
" Siapa yang terjatuh dan tertindih? " tanya seseorang dari arah dapur.
Ayah Justin yang bertanya demikian.
Semua melihat ke arah Justin.
Syifa menunduk, Brian memberengut kesal.
Tania hanya melongo, Brian masih belum memakai baju, masih setengah bertelanjang dada.
" Siapa yang terjatuh dan tertindih? " Justin bertanya.
" Anu Om, emmm" Tania gugup.
" Kalian berdua itu memang jodoh banget ya, " ujar Justin.
Justin melirik ke arah Brian, dan betapa terkejutnya Justin melihat anaknya bertelanjang dada, didepan temannya Syifa.
Justin melotot ke arah anaknya.
Brian paham arti kode Ayahnya, hingga Brian langsung pergi dari hadapan mereka semua.
"Brian mau kemana kamu Nak" tanya Ibunya, saat Brian akan naik ke atas tangga.
" Mau masuk kamar, Bu, mau masuk kampus " jawab Brian.
" Nanti barengan saja ya, sama Syifa dan temannya, " pintanya.
"Lihat saja nanti, Bu, " Brian buru-buru naik tangga, karena tak mau banyak mendengar pertanyaannya.
Jessica lalu menemui Syifa dan temannya yang berada di ruang tamu.
Disitu juga sudah ada suaminya yaitu Justin.
" Loh Ayah juga ada disini, kebetulan semua ada di sini kecuali Brian, ia sedang berada di kamarnya, " ujar Jessica.
" Yuk, semuanya kita sarapan dulu, mumpung belum pada berangkat ke kampus kan? " lanjutnya.
" Iya, Bu" Syifa menurut, dan mengikuti mertuanya dibelakang.
Tania berasa seperti canggung, dilihatnya Brian belum muncul.
"Fa, suami loe mana? " bisik Tania, pelan.
"Gak tahu, " jawab Syifa, singkat.
Jessica menyiapkan piring dan nasi plus lauk untuk suaminya.
Justin melihat Syifa masih diam, dan temannya juga masih diam, menatap makanan diatas meja.
" Jangan dipandang saja Syifa, ayo di makan, mumpung masih anget, " bujuk Justin.
Brian di dalam kamarnya masih uring- uringan.
Mau gabung sarapan, males.
Kalau tidak sarapan pasti bakal di tanyakan juga.
__ADS_1
" Ya ampun, gini amat nasib gue, harus nikah muda, dan harus nafkahin tuh bocan cengeng kek gitu" Brian frustasi dan menyugarkan rambutnya ke belakang.
" Cahaya, maafkan gue ya, tidak setia sama loe" Brian bicara sendiri di depan cermin, sembari membayangkan wajah Cahaya.
Brian pun langsung turun tangga untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Pagi semuanya, " sapa Brian pada semua orang yang berada di meja makan.
Tania terhipnotis pada penampilan Brian.
" Fa, suami loe ganteng banget " bisik Tania, matanya masih menatap ke Brian.
Brian pun balas menatap Tania intens.
" Kenapa loe liatnya kek gitu, belum pernah lihat cowok ganteng ya" sombong Brian.
"Brian" panggil Jessica.
Ibunya mengkode supaya lebih sopan, Brian pun menurut.
"Iya" patuhnya.
Syifa bingung mau melayani Brian, Syifa terpaksa bertanya, " Brian, kamu mau makan apa, biar aku ambilkan, ya. "
Brian tak menyauti apa yang Syifa bilang.
"Bri, istri loe tanya tuh,!! " seru Tania, kesal juga lihat Brian sombongnya minta ampun.
Jessica dan Justin tak mau membuka suara, sebab itu urusan mereka.
" Bu, Ayah berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Ayah ya, dan kamu Bri, jangan lupa antarkan Syifa dan temannya ke kampus, " pamit Ayah Brian dan juga memberi perintah untuk mengantarkan Menantu dan temannya.
Jessica cium punggung tangan suaminya, begitu juga suaminya mencium kening istrinya.
" Ya ampun so sweet banget orang tua Brian" batin Tania terharu, melihat kedua orang tua Brian.
