
"Plis Bri, gue lelah capek mau tidur, " rengek Syifa pada Brian.
" Manja banget si loe! " kesal Brian.
"Mau loe gue di semprot sama ibu,hah!!" ketus Brian.
"Tau akh, gue balik duluan gue capek, SUAMI TENGIL KU YANG TAMPAN NAN RUPAWAN. Udah lah gak usah diributkan, loe ikut atau mau tetap disini!! " ucap Syifa penuh penekanan.
"Ciee diakui suaminya" ejek Jon, tanpa dosa.
Brian mendelik tajam ke arah Jon. Jon pun pura-pura tak melihat sebab ia langsung memalingkan wajahnya.
" Ya sudah gue ikut loe balik, lagian gue juga butuh istirahat untuk nanti malam yang ya gak Bim" ujarnya.
Syifa tak ingin debat lebih lama lagi, buru-buru Syifa langsung berjalan.
Brian mengekor dari belakang, sebab Brian masih tak ingin berdekatan dengan istrinya.
Syifa mendadak berhenti, melihat Fatih sedang bicara Alisa, terlihat sangat mesra.
"Aduh, " Brian menabrak pundak Syifa, sambil memegang jidatnya.
"Berhenti mendadak banget, nabrak kan jadinya" gerutunya.
Tapi Syifa tak meladeni Brian. Seulas air matanya jatuh juga, melihat kedekatan Fatih dengan Alisa. Meskipun terlihat dari arah jauh, namun nyeri.
Brian menengok wajahnya, dan Syifa langsung menghapus air matanya.
" Idih, cengeng banget" ejek Brian.
Brian mengambil kunci mobilnya didalam tas.
Dn langsung masuk dan segera melajukan mobilnya.
Syifa sedari tadi diam tak mengatakan apapun.
Brian yang menyetir pun jadi bingung harus mulai pembicaraan yang bagaimana.
" Nanti malam gue tandingan balap motor" Brian mulai melakukan pembicaraan.
Syifa masih diam.
"Fa, gue nanti malam mau tanding!! " teriak Brian.
Syifa menutup telinganya, mendengar teriakan Brian.
" Gue gak budeg ya Bri, pake teriak segala! " sontak saja Syifa kesal, Brian teriak tepat di telinga Syifa.
"Ya lagian loe gak nyaut sihsih. "
"Harus gitu. "
"Iya dong. "
Keduanya sudah sampai rumah Brian.
Tak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, Ibuku tersayang, " teriak Brian dari balik pintu sambil berjalan.
Jessica langsung mendengar suara Brian yang begitu menggema.
" Eh, udah pada pulang anak Ibu? " sapany.
__ADS_1
Tangannya dicium Syifa dan Brian.
"Bu, Syifa masuk ke dalam kamar mana ya? " tanya Syifa, karena jika masuk ke dalam kamar Brian, takut nantinya di usir.
" Ya ampun Nak, ya di kamar Brian dong sayang. Masa di kamar Ibu sama Ayah, kan gak lucu" sahutnya.
Brian mendadak melotot ke arah Ibunya.
Syifa pun diantar Brian untuk masuk ke dalam kamarnya.
Syifa terlalu lelah, langsung merebahkan tubuh yang lelah diatas kasur milik Brian. Dan langsung menutup matanya alhasil langsung terlelap.
Brian membiarkan Syifa untuk tidur di kasurnya.
Sedangkan Brian mau mandi terlebih dahulu.
Setelah itu pergi lagi untuk latihan nanti malam.
Selesai mandi Brian masih melihat Syifa masih pulas dari tidurnya.
Brian sudah tampil cakep, tak tahu bahwa Syifa dari tadi sudah terbangun namun pura-pura tidur.
" Tampan sekali cowok tengil itu, " batin Syifa yang masih pura-pura memejamkan matanya.
Brian langsung bergegas keluar, dan tak lupa untuk memakai jaket Cahaya.
Syifa heran kok kayaknya tak mau terlepas dari jaket yang bertuliskan Cahaya.
Brian turun tangga untuk pamit sama Ibunya.
Tak ingin berlama-lama Brian langsung pamit.
" Bu Brian nanti pulang larut malam ya Bu, beritahu Syifa ya Bu, agar tidak menunggu Brian, ya Bu" pesan Brian pada Jessica.
