
" Ya sudah terimakasih ya dok, nanti saya akan sampaikan pada Syifa, " ujarnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya dok, terimakasih" pamit Brian pada dokter Daniel.
"Sama-sama, " dokter pun tersenyum melihatnya.
Brian segera ke kamar Syifa lagi. Namun saat diperjalanan, Brian bertemu dengan Ayahnya dengan seorang dokter perempuan. Entah itu siapa tapi Brian penasaran, siapa dokter perempuan yang bersama Ayahnya itu.
"Ayah? " panggil Brian, mendekati Justin.
Justin tenang dan tidak gugup sama sekali, saat ia didekatin anaknya.
"Ayah, wanita ini siapa? Kok kayaknya akrab sekali ya?" sindir Brian.
Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kenalin Bri, aku ini Tante kamu, adik Ayah kamu, yang sampai sekarang belum nikah dan masih lajang" ucap wanita itu, dan ternyata dia adalah adiknya Ayah Justin. Brian malu sendiri karena hampir saja suudzon pada Ayahnya sendiri.
"Kok, Bri, gak pernah tahu sih Yah, kalau Ayah punya adik seorang dokter" ucap Brian.
"Wong Tante mu ini baru balik dari luar Negeri loh, kini buka praktek sendiri di sini, Bri, dokter kandungan" ujarnya.
"Nama Tante siapa? " tanya Brian.
"Julia, lahir di bulan Juli" jawab Julia, bergurau.
Kini, Juli, Justin dan Brian akan ke kamar rawat Syifa.
Tepat di depan pintu kamar rawat Syifa, Bimbim,Jon dan Vino keluar. Kini yang didalam ada Jessica dan Tania.
"Eh, Om Justin" Bimbim, Vino dan Jon saling bersalaman, dan tidak lupa menciun punggung tangan Justin.
Justin, Julia dan Brian pun kini masuk ke dalam.
Sebelum Brian masuk, tangan Brian ditarik oleh Vino dan Jon.
"Bro, kita pulang dulu ya, mau istirahat, boleh ya" pinta Vino, mewakili Jon dan Bimbim.
Brian pun merasa tidak enak pada sahabatnya, maka dengan terpaksa mengijinkan mereka pulang dulu.
"Ya sudah iya, kalian boleh pulang, oh iya terimakasih ya udah mau bantuin gue" ucap Brian.
Mereka pun meninggalkan Brian, dan Brian pun kembali lagi ke dalam kamar Syifa.
"Kenalin ini Tantenya Brian, Julia, dia seorang dokter kandungan, kali aja kamu butuh asupan atau bagaimana, kamu tanya saja sama Julia, jangan sungkan ya" ucap Justin pada menantunya.
"Iya Yah, kenalin Tante saya Syifa, istrinya Brian, " Syifa mengulurkan tangannya.
"Saya Julia, Tantenya Brian" membalas uluran tangan Syifa.
Julia kini menatap ke arah Kakak iparnya.
__ADS_1
"Hai Kak, apa kabarnya? " tanya Julia pada Jessica yang berada di samping ranjang Syifa.
"Alhamdulillah kabar baik, kamu sendiri bagaimana Julia? " Jessica balik bertanya.
Julia, Justin dan Jessica kini pulang ke rumah, dan hanya Brian seorang yang menunggu Syifa, di rumah sakit.
"Sayang, mereka sudah pulang, kini hanya kita berdua, kamu mau apa, hem" usil Brian, mencolek pipinya yang merah merona.
"Aku, mau kamu tidur disamping ranjang aku, mau kan? " sambil menepuk ranjangnya.
Brian menggelengkan kepalanya, tersenyum melihat Syifa yang sangat manja.
"Oh iya, aku hampir lupa, kini aku Syifa bukan Cahaya yang dulu lagi, oke, kamu harus bisa menerimaku sebagai Syifa bukan Cahaya lagi" pinta Syifa. Mengingatkan Brian.
Kini Brian dan Syifa tidur satu ranjang, meskipun sempit tapi nyaman.
Sudah pukul lima pagi, Brian segera bangun dan melaksanakan ibadah shalat subuh dulu, meski dibilang Brian cowok petakilan lah, arogan, tengil, suka usil, rusuh, tapi dia tidak lupa dengan kewajiban sebagai umat islam.
Syifa hendak memanggilnya namun urung sebab, melihat suaminya sedang beribadah disamping dirinya.
Terukir senyum dibibirnya, dan pura-pura kembali tertidur lagi.
Setelah selesai beribadah, Brian mencium kening Syifa yang masih memejamkan matanya.
