Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
38


__ADS_3

"Saya-" gugup Fatih.


"Mas, kamu gak perlu gugup seperti itu, kamu kan akan berjanji bulan depan akan menikahi aku, bahkan kita sudah fitting baju pernikahan loh, masa kamu mau membatalkannya, kan sayang kita sudah depe Mas, " Alisa membuat drama, Fatih masih belum memahaminya, namun ia akan mengikuti alur.


"Iya, maaf Bunda saya belum mengatakan hal ini kepada Bunda, bahwa kami berencana akan menikah" tuturnya.


"Kenapa kalian tidak berkata jujur sama Bunda, padahal kalau jujur Bunda tidak perlu untuk mencarikan jodoh untuk Alisa, Nak" ucap Bunda nya Alisa.


"Maaf Bunda, tadinya mau buat kejutan, tapi kami malah terpaksa begini, " Alisa pura-pura merasa bersalah.


Tamu yang berada di ruang tamu pun mereka abaikan.


"Maaf jeng, ini jadi gak sih, kalau tidak jadi lebih baik kita pulang, percuma! " Ibu dari calon perjodohan itu marah dan berdiri, kemudian pulang begitu saja, karena kecewa.


Setelah kepergian mereka, Bunda dan Ayahnya Alisa ingin mendengar penjelasan dari Fatih.


"Coba katakan Nak, benar apa yang dikatakan barusan? " tanya Ayah Alisa.


Fatih sempat melirik ke arah Alisa, dan Alisa hanya bisa menunduk malu, ia pasrah jika Fatih jujur, bahwa tadi hanya sandiwaranya.


"Iya Yah, kami berencana akan menikah, tapi saya masih belum memberanikan diri untuk mengatakan hal seperti ini, jadi maaf saya sedikit terlambat memberitahukannya." Entah kenapa Fatih mengatakan hal itu secara gamblang.


Padahal tidak ada niatan untuk menikah dengan Alisa, mungkin jodohnya Alisa secara tidak sadar harus jalan takdirnya seperti ini.


Alisa pun tak menyangka Fatih akan bicara seperti itu, Alisa melihat ka arah Fatih datar.


"Baiklah, Ayah akan tunggu keluarga kamu untuk datang kesini, " tantang Ayah Alisa.


"Baiklah, insyaAllah secepatnya" jawab Fatih santai.


"Dia santai banget ngomong begitu, ya ampun kenapa jadi seperti ini" gerutunya dalam hati, Alisa pun dibuat bingung oleh Fatih.


Sandiwara berakhir menikah, judul yang pas untuk dirinya.


Fatih pun pamit pulang setelah perbincangan dengan kedua orang tua Alisa selesai.


"Tih, kamu tidak apa emang, jika beneran kita menikah, aku tidak yakin Tih, kita kan tidak saling menyukai loh" ucap Alisa saat Fatih sudah berada di luar rumah.


Fatih diam sesaat dan mencernanya, kemudian Fatih tersenyum getir.


"Kita jalanin saja, siapa tahu kita ditakdirkan jalan jodohnya seperti ini, " ucap Fatih.


Kemudian Fatih pergi meninggalkan Alisa, Alisa pun melambaikan tangannya.


Alisa masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Sekarang yang harus Alisa lakukan adalah bagaimana caranya ia mengatakan jujur kepada kedua orang tuanya.


Sebab ia merasa sangat bersalah, dan tidak enak kepada Fatih.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah benar jalan jodohku seperti ini, harus melalui kebohongan, astaghfirullah" gumamnya.


Sesampainya di rumah, Fatih terlalu lelah mungkin kebanyakan aktivitas ataupun pikiran, sehingga ia langsung rebahan di dalam kamar.


"Astaghfirullah, apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku, dan apakah mereka merestuinya, " gumamnya.


Alisa dan Fatih sama-sama memikirkan hal yang serupa.


Di rumah Syifa, Brian terus menuntunnya sampai masuk ke dalam kamar. Beruntung tidak ada kedua orang tua Syifa yang melihat mereka.


"Fa, kita pindah aja yuk, aku tak sanggup hidup di sindir mulu, kita tak bisa ngapa-ngapain tau," manja Brian.


"Loh, kok gitu sih, aku masih mau berdekatan dengan mama, Bri, " protes Syifa.


"Apartemen kosong terus dong, " Brian cemberut.


