kelas.


"Syukur lah, dia sudah masuk" Syifa bernafas lega, saat Brian sudah masuk.


Syifa pun langsung mempercepat langkahnya, sebab di belakangnya ada dosen-dosen yang sedang berjalan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.


" Kamu masuk ke kelas mana Alisa? " tanya Fatih, berjalan beriringan bersama dosen lain juga.


Alisa juga bingung, dia akan masuk ke kelas mana.


" Emmm, itu deh kayaknya Tih, " ujar Alisa sambil melihat ke atas pintu kelas, takut salah.


"Ya sudah, saya duluan ke sana ya Al, semoga menyenangkan mengajar anak mahasiswa" pamit Fatih, dan melewati kelas Syifa.


Tak sengaja Syifa melihat Fatih melewati kelasnya.

__ADS_1


"Loh kok cuma lewat doang sih" gerutunya.


" Saya duluan ya Tih" pamit Alisa juga.


" Iya, " balas Fatih.


Pandangan Fatih tepat pada Syifa saat Syifa pun melihat ke arah pintu.


Fatih tersenyum jauh untuk Syifa. Syifa pun hatinya senang, tapi sementara.


Brian menoleh ke Syifa dan berganti ke arah pintu.


" Oh, ada pujaan hati lewat, pantesan kesambet, cih, " batin Brian.


"Assalamu'alaikum, semuanya, perkenalkan saya Dosen baru disini, nama saya Alisa, ada yang bertanya, tapi maaf tidak untuk pribadi ya, " sapa Alisa , tersenyum.


Sepertinya tidak ada yang bertanya apapun, niat Jon tadi ingin bertanya apakah masih single atau sudah memiliki suami, namun urung. Sebab Dosen Alisa sudah mengatasi dari awal.


Kelas bimbingan selesai, semua Mahasiswa dan Mahasiswi berhamburan pergi.


Ada yang mampir ke perpustakaan, kantin dan lain sebagainya.


Sedangkan Brian dan tiga sahabatnya itu mampir dulu ke kantin, sebab perut mereka butuh asupan gizi.


Syifa pun ikut di samping mereka, Tania juga ikutan nimbrung.


Karena Syifa tidak ingin sendirian.


Lagian semua orang-orang kampus juga sudah mengetahui kalau Syifa menikah dengan Brian karena ketidaksengajaan atau keterpaksaan.


Memang diantara mereka belum ada rasa cinta atau rasa peduli satu sama lainnya.


Tapi Syifa sebagai seorang istri harus diwajibkan menurut pada Brian suaminya.


pembahasan pun dimulai.


"Bri, bagaimana kalau kita tantang, orang itu untuk balapan malam ini" ujar Bimbim.


Syifa yang baru saya meneguk air minum tiba-tiba tersedak.


" Uhuk uhuk. "


" Loe kenapa? " tanya Vino.


" Tidak apa Vin, gue pulang duluan aja ya, Bri gue boleh pulang dulu kan? " tanya Syifa pada Brian yang masih menikmati makanannya.


" Jangan gitu loe, loe mau gue di marahin Ibu dan Ayah, hah! " larang Brian. Takut orang tuanya memarahi dirinya.


Vino pun menatap curiga pada Syifa, Syifa pasti sedang bersiap tempur, untuk nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2