Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
15


__ADS_3

"Ish" sengit Brian melihat drama mereka.


Tania pun tersenyum puas, melihat Brian kesal.


"Hahahaha, bini loe terkenal juga ya, loe kalah Bri" bisik Tania.


Brian mendelik ke arah Tania yang masih tersenyum mengejek.


"Istri gue, cupu tapi suhunya melebihi kapasitas" batin Brian bicara sendiri.


"Syifa, bagaimana kabar mu? " tanya dokter.


"Alhamdulillah baik Kak, " jawab Syifa


"Kakak tuh kalau tidak salah Kak Daniel ya, yang kuliah kedokteran, pas ngajarin kita di SMP? " lanjutnya.


"Kamu masih ingat juga ya" Daniel menyentil hidungnya.


Brian jengah dan keluar dari dalam kamar Syifa.


Tania pun menyusul Brian keluar.


"Ehem, ada yang cembokur kayaknya nih" ledek Tania, tepat di muka Brian.


" Apaan sih loe, " elaknya.


Dari arah sana terlihat tiga sahabat Brian yang akan mendekati Brian dan Tania.


Tepat tiga sahabat Brian dihadapannya, Brian malah pergi dengan wajah yang masam.


"Dia kenapa, kita kesini kok malah dia ninggalin kita, kan bininya di dalam, suami tak bertanggung jawab sekali dia" sungut Jon.


Tania hanya tersenyum dari tadi, melihat Tania tersenyum seperti orang gila. Tiga sahabat Brian pun merasa ada yang aneh.


"Kenapa loe, seperti orang tak waras senyum gitu, sehat kan loe? " enak Vino, meletakan tangannya ke jidat Tania.


"Coba aja kalian lihat di dalam ada apa" tunjuk Tania.


Tiga sahabat Brian pun pada akhirnya menengok ke jendela kamar Syifa.


Dan ternyata Syifa sedang berduaan dengan seorang dokter.


" Loe kok diem aja ada temen beduaan dengan pria lain, pantesan Brian marah banget. " Tukas Vino.


"Lagian katanya tidak suka sama Syifa, tapi kenapa ada pria lain meski marah" ucap Tania.


" Suka tidak suka, seorang suami pasti akan marah lah kalau istrinya sama pria lain, " sahut Jon, yang juga kesal dengan jawaban Tania yang dianggap enteng soal rasa.


Tania pun cabut, tidak mau ada konflik, Tania tidak bisa melawan tiga cowok.


"Lah dia main kabur gitu Vin, " tunjuk Jon.


"Daripada kita jadi nyamuk mereka, mending kita susul yuk si Brian, pasti masih nunggu diparkiran," ajak Jon.


Bimbim dan Vino setuju, dan semuanya pun berjalan menuju ke parkiran.


Tiba di parkiran, Brian sudah tidak ada, Tania ada di tempat makan rumah sakit. Karena perutnya belum diisi.

__ADS_1


Vino datang mendekati Tania yang sedang melahap makanan.


"Elo tahu gak dimana Brian, " tanya Vino.


"Ya gue tidak tahu Vino, gue tidak nyariin dia, " ujarnya.


"Tinggal telpon aja sih, apa susahnya, dia kan bawa pinselnya" lanjut Tania.


" Justru itu, Brian susah di hubungi " timpal Jon.


Didalam kamar inap Syifa, masih ditemani dokter Daniel, mereka sangat akrab sekali.


"Oh, iya, saya mau keluar dulu ya, ada pasien lain yang harus saya urus, " pamit dokter Daniel.


"Iya tidak apa-apa dok, " ucap Syifa.


Brian sudah tiba di rumah dengan ojek online.


Brian mandi biar terlihat lebih segar dan fresh.


Brian sudah memberitahu pada Ibu dan Ayahnya.


Dan mereka pun akan menjenguk Syifa nanti pagi.


Sebab sekarang kan masih malam.


"Bu, Brian mau kembali ke rumah sakit lagi ya, kasiahan dia, tidak ada siapapun yang datang" ujar Brian.


" Hati-hati ya Nak" balas Jessica.


Brian pun mengendarai mobil sportnya, karena ingin menjemput dan menginap di rumah sakit untuk menemani Syifa.


