
Sebagai seorang penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya perbaiki teks di atas sebagai berikut:
Ketika Syifa berbicara, Fatih hanya diam dan mengiyakan saja. Fatih lalu menyampaikan materinya. Saat Fatih menatap ke arah Syifa yang masih menulis, Brian melihat ke arah Fatih. Kini, Brian fokus menatap Syifa yang sibuk menulis materi.
"Ustadz kok gitu, katanya tidak boleh pandang memandang lawan jenis, eh dia sendiri begitu, dasar ustadz halu," cibir Brian dalam hati.
Brian dan Vino ada berdekatan, sedangkan Syifa berdekatan dengan Tania. Brian lalu mengirimkan pesan ke Syifa melalui aplikasi "hijaunya". "Sayang, lihat tuh ustadz idola kamu, lihatin kamu mulu, zina mata itu namanya," tulis Brian.
Meski pesan dari Brian terkirim, Syifa ternyata masih sibuk menulis dan belum membuka ponselnya. "Syifa fokus banget," batin Brian. Setelah selesai menulis, Fatih pun keluar dari kelas Syifa dan semua murid berhamburan keluar. Namun, Bimbim, Brian, Syifa, Tania dan Vino masih bertahan di dalam kelas.
"Bim, tadi gue lihat Laras pulang, kenapa dia? Dan dia terlihat sangat sedih, sebab yang gue lihat tadi dia mengeluarkan air matanya," terang Tania pada Bimbim, namun Bimbim tidak memberikan respon.
"Iya, tadi juga pas keluar dari kelas dia juga menangis loh," timpal Syifa, merasa prihatin kepada Laras.
Bimbim yang sedari tadi tidak mau bicara, tiba-tiba pergi tanpa pamit. "Lah, tuh anak kenapa?" bingung Tania.
"Kalian para cewek terlalu kepo," sindir Brian.
Brian lantas menuntun Syifa, yang cara berjalan nya masih sedikit pincang. "Hati-hati dong, Sayang. Kamu masih dalam masa pemulihan," kata Brian penuh perhatian.
"Helehhhhh, sok romantis," cibir Tania.
Tania, Vino dan Jon lalu meninggalkan mereka, namun Bimbim masih setia duduk bersama dua pasangan halal di ruang kelas.
"Bim, elo gak ikut nih, ngapain loe jadi nyamuk gitu?" ajak Tania, melirik sinis ke arah Syifa dan Brian.
Namun, Bimbim tidak bersahabat dan tidak memberikan respon. Tania lalu jadi jengkel sendiri dengan Bimbim yang sikapnya akhir-akhir ini menjadi cuek dan tidak seperti biasanya.
"Bim, elo kenapa akhir-akhir ini berbeda? Biasanya Bim sering jalan bareng sama Laras, dan terlihat Laras mulai memiliki rasa pada kamu," tanya Brian setelah para sahabat sudah keluar.
__ADS_1
"Aduh, loe pada kepoin gue mulu deh. Udah ah, gue mau balik," sergah Bimbim sambil merapikan bukunya.
Bimbim lalu berjalan meninggalkan dua sejoli itu, dan tiba-tiba berhenti tepat di tengah pintu, lalu menoleh ke belakang ke arah Syifa dan Brian yang masih diam di tempat duduknya. Bimbim merasakan sulitnya Brian membantu Syifa.
"Apa benar yang dikatakan Brian?" gumam Bimbim dalam hati saat ia tiba di parkiran.
Bimbim tadi sebenarnya ingin langsung pulang, namun ia melihat bekal yang ada di tong sampah jadi teringat pada Laras. "Ya ampun, gue jahat banget ya sama Laras. Gue harus mampir dulu ke rumah Laras untuk meminta maaf," ucapnya. Dan ia pun langsung mengendarai sepeda motornya menuju rumah Laras.
Tiba di rumah Laras, Bimbim mendapati bahwa Laras belum pulang. "Bi, emang dari tadi Laras belum sampai?" tanya Bimbim pada bibinya.
"Belum, Den. Biasanya, Non Laras akan memberi tahu kalau dia terlambat pulang, tapi sampai sekarang sama sekali tidak ada kabarnya," jawab bibi Bimbim.