Setelah acara sarapan selesai, Brian langsung masuk ke dalam kamar lagi untuk mengambil jaket yang diberikan sang mantan terindah.
Jaket itu pun di belakangnya bertuliskan Cahayamu.
Kemana-mana pun selalu mengenakannya.
Berasa sang mantan selalu menemani dirinya.
Kemudian Brian melihat dirinya di cermin ketika memakai jaket Cahaya.
" Semoga kamu suka, aku selalu memakai ini, terlihat tampan kan " bermonolog sendiri di depan cermin.
Lalu dengan segera mengambil tas di atas meja belajarnya.
Syifa menunggu Brian di bawah, tepatnya di ruang tamu bersama Tania dan juga ditemani Ibu Jessica.
" Brian, Syifa sudah menunggu dari tadi, Nak, kalian kan sama satu kampus juga satu kelas pula, jadi barengan aja ya berangkatnya, jangan membawa motor, tapi bawa mobil. Kan bertiga, kasihan Tania, temannya Syifa masa ditinggal sendirian" tukas Ibu Jessica.
Brian sudah mengambil kunci motornya, dan menaruhnya lagi di atas meja. Dan mengambil kunci mobilnya.
Brian cuek tak mau mengatakan sepatah kata apa pun, baik itu pada Syifa atau pada Tania.
__ADS_1
Langsung saja mengambil mobil di dalam garasi,
Mobil yang ia ambil berwarna merah, yang selalu ia pake bersama sang mantan.
" Kalian berdua duduk dibelakang, gue gak mau deket-deket sama loe berdua " ketus Brian.
Saat Brian berhasil mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi, dan tak lupa Syifa bersalaman dengan mertuanya, begitu pula dengan Tania melakukan hal yang sama.
Brian masa bodoh akan hal itu.
" Ibu, kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Syifa.
Kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di bagian belakang bersama Tania.
Hening tak ada yang memulai pembicaraan, telinga Brian juga disumpal headset.
Jadi goyang sendiri dan bernyanyi sendiri.
Syifa yang melihatnya jadi gemas, dan kesal.
Syifa pun mencopot headset yang masih terpasang di telinganya.
"Apaan sih loe, ganggu gue aja deh! " seru Brian.
" Bisa gak sih loe fokus ke depan pandangannya, hah!!! " teriak Syifa.
Sampe tak sadar Syifa menyebutnya loe, ya walaupun dari dulu Syifa panggil loe gue, tapi semenjak di Pesantren Syifa belajar mengatakan aku kamu, karena Syifa menyukai sang Ustadz.
" Apa yang elo barusan tadi, loe? Gak nyangka ya, cewek sok alim sok jebolan Pesantren, bisa ucapin kata kek gitu" cibir Brian, tersenyum miring mengejek.
" Lalu, masalahnya dimana? " tanya Syifa.
" Buat gue gak masalah tuh, " lanjutnya.
" Stop! Gue gak mau loe berdua bertengkar disaat sedang menyetir mobil, oke? Fokus dong, gue gak mau mati muda, belum nikah dan punya anak!! " kesal Tania.
" Dengar itu, cewek Bunglon! " ejek Brian.
" Kamu!!! " Syifa marah.
Tania langsung memegang lengan Syifa, agar Syifa bisa menahan diri. Dan Syifa pun menurut.
Tiba di parkiran kampus, Brian sengaja rem mendadak.
Seeeettttt...
Kepala Syifa dan Tania terbentur kursi, beruntung kursi bukan besi.
" Gila loe, mau bikin kita benjolan, hah" teriak Tania.
BRAKKKKKK!!! Tania membuka pintu mobil dan menutupnya keras.
Brian melotot melihat aksi Tania, Brian langsung melihat pintunya, beruntung tidak lecet.
" Punya tenaga Sumooo ya loe, Tan, " sindir Brian.
Huft, Syifa menghembuskan nafasnya pelan, melihat Brian dan Tania bertengkar karena perkara pintu mobilnya.
__ADS_1
" Sumpah ya Fa, suami elo kurang gula banget, tidak ada manis manisnya gituh" sungut Tania.
" Tengil banget jadi cowok, Fa, elo harus banyak sabar, dan kudu nyetok sabar" saran Tania.