Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
24


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ustadz Fatih, apa kabar? " ucap seseorang yang sudah berada di samping dirinya dan Alisa.


"Walaikumsalam, kamu? " Fatih kaget, saat mendapati wanita itu, wanita yang dulunya hampir dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


Wanita itu tersenyum melihat Fatih dan Alisa.


"Dia siapa Ustadz? " tanyanya.


"Oh, dia teman saya, kenalin namanya Alisa, " Fatih memperkenalkan temannya, pada wanita itu.


Alisa dan wanita itupun berjabatan tangan, Alisa nampak biasa saja karena menurut dirinya, tidak ada perasaan apa-apa dengan Fatih. Hanya sekedar berteman dan sebagai rekan kerja.


Karena dihati Alisa masih ada mendiang calon suaminya.


Alisa langsung duduk ditempat, sedangkan Fatih dan wanita itu terlihat masih berbincang-bincang sangat serius, Alisa tak menghiraukan mereka, terus melahap mie ayamnya.


"Apa benar dia temanmu Fatih, bukan calon istri kamu? " tanya Mawar, wanita yang dulu dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


Kini Mawar pun sudah menikah, karena dulu sempat berjodoh dengan Fatih tapi tidak jadi, dan setelah perjodohan Fatih dengan dirinya tidak jadi, ada seseorang yang dengan cepat meminang Mawar.


Entah Fatih menyesal atau tidak, tapi bertemu dengan Mawar dan suami Mawar yang masih berada di dalam mobil mewah, Fatih seakan sesak untuk bernafas.


"Ya sudah, saya permisi dulu ya Ustadz, suami saya menungguku di sana. Oh iya semoga Ustadz berjodoh dengan wanita tadi, siapa tuh namanya, oh iya Alisa, semoga itu jodohmu, amin. Kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum, " pamitnya dan tidak lupa untuk mengucapkan salam.


Fatih tertegun melihat keanggunan Mawar, dulu dia tidak seperti itu.


"Sudah mengobrolnya Tih? " tanya Alisa, sampai sudah habis makanannya.


"Loh, Al, kamu kok sudah tidak menungguku dulu" tanya Fatih, melihat mangkoknya sudah tidak ada isinya lagi.


"Lagian kamu ngobrol mulu, udah laper banget nih perut, cepat deh kamu makan dulu tuh mie ayanmny, nanti keburu dingin tidak enak" Alisa menyuruh Fatih segera memakannya.


"Iya" lirihnya.


Alisa pun menunggu Fatih, sampai makanan habis tak tersisa.


"Berapa Mang, semuanya? " tanya Fatih pada pedagang mie ayam itu.


"Lima puluh ribu Mas" jawab pedagang mie ayam.


Fatih dan Alisa pun pergi, Fatih mengantarkan Alisa ke rumahnya.


Sampai di rumah, orang tua Alisa menyangka bahwa Fatih, bakal calon suaminya Alisa.


"Loh, tumben diantar laki-laki Al, dia calon suami kamu Al? " tanya Bundanya, dengan sangat antusias melihat ketampanan Fatih.

__ADS_1


"Bukan Bund, dia teman Alisa waktu kuliah" elak Alisa, karena tak enakan dengan Fatih.


"Kenalin Bund, saya Fatih teman Alisa" Fatih menjabat tangan Bundanya Alisa.


Brian kini menunggu di luar bersama dua sahabatnya, yaitu Tania dan Jon. Vino dan Bimbim belum juga datang.


"Kok Bimbim dan Vino lama sekali ya, molor kah?" tebak Tania, asal.


"Tadi mereka kirim pesan, mereka sedang dalam perjalanan, " sergah Jon, melirik ke Tania sedikit sengit, karena kalau ngomong suka asal.


Jessica hanya menjadi penonton mereka.


"Bri, kamu ngapain saja di dalam, kenapa tidak boleh keluar oleh Syifa? " tanya Jessica, penasaran dengan putranya.


"Kangen-kangenan Bu, hehehe" jawab Brian, tersenyum dan membayangkan yang tadi.


Kini Brian lega, Syifa mau menerima dia dan mau menerima keadaan, begitu juga Mama Papanya Syifa.


"Bu, Brian mau mengadakan resepsi pernikahan dengan Syifa Bu, apakah boleh? " tanya Brian, ragu-ragu.


"Sejak kapan kamu punya pikiran ingin mengadakan resepsi pernikahan? " tanya Jessica.