Lalu hening tak bersuara, hanya karena perkara pindahan.


Brian pun langsung mandi tak ada rayuan ataupun gombalan.


Syifa pun merasa bersalah, ia tahu seharusnya sebagai istri harus mengikuti kemanapun suaminya singgah.


"Sayang, mama pulang nih, mama membawakan makanan kesukaan kamu, " heboh Rani saat ia masuk kedalam rumah.


Dan tidak ada sahutan dari Syifa maupun Brian.


"Loh loh, pada kemana semuanya, kok sepi banget ya" heran Rani, menengok kanan dan kiri.


"Loh, kalian semua sudah disini rupanya, pantesan tidak ada menyahuti mama, " sambil berjalan Rani masuk ke ruang makan.


"Mama kok sendirian, mana papa" tanya Syifa.


"Papa masih banyak pekerjaan, lembur kayaknya deh, " jawab Rani. Rani nampak heran melihat menantunya yang diam tanpa melirik ataupun melihat, dan Syifa pun sama diam tak bicara.


"Tumben mereka tidak lebay" batin Rani, memperhatikan anak dan menantunya.


Brian pun selesai, dan langsung naik ke atas.


"Maaf semuanya, Brian mau istirahat dulu" pamit Brian, lalu pergi meninggalkan Syifa yang masih mengunyah makanannya


"Kamu ada masalah ya sama suami kamu? " tanya Rani, terlalu ingin tahu urusan rumah tangga anaknya.


"Tidak Mah, mungkin dia terlalu lelah" alibinya.


Tak selang berapa menit Syifa pun langsung menyusul suaminya.


"Brian, kamu kenapa? " tanya Syifa, saat melihat suaminya memainkan laptopnya.


"Kenapa apanya? " Brian balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu abaikan aku loh tadi, sampai aku pun kesulitan berjalan, " sedih Syifa, menatap Brian yang masih cuek.


Brian hanya melirik dan tidak ingin menanggapinya. Brian langsung naik ke batas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Syifa hanya memandang sedih, saat suaminya mendiamkan dirinya.


Keesokan harinya, Syifa dikejutkan dengan Brian yang sudah tidak ada di dekatnya.


"Astaghfirullah, Brian kemana sih? " Syifa khawatir, dan merasa sedih.


Kemudian Syifa buru-buru turun dan menuju ke dapur.


"Bi, lihat Brian tidak? " tanya Syifa pada Bibinya.


"Tadi Den Brian buru-buru Non, katanya ada perlu, tapi tidak tahu perlu apa, Bibi tidak bertanya lagi Non, " jawab Bibi, yang masih mengupas bawang merah.


Syifa pun menundukkan kepalanya, dan sedih merasa dicuekin oleh suaminya sendiri.


Syifa langsung segerakan berangkat ke kampus, mungkin saja Brian sudah berangkat dan sudah berada di kampus.


Tiba di kampus, Syifa langsung ke kantin, namun tidak ada, berlari sedikit pincang pun ia paksakan.


Akan tetapi tetap Brian tidak ada di dalam kelasnya.


Bughhh...


Syifa bertabrakan dengan Tania.


"Aduh, Fa, elo kenapa buru-buru begitu, kaki kamu kan masih sakit, " keluh Tania, dan merasa kasihan dengan keadaan Syifa yang tengah tergesa-gesa.


"Maaf, gue nyari Brian, loe lihat tidak dia dimana?" tanya Syifa, ngos-ngosan.


"Tidak, emang didalam kelas tidak ada Fa, " jawab Tania, sambil menunjukkan ke kelasnya.


Syifa hanya geleng-geleng kepalanya.


Lalu Syifa pun kembali lagi ke kelas bersama Tania.


Vino, Bimbin dan Jon bersamaan masuk ke dalam kelas, kecuali Brian.


Padahal Brian sudah keluar dari rumah sesudah subuh.


"Brian kemana sih, apakah dia marah karena aku tidak mau tinggal bersama dirinya? " pikirnya dalam hati, saat ketiga sahabat Brian masuk ke kelas.


"Fa, suami loe kemana? " tanya Jon.


"Gue tidak tahu Jon, malahan tadi gue tanya sama Tania, " jawab Syifa.


Bimbim pun heran melihat bangku Laras kosong.

__ADS_1


Dari kemarin ia belum bertemu dengan Laras.


"Assalamu'alaikum, " sapa dosen Alisa.


__ADS_2