Mau tidak mau harus menerima keadaan.


Sambil menunggu Brian kembali, Tania dan Vino masih setia menemani Syifa, disaat Jon dan Bimbim sudah pulang.


Tania dan Vino menunggu Syifa didalam, mereka bertiga saling canda gurau.


Ceklek...


Suara pintu kamar inap terbuka.


Dan ternyata Brian yang membukanya.


" Loh kalian berdua masih disini, gue kira kalian sudah pulang. " Brian kaget melihat dua temannya yang masih menunggu dirinya datang.


" Sekarang gue udah ada di sini, kalian boleh istirahat di rumah kalian. Biar gue yang jagain istri gue di sini, " lanjutnya.


"Baiklah, kita pulang duluan ya Bri, loe jaga yang benar ya, jangan terjadi hal yang tidak-tidak, " Tania memberi peringatan pada Brian.


" Hem" sahut Brian.


Brian pun langsung duduk disofa.


Tak ada obrolan, karena masih canggung.


"Dokter kesayangan kenapa tidak menemani elo, kalian sudah seperti pasangan yang sangat serasi" sindir Brian.

__ADS_1


Syifa tak menyautinya, hanya fokus pada ponselnya.


Lama-lama Brian merasa dicuekin, dan jadi jengah melihat Syifa yang dari tadi cuek,


tak mau mengucapkan kata, padahal Brian sudah bicara panjang lebar.


"Loe bisu ya, tak menyautinya " kesal Brian pada Syifa.


"Gak kok, gue cuma capek aja, mau tidur" entengnya tak mengerti perasaan Brian.


Brian pun kesal dan langsung tidur diatas sofa.


Pukul dua dini Syifa terbangun, dan berjalan mendekati Brian.


Memberikan selimutnya untuk Brian.


Meskipun dalam keadaan sakit tapi Syifa tak lupa untuk beribadah malam, yaitu shalat Tahajud.


Sebenarnya Brian juga merasakan ada sesuatu yang menyentuh dirinya, namun Brian lebih tidak bangun dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Syifa.


Namun hal yang tak terduga Brian melihat Syifa menyelimuti dirinya dan shalat Tahajud di malam hari.


Tak menyangka Syifa akan melakukan itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan? " tanya Brian, dengan ucapan kamu bukan loe.


Setidaknya Brian paham dalam situasi yang sedang religius.


" Kau sendiri sedang apa, malam begini terbangun? Mau ikut shalat juga dengan ku? " tanya Syifa balik.


"Ah, sudahlah daripada berdebat mending tidur lagi aja, oh iya, thanks ya selimutnya," ucap Brian. Kemudian Brian kembali menutup mata alias tidur lagi.


Pukul tiga pagi Syifa sudah menyelesaikan ibadah malamnya, dan kini ia pun kembali tertidur lagi, sebab ingin sekali rasanya besok sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Syifa, bangun Fa, Syifa? " Brian menepuk-nepuk pipi Syifa pelan, agar segera bangun.


" Emmmm" Syifa menggeliat.


"Ada apa pagi begini membangunkan ku? " tanya Syifa, masih mengantuk.


"Mau beli sarapan atau mau makanan rumah sakit, hem? " tanya Brian penuh arti.


Syifa kaget dengan ekspresi wajahnya yang agak sedikit kalem.


Syifa jadi salah tingkah melihat Brian seperti itu.


"Emang boleh aku minta tolong sama kamu, untuk dibeliin sarapan pagi diluar? " tanya Syifa, memastikan.


"Boleh, kan tadi aku nawarin kamu, pikun? Baru juga ngomg kan tadi" ujarnya.


Syifa pun malu sendiri.


"Ya sudah, aku minta bubur ayam aja ya, jangan dikasih daun bawang, yang pedes ya Bri, " pinta Syifa.


" Jangan pedes dong, nanti mules, gak mau tanggungjawab, " tolak Brian.


"Tapi aku suka pedes Brian" rengek Syifa memohon.

__ADS_1


"Gak ah, gak mau beliin kalau kamu mau makanan pedes, lebih baik kamu makan makanan rumah sakit saja" Brian perhatian.


"Tapi.... "


__ADS_2