Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
19


__ADS_3

Di rumah Brian.


Brak...


Brian membuka pintu mobil kasar, sehingga terdengar sangat keras.


Brian tak membawakan tas dari dalam mobil.


Brian langsung masuk tanpa memperdulikan Syifa yang cara berjalannya masih pincang.


Syifa pun hanya geleng-geleng, kenapa Brian bersikap seperti itu, apakah Syifa punya salah?


Namun Syifa tak peduli, ia terus membawa tas nya masuk.


"Loh, loh, Fa, kamu gak bilang Ibu, jam segini udah pulang, katanya sore" dari arah dapur Ibu Brian melihat Syifa berjalan sambil menjijing tasnya.


"Ya ampun, sini Ibu bawain tasnya" lanjutnya.


Dan merampas tas yang masih di tangan Syifa.


Jessica melihat kebelakang tak ada tanda keberadaan anaknya.


"Sayang, dimana suami kamu Nak, " tanya Jessica, heran kenapa tidak ada Brian di belakang Syifa, dan tidak membantu membawakan tasnya.


"Brian udah naik ke atas Bu, " tunjuk Syifa kearah tangga.


"Ya ampun tuh anak kok tidak bantu kamu, bawain apa gitu" protes Jessica.


" Sudah Bu, Syifa tidak apa-apa kok, Syifa kan sehat cuma kaki saja yang sakit" ucap Syifa.


Syifa dan Jessica berjalan naik anak tangga menuju kamar Brian, ketika di depan pintu kamar Brian, Syifa meminta Ibu mertua untuk meninggalkan dirinya.


Karena takut nanti Brian menganggapnya manja dan suka ngadu.


"Bu, sampai disini saja ya, terimakasih udah bantuin Syifa" ucap Syifa pada Ibu mertuanya.


Jessica pun tersenyum, dan pergi meninggalkan Syifa di depan pintu kamar anaknya.


"Ya sudah, Ibu ke bawah dulu ya, kalau lapar tinggal turun saja ya sayang" ujar Ibu Brian.


Syifa melihat Ibu mertuanya sudah tak terlihat, Syifa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok tok tok...


Syifa mengetuk pintu kamar Brian, namun belum ada sahutan.


Tok tok tok...


Kedua kalinya Syifa mengetuk, namun nihil tak ada sahutan lagi dari dalam kamar Brian.


Dengan terpaksa Syifa langsung masuk, ternyata pintu kamar Brian tidak dikunci.


Ketika akan menutup pintu dari dalam kamar Brian, dan saat balik badan. Syifa dikejutkan oleh keberadaan Brian yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Aaaaaaa" Syifa histeris kaget, dan menjerit kencang.


Bugh...

__ADS_1


Syifa mendorong Brian reflek, karena kaget.


Dan Brian terjatuh.


Syifa menutup mata, karena Brian hanya mengenakan handuknya saja, dan bertelanjang dada.


"Pake baju dong Bri" sambil menutup mata.


Brian bukannya menurut, tapi sengaja menggoda Syifa, dan mendekati Syifa begitu dekat.


Hingga Syifa mentok di tembok.


"Mau lihat akses gue tidak, gratis nih, pahala banget loh" goda Brian. Mencolek colek lengan Syifa yang sudah mentok ke tembok.


Syifa bergidik melihat aksi Brian, mau lari tapi tak bisa. Brian pun tertawa melihat kegelisahan Syifa, dan Brian pun menyudahinya, sebab sudah merasa puas, sudah membuat Syifa ketakutan.


"Hahahaha, loe tuh gak bikin gue nafsu tahu gak," ejek Brian, dan menjauh dari Syifa.


Tanpa rasa malu, Brian membuka handuknya.


Lagi-lagi Syifa menutup mata, karena handuk yang Brian kenakan di buka di depan matanya.


" Bri, kamu bisa gak sih, untuk membuka sesuatu itu harus bilang dulu, atau jangan di depan aku! " seru Syifa, kesal dengan perbuatan yang membuat Syifa malu.


"Ngapain loe tutup mata segala, aku udah pake kolor kali, dasar lebay! " sahut Brian. Brian melemparkan handuknya dipangkuan Syifa, membalas perbuatan Syifa saat masih dirumah sakit.


Syifa memandang Brian sengit, bisanya dia mengerjai dirinya.


"Oh, kamu balas dendam ya, lemparin handuk ke aku? " tanya Syifa, menebak.