Brian langsung mendekati kastok dekat ruang televisi, karena di situ tempat kunci motor dan mobil di taruh.
Brian Mengambil kunci motor sportnya, dan segera mengendarai motornya.
Syifa dari tadi sudah bangun cuma ingin tahu saja apakah ia diperbolehkan untuk tidur di kamarnya atau tidak.
Dan Syifa menghubungi seseorang untuk persiapan nanti malam.
Jangan sampai Brian tahu bahwa Syifa lah yang mengalahkan dirinya.
Bisa bahaya kalau Syifa ketahuan bandelnya.
Bisa malu Syifa kalau ketahuan. Karena secara dari luar Syifa alim tapi masa lalu tetap menjiwai.
"Jam delapan ya, saya tunggu di rumah" ucap Syifa menyuruh anak buahnya.
Syifa pun turun dari tangga, untuk pergi ke rumah pribadinya.
" Bu, Syifa pamit pulang dulu ya, ada hal penting yang Syifa obrolin " pamitnya pada Ibu Jessica.
"Di antar sopir ya Nak, " saran Jessica.
"Baiklah" Syifa pasrah.
Mau bagaimana pun juga takut dan khawatir Ibu mertuanya curiga pada dirinya.
Syifa pun langsung masuk ke dalam mobil, dan segera melaju.
Tiba dirumah sederhana, Syifa turun dari mobil dan berhenti dirumah yang ia sewa.
__ADS_1
" Pak, terimakasih ya sudah mau mengantarkan saya pulang, maaf Pak rumahnya sangat sederhana, apakah mau mampir dulu Pak? " tawar Syifa.
" Oh, tidak usah Non, sudah malam juga, saya harus bertugas lagi. Kalau begitu saya permisi Non" pamit Pak Satpam.
Setelah dirasa mobil keluarga Brian sudah pergi, Syifa buru-buru menghubungi asistennya.
Kemudian motor didepannya sudah siap.
Tidak lupa Syifa menggantikan pakaiannya menjadi serba hitam.
Tak lupa juga menghubungi Tania, apakah di Arena sudah siap apa belum.
" Assalamu'alaikum Tan, posisi kamu sekarang dimana? " tanya Syifa masih dirumah.
" Walaikumsalam, gue sudah di Arena Fa, loe cepetan kesini ya! " teriak Tania, sebab di Arena sangat bising.
" Iya, kamu tungguin ya! " sahut Syifa.
Syifa pun menutup teleponnya dan langsung tancap gas. Seperti biasanya Syifa mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.
"Loe ngomong sama siapa Tan, " selidik Vino, karena dari tadi ada di samping Tania.
Tania tak menjawabnya. Karena didepan mereka ada Bimbim dan Jon.
Bahkan ada Brian juga, gak mungkin kan Tania ngasih tahu.
" Loe ada rahasia ya" bisik Vino ditelinga Tania.
" Iya, kenapa? " jawab Tania singkat.
Tiba-tiba...
Tin tin tiiinnn.....
Bunyi klakson Seno nama samaran Syifa.
" Itukan yang kemarin malam, kalau tidak salah dengar namanya Seno, huwaaaaa kereennn, " histeris para cewek-cewek di Arena.
Mendengar ucapan orang-orang memuji Seno, Brian menjadi geram dan marah.
"Sok kecakepan banget tuh orang, gue penasaran ganteng gue atau dia sih! " gerutunya dalam hati.
"Loe sudah siap, anak muda" sindir Seno pada Brian.
"Gue sudah siap dari tadi kali! " kesal Brian yang sedang diremehkan Seno.
"Cih, " Seno berdecak.
" Oh iya, gue lupa sudah ijin istri dirumah belum loe" cibirnya.
Padahal dalam hati Syifa emosi dan ingin tertawa dengan ekspresi muka Brian.
" Bukan urusan loe " bantah Brian.
" Oke, ayo kita mulai" tantang Seno, mengajak ke tempat balapan.
Tetapi Seno atau Syifa mendadak diam sejenak, harus ada perjanjian terlebih dahulu, meskipun bukan uang taruhannya.
" Gue ingin perjanjian, loe keberatan tidak? " tanya Seno atau Syifa.
" Apa itu, " tanya Brian, penasaran dengan apa yang akan ia katakan.
" Gue mau... "
__ADS_1