Hendak akan kembali mengambil sesuatu, tangan Brian ditarik oleh Syifa.
"Yang ini belum? " tunjuk Syifa dibibirnya, sambil tersenyum menggoda Brian, yang sudah terlihat fresh dan tampan.
Tok tok tok... Suara pintu ada yang mengetuk.
"Astaghfirullah, pagi-pagi kalian sudah? Ya ampun, Pah, lihat anak mu. " Rani langsung membuka pintu, sebelum Brian yang membukanya, dan masih dalam posisi yang ehem ehem.
Papah Nurul menutup mata sambil berjalan dan tersenyum, melihat mereka berdua sedang ehem ehem.
Brian dan Syifa pun tersenyum kikuk, karena sering kepergok oleh Mamanya sendiri.
"Mama, tumben pagi sekali datang ke sini, " ucap Syifa, yang langsung melepaskan tangan Brian.
"Kenapa memang? " Rani balik bertanya.
"Tidak apa Mah, bawain apa itu Mah, " Syifa melihat ke arah tangan Rani, sepertinya makanan.
"Oh, ini sarapan buat kamu sayang, barang kali kamu bosen dengan menu rumah sakit, kamu cobain ya sayang, " memperlihatkan makanan yang Rani bawakan.
Syifa pun mencicipi makanan Mamanya.
"Emm, enak banget Mah, Mamah yang masak? " tanya Syifa, sambil mengunyah makanan.
"Iya dong, " bangga Rani.
Setelah sarapan semua selesai, kini Brian mengemasi barang yang akan dibawah pulang, sebab hari ini Syifa sudah diperbolehkan untuk istirahat di rumah.
__ADS_1
" Apa ada yang ketinggalan? " tanya Rani, pada menantunya.
"Sepertinya sudah semua Mah, " jawab Brian, sambil melihat-lihat barang yang mau di bawah pulang.
Nurul dari tadi hanya menonton tanpa berkomentar apa- apa
"Pah, kok diam saja dari tadi, kenapa? " tanya Syifa.
"Papah hanya jadi penonton kalian saja lah, pusing lihat kalian bicara" ucapnya santai.
Tiba di rumah Syifa, sudah ada Tania yang dari tadi menunggunya.
Kaki Syifa masih pincang karena lukanya belum kering.
Masih menggunakan tongkat, sebab banyak perban yang membalut di kakinya.
"Loh, loe udah dirumah gue Tan, sejak jam berapa? " tanya Syifa, heran melihat sahabatnya sudah berada dirumahnya.
"Sejak subuh, " jawab Tania asal.
Syifa memicingkan matanya, kemudian masuk ke dalam bersama.
Tania menuntun Syifa yang cara berjalannya belum stabil, atau belum benar-benar pulih.
Harus menggunakan alat bantu yaitu tongkat.
Brian bingung harus kemana, jadi Brian hanya ikut duduk bersama Tania dan Syifa.
Melihat Brian diam tak bicara, Syifa inisiatif untuk mengajaknya ke dalam kamar miliknya.
"Bri, aku antar kamu ke dalam kamar dulu ya, kasihan kamu belum tidur semalaman, jadi istirahatlah dikamar aku ya, " ajak Syifa, menarik tangan Brian didepan Tania.
"Haduh, kalian ini, gak tahu apa ada gue jomblo, lihat kondisi dong! " sungut Tania, kesal harus menonton adegan sok-sok an.
"Upss, sorry gue lupa hehe" ucap Syifa tanpa dosa.
Brian pun menuntun Syifa untuk naik tangga, menuju kamar pribadinya. Tiba di kamar, Brian dibuat mlongo karena kamar Syifa bagus dan luas, tidak dikamar dirinya, yang terbilang sangat jauh.
"Ini beneran kamar kamu Fa, " tanya Brian, tak percaya.
"Iya, ini kamar aku, apakah kamu tidak menyukai kamar ini? " tanya Syifa.
"Bu-bukan tidak suka, tapi ini aku kagum sekali, sangat rapi dan bersih" ucapnya gugup, dan mengagumi kamar Syifa.
"Biasa aja Bri, udah, cepat istirahat, aku mau kebawah dulu menemani Tania" ujarnya.
Brian pun menurut, dan langsung berbaring dikasur yang cukup lebar, tiga orang tidur juga muat, bahkan untuk tujuh orang juga muat, hem Brian lebih nyaman dikamar deh kayaknya.
"Ya ampun, gue minder nih jadi cowok, Syifa lebih tajir dari gue" Brian malu sendiri.
Brian pun langsung ganti baju, dan membuka lemari.
__ADS_1
"Ya ampun ini apa, " kaget Brian.