Tak mau berdebat lebih lanjut, Syifa menaruh handuk di tempat semula.


Brian memakai pakaian, sedangkan Syifa merapihkan tempat tidurnya.


"Aduh adududu" terlihat ada darah di kaki Syifa, sebab Syifa tersenggol meja belajar Brian.


Syifa kesakitan, mengibaskan lukanya dengan tangannya.


Brian tak mau menolong Syifa, Syifa pun tak mau meminta tolong, karena ia tahu Brian mana perduli dengan dirinya.


Syifa duduk di kursi belajar Brian, masih acuh tak mau mendekati Syifa, padahal Syifa sudah merintih kesakitan.


"Bri, kamu keterlaluan banget sih, istrinya terluka tapi di acuhkan, " gerutunya, dengan wajah berkeringat.


"Elo kan wanita supersemar, jadi itu resiko loe karena sudah bohongin suami, kualat" balas Brian, bukannya kasihan malah menyumpahi.


"Udah ah, gue mau pergi, capek lihat muka loe yang penuh dengan kebohongan dan dramatis" Brian langsung pergi meninggalkan Syifa, Syifa hanya pasrah pada keadaan.


"Mama, aku ingin memelukmu" rintihnya, menangis teringat Rani mamanya.


Syifa pun membiarkan lukanya, tak segera diobati, sebab untuk berjalan pun susah.


Syifa pun hanya bergeser kursi, dan pindah ke sofa untuk menyelonjorkan kakinya yang penuh darah. Dan membiarkan darahnya mengering sendiri.


Brian keluar dan mengambil kunci motornya, ingin mampir ke pemakaman Cahaya.


Ditengah perjalanan, ada penjual bunga.

__ADS_1


Brian berhenti dan membeli bunga untuk ia taburkan ke kuburan Cahaya, mantan pacar Brian.


Tiba di pemakaman, Brian langsung berjongkok memberikan bunganya di tempat peristirahatan terakhir Cahaya.


"Aya, semoga kamu bahagia disana, maafkanlah aku, aku tak setia menunggumu" ucapnya sambil memegang baru nisan Cahaya.


Brian tak lama di pemakaman, dan Brian pun langsung ingin pergi bertemu teman-teman yang lainnya.


Tiba di Kampus, Brian langsung di kantin, dan menghubungi para sahabatnya.


" Loe dimana Vin,? " tanya Brian, melalui aplikasi hijaunya, secara privat.


Ting... Bunyi pesan masuk di ponsel Brian.


"Gue masih ada kelas, emang ada apa? Mungkin bentar lagi mau pulang, " balas Vino, memberitahu.


" Gue ada dikantin, kelas selesai cepat kesini" perintah Brian.


"Oke" jawabnya.


Klik... Suara telepon berakhir.


Brian melanjutkan makan mie ayamnya, dan minuman es jeruknya.


Fatih juga berada di kantin, dan melihat ada Brian, Fatih mendekatinya.


" Loh, kamu kok di sini? Tidak masuk kelas? " tanya Fatih dari belakang punggung Brian.


Brian pun menengok ke belakang, ternyata yang bicara adalah Dosen Fatih, laki-laki idaman Syifa.


"Boleh saya duduk di sini? " tanyanya lagi.


"Silahkan" jawab Brian, singkat.


"Terimakasih" ucap Fatih.


"Hem, " ujarnya.


Fatih memesan makanan, mie ayam bakso, sama seperti Brian, dan minuman air mineral botol.


"Ini Pak, pesanannya" ucap pedagang mie ayam bakso.


" Terimakasih, Mang" balas Fatih.


Tanpa mengatakan apa-apa, Fatih memakan makanan yang sudah di hidangkan.


Saling lirik satu sama lain, tak ada yang memulai percakapan.


"Ganteng juga Dosen ini, pantesan saja Syifa kelepek-klepek sama dia, huft" dalam hati Brian bicara sendiri, sambil membuang nafasnya.


Setelah Fatih sudah selesai makan, semuanya habis tak tersisa, karena dalam agama tidak boleh menyisakan makanan, mubazir nantinya.


"Kenapa kamu tidak masuk kelas jam ini? " tanya Fatih, memastikan.


" Gue ada perlu Pak Dosen" jawab Brian, sedikit tidak suka berbicara pada Fatih.


"Ha! " teriak seseorang di belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2