Bimbim lalu pamit pulang lagi dan berfikir, "Loh, kata Tania dan Syifa, Laras sudah pulang dari tadi, maka ia tidak ikut kelas Pak Fatih. Duh, harus cari Laras kemana ya?" Bimbim bertanya pada diri sendiri.
Sementara itu, Fatih masih sibuk di kampus dan di kantornya, karena banyak sekali tugas. Saat ia akan ke parkiran, Fatih berpapasan dengan Syifa dan Brian.
"Kaki kamu kenapa, Fa?" tanya Fatih, tak peduli bahwa suami Syifa ada di sisinya.
"Benarkah tidak parah, Fa? Sudah pergi ke dokter?" tanya Fatih lagi, masih dalam mode khawatir.
"Udah, Pak. Oh, maaf Pak, kalau begitu saya dan suami saya permisi dulu," ucap Syifa sambil pamitan.
Meski Fatih sudah tahu bahwa Brian adalah suami dari Syifa, ia masih merasakan beban dalam hatinya. "Fa, seandainya dulu kamu mau saya nikahi," ujar Fatih mengingat masa lalunya dengan Syifa. Alisa yang lewat, mendadak berhenti karena heran melihat Fatih diam berdiri sendirian.
"Tih, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Alisa sambil menepuk pundak Fatih.
"Eh, Alisa? Aku kira siapa," kaget Fatih.
"Ada yang dilamunin ya?" tanya Alisa.
__ADS_1
"Enggak kok, Alisa, eh kamu mau kemana ?" tanya Fatih.
"Mau pulang, mau ke halte nih," ujar Alisa.
"Mau tidak aku antar kamu pulang? Karena saya juga mau pulang," ajak Fatih.
Alisa masih berfikir sejenak dan melihat ke arah Fatih yang masih menunggu jawaban. "Baiklah," jawabnya akhirnya.
Fatih lalu mengantar Alisa dengan mobilnya, padahal biasanya ia menggunakan motor matic karena tidak merasa nyaman dengan motor sport. "Silahkan masuk," kata Fatih saat membukakan pintu mobil di bagian depan untuk Alisa.
"Kok didepan sih?" tanya Alisa heran, meski sebenarnya ia ingin menolak namun pintu sudah terbuka.
Maka, dengan terpaksa, Alisa menuruti permintaan Fatih dan duduk di kursi depan mobil. Fatih langsung melajukan mobilnya, dan perjalanan mereka berlangsung dengan hening.
Setelah beberapa saat, Fatih akhirnya memulai pembicaraan. "Alisa, kenapa kamu sampai saat ini belum punya pacar baru? Maaf kalau pertanyaan saya menyinggung kamu," ujar Fatih dengan hati-hati.
"Masih belum ketemu jodoh, Tih. Lah, kamu sendiri kenapa?" balas Alisa bertanya.
"Masih sama. Belum ketemu dia," jawab Fatih meniru kata-kata Alisa.
Alisa lalu mengernyitkan dahinya, "Loh itu bukannya jawaban dari saya, kok kamu memfoto kopi sih, tidak kreatif banget," guyon Alisa.
Fatih hanya tersenyum dan tidak menjawab. Sesampainya di rumah Alisa, disana sudah ada beberapa tamu perjodohan untuknya.
"Assalamu'alaikum, Bun," kata Alisa saat ia memasuki rumah dan melihat beberapa tamu dan seorang pemuda tampan yang sedang menyapanya.
"Waalaikumsalam," sahut pemuda itu dan semua orang yang berada di ruang tamu ikut menjawab salam dari Alisa.
"Maaf Bun, ada apa ini?" bisik Alisa ke telinga ibunya.
__ADS_1
"Bapak dan Ibu, ini Fatih, calon suami saya yang akan meminang saya. Saya ingin bertunangan dan menikah bulan ini, " kata Alisa dengan percaya diri.
Fatih tersenyum, merasa lega bahwa Alisa sudah memberitahunya tentang rencana ini sebelumnya. Dia mengucapkan salam pada orangtuanya Alisa dan mereka semua pun duduk bersama untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. Meskipun awalnya terkejut, orangtua Alisa akhirnya menerima Fatih sebagai calon menantunya dengan senang hati.