Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
39


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, " sapa dosen Alisa.


Membuat lamunan Bimbim buyar, dan tersentak kaget, sampai pulpen pun terjatuh.


"Selamat pagi, maaf ya hari ini mendadak jam kosong, sebab akan ada rapat, jadi istirahat dirumah saja terlebih dahulu" dosen Alisa memberitahukan pada semua yang ada di dalam kelas.


Dan permisi untuk kembali.


"Fa, kita mau kemana nih, pulang atau stay di sini sampai rapat para dosen bubar? " gurau Tania, mencolek punggung Syifa, yang masih terlihat melamun.


"Aku mau pulang saja, Tan, maaf ya, " ucap Syifa, dengan wajah yang sangat pucat.


Brian berada di Apartemen pribadinya, karena ia merindukan tempat tinggalnya.


"Fa, kenapa sih tidak mau tinggal bersamaku? " batinnya bertanya sendiri.


"Fa, aku sudah sabar kehilangan kamu yang disengaja aku dan kamu dipisahkan, tapi kenapa kamu tidak mau mengerti aku? " lanjutnya.


Kini ia terlalu lelah untuk difikirkan, dan tak disadari ia tertidur di atas kasurnya.


Laras beberapa hari ini tidak masuk ke kampus, karena dia sedang terbaring lemah diatas kasur.


Melainkan sedang berada di rumah sakit, karena asam lambungnya kambuh.


Karena terlalu banyak pikiran, hingga ia telat makan dan istirahat.


"Laras, Sayang, makan dulu ya, ini sarapannya mama bawain, atau mau mama suapin? " tawar Mamanya, karena tidak tega melihat anaknya masih lemah, dan masih belum mau makan apapun, hanya menggelengkan kepalanya jika mamanya menyuruhnya makan.


Bimbim sengaja mampir dulu ke rumah Laras, sebelum ia berangkat ke kampus.


"Bi, Larasnya ada? " tanya Bimbim.


"Aduh, Den, Non Laras sedang dirumah sakit, huhuhu" jawab Bibi sambil menangis.


"Loh kenapa dengan Laras Bi, " tanyanya lagi.


"Tidak tahu, udah tiga hari Non Laras berada di rumah sakit, huhuhu" jawabnya lagi.


Tanpa permisi Bimbim berlari keluar dari gerbang, lalu langsung mengendarai sepeda motor sportnya, menuju ke rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, Bimbim buru-buru ke resepsionis. Setelah itu langsung menuju ke kamar rawat inap Laras.


Tok tok tok...


Bimbim mengetuk pintu.


"Mah, ada yang mengetuk pintu, tolong bukain Mah, " punya Laras.


Mamanya berjalan menuju pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Loh, Nak Bim, " Mamanya Laras kaget.


"Iya Tante, ini aku, oh iya apa benar Laras ada di sini? " tanya Bimbim.


"Oh, iya silahkan masuk" Mamanya Laras mempersilahkan Bimbim masuk kedalam.


Laras menengok ke belakang ternyata adalah Bimbim, Laras gugup dan salah tingkah.


"Aduh, kenapa dia kesini sih, harusnya dia gak boleh tahu" batin Laras, saat Bimbim berjalan menuju ranjangnya.


"Hai, Ras, apakabar? " sapa Bimbim, dan bertanya.


"Hai juga, kabarku ya seperti apa yang kamu lihat, lagi disini itu tandanya apa, " jawab Laras.


"Mama keluar dulu ya, biar kalian bisa mengobrol dengan santai, " Mamanya mengerti, dan pamit keluar.


Setelah mamanya pergi, Laras melihat kearah Bimbim yang masih melihat mamanya Laras keluar dari pintu, Laras pun berpaling lagi saat Bimbim kembali ke pandangan Laras.


"Siapa yang memberitahu kamu Bim? " tanya Laras.


"Bibi dirumah kamu, tadinya Bibi kamu tidak mau menjawab pertanyaan aku, tapi mungkin dia kasihan sama aku, karena aku sehari tiga kali kerumah kamu, jadi Bibi memberitahu kamu disini, " jawab Bimbim.


Laras tidak berkomentar hanya diam, dalam nafas yang masih dikasih infus.


Laras tiba-tiba menangis, entah perasaan terharu atau perasaan sedih.


Bimbim mengerutkan keningnya, heran melihat Laras yang mengeluarkan air matanya.


Namun Laras hempaskan tangan Bimbim.


"Ras, kamu kenapa? " bingung Bimbim.


Laras tidak menjawabnya.