"Sejak tadi Bu, Mamanya Syifa yang menawarkan untuk Brian dan Syifa Bu, " terangnya.


"Terserah kalian, Ibu hanya mendukung" semangat Jessica.


"Jes, aku titip Syifa dulu, kami mau pulang dulu, istirahat sejenak, tolong sayangi Syifa" pinta Rani, dan ingin pamit istirahat terlebih dahulu, karena semenjak perjalanan pulang, Rani dan Nurul belum tidur sama sekali.


Brian pun menjabat tangan mertuanya, dan Tania, Jon dan Jessica giliran mereka yang masuk ke dalam kamar rawat Syifa.


"Hai, loe gak apa- apa kan? " tanya Tania begitu senang.


"Iya, alhamdulillah Tan, gue baik-baik saja kok, oh iya yang lainnya mana? " tanya Syifa.


"Mereka lagi diperjalanan" sahut Jon, disebelah Brian.


"Oh, iya Bri, hari ini aku sudah boleh pulang gak sih, capek banget nih, terbaring terus. " Ucap Syifa, ingin segera pulang ke rumahnya.


"Nanti aku tanya pada dokter Daniel" timpal Brian.


Vino dan Bimbim pun tiba di depan kamar Syifa.


"Kamar yang ini bukan ya Vin? " tanya Bimbim, saat tepat didepan pintu kamar Syifa.


Vino menggeleng, tanda tidak tahu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita hubungi mereka saja" Vino memberi solusi.


"Tidak ada yang aktif, bagaimana dong" ujar Vino.


Tiba-tiba Brian keluar, dan ternyata diluar sudah ada Bimbim dan Vino, sehingga Vino akan mengetuk pintu, bertepatan dengan Brian yang membuka pintu, alhasil Vino kejedot dan kesakitan.


"Aduh, benjol nih" keluh nya.


"Loe, ngapain didepan pintu segala, " bingung Brian.


"Bukannya minta maaf juga, malahan dibilang ngapain, ya nengok bini loe lah" sungut Vino, yang masih memegang jidatnya.


"Sorry gue gak sengaja, lagian gak telpo dulu gitu, " ucap Brian.


Diambang pintu terdengar berisik sehingga Tania, diminta untuk melihat ada apa di balik pintunya.


"Kirain sales jual make up, eh ternyata kalian, yuk masuk, tuh Syifa nungguin kalian" Tania menarik tangan Vino. Bimbim mengerutkan keningnya, Tania hanya menarik tangan Vino, sedangkan Bimbim tidak.


"Tan, kenapa cuma Vino aja yang loe tarik, gue kagak ditarik sih" sungut Bimbim.


"Ya elah, gitu ajah cemburu, yuk, nih gue tarik tangan loe nih ya, adilkan? " Tania pun langsung menarik kedua laki-laki itu.


"Fa, mereka ternyata yang berada di ambang pintu, bikin gaduh saja kalian, " ketusnya.


" Bukan kita Fa, tapi suami loe tuh, buka pintu kenceng banget, gak pelan-pelan gitu, gue jadi kegedot nih, benjolan kan jadinya" Vino memberikan bukti benjolan di jidatnya.


Syifa hanya menggelengkan kepalanya, mendengar cerita dari Vino, sahabat Brian.


"Brian nya mana ya, " Bimbim celinguk kanan kiri, tak mendapati keberadaan Brian di ruangan.


"Brian lagi ke dokter Daniel dulu, mau bertanya soal kepulangan Syifa" sahut Jessica.


"Oh" Vino hanya ber Oh ria.


Brian pun tiba di ruang dokter Daniel.


Tok tok tok... Brian mengetuk pintu ruangan dokter Daniel.


"Silahkan masuk" sahut Daniel, saat mendengar ketukan pintu tiga kali.


"Maaf, permisi dok, boleh saya duduk dulu sebentar, " ijinnya.


"Oh, iya boleh, silahkan duduk dulu, ada keperluannya apa ya, " tanya dokter Daniel, heran.


" Jadi begini dok, Syifa ingin pulang, apakah diperbolehkan pulang hari ini juga? " tanya Brian terang-terangn.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah boleh pulang, namun menurut saya butuh istirahat dulu disini sampai besok ya, karena harus sampai benar-benar pulih, kami tidak ingin ada keluhan dari keluarga pasien dan kami sangat sarankan agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan" ucap dokter Daniel menjelaskan panjang lebar.


__ADS_2