"Bim, tolong jangan membuatku terlalu berharap sama kamu, aku bukan siapa-siapa kamu, iya dulu aku terlalu memanfaatkan kamu supaya aku bisa berpacaran dengan Brian, meskipun Brian cuek dan kasar sama aku, tapi aku tidak sesedih ini dan tidak sampai sakit masuk ke rumah sakit.


Tapi, saat kamu cuek, dan tak mau menerima beka dari aku, aku terlalu memikirkan kamu, aku sedih dan menangis setiap pulang dari kampus, dan aku tidak langsung pulang, melainkan ke suatu tempat terlebih dahulu, " tutur Laras panjang lebar, sambil menangis.


Bimbim yang mendengar itu, merasa sangat bersalah dan menyesalinya.


"Maaf" Bimbim hanya bisa meminta maaf.


"Kamu tidak bersalah Bim, disini tuh aku yang sangat bersalah, sebab dulu aku sudah banyak merepotkan kamu, dan mengkambinghitamkan kamu terus, huhuhu" Laras menangis.


"Laras plis, kamu jangan menangis, iya aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini" Bimbim langsung memeluk Laras, tak perduli Laras mau marah atau tidak.


Laras pun pasrah dipeluk Bimbim dalam keadaan infus.


Laras mendorong Bimbim, untuk menyudahi pelukannya.

__ADS_1


"Bim, terimakasih ya kamu mau nengokin aku disini, maaf merepotkan" ucapnya.


" Iya, aku senang bisa melihat keadaan kamu langsung, tapi aku marah sama kamu, kamu tidak memberikan kabar sama sekali, " wajah Bimbim dibuat sedih.


"Iya deh iya, maaf" Laras jadi merasa bersalah.


Bimbim tersenyum melihat Laras, dengan wajahnya yang sedikit menggemaskan.


Entah kenapa Bimbim merasa lega ketika Laras tersenyum.


"Oh iya, aku membawakan ini untukmu" Bimbim memberikan cincin berlian untuk Laras.


Karena seingo Bimbim, dulu Laras sangat menginginkan cincin berlian, saat jalan-jalan di mall dulu.


" Bim, ini tuh mahal banget, untuk apa? Aku sudah tidak menginginkan ini lagi, dulu tuh cuma iseng saja kok, tidak benar-benar menginginkan ini, karena cincin ini tidak cocok dijari aku, rakyat jelata sepi aku, " Laras menolak secara halus, karena Laras sangat minder.


"Sudahlah pakai saja Ras, aku ikhlas kok, maaf kalau tidak sebagus yang kamu mau, " ucap Bimbim.


Melihatnya saja sudah minder, apalagi memakainya.


Laras masih tidak mau memakai cincin berlian itu, namun ia berharap bisa memilikinya bukan sebagai teman, tapi sebagai orang yang terkasih.


"Maaf Bim, aku tidak mau, kasihkan saja sama orang terkasih kamu, yaitu pasangan baru kamu yang kemarin itu, " ujarnya.


Bimbim mengerutkan keningnya, kenapa Laras bisa mengatakan hal semacam itu.


"Maksudnya? " tanya Bimbim, tidak paham bahkan tidak mengerti.


"Loh, bukannya kemarin kan kamu bilang sendiri," ucap Laras, mengingatkan.


"Hahahaha" Bimbim tertawa kecil.


"Ya ampun Ras, kamu percaya begitu saja sama aku? " lanjutnya.


"Iyalah, " balas Laras emosi.


Bimbim melihat ada wajah kecewa di raut mukanya.


Bimbim memegang erat tangannya, dan terus tersenyum pada Laras.


Laras bingung dan melepaskan genggamannya.


"Kok, dilepasin? " tanya Bimbim.


"Maaf Bim, aku tidak mau salah arti dan salah paham, maaf sebaiknya kamu pulang saja ya, aku mau istirahat, oh iya ini cincin berliannya, " Laras mengembalikan cincin berlian yang ada di kotak perhiasan berbentuk love dan berwarna biru.


Warna kesukaan Laras, dan Bimbim pun memilih warna itu, supaya Laras menyukainya, tapi eh ditolak Laras.


"Laras, " lirih Bimbim.

__ADS_1


"Maaf, Bim" ucap Laras.


Laras sebenarnya sangat sedih, mengatakan hal itu, namun ia terpaksa karena Laras sudah tidak lagi menjadi anak kampus, karena Laras sudah berhenti karena keterbatasan ekonomi, sejak ayahnya meninggal dunia.


__ADS_2