
Bimbim tak mau banyak bicara, Bimbim permisi pamit.
"Ya sudah Bi, saya pamit pulang dulu ya, mari Mbak Yuni," pamitnya.
Bimbim melajukan motor sportnya, dalam keadaan perasaan yang sangat menyesal.
Dan melanjutkan perjalanannya ke arah kampus.
Tiba disana, Bimbim tidak langsung ke kelas, melainkan ke kantor.
Dan ketemu dengan Fatih serta Alisa.
"Assalamu'alaikum, Pak Fatih, bisakah kita bicara sebentar? " pinta Bimbim memohon.
"Walaikumsalam, iya, boleh" Fatih mengiyakan.
Bimbim pun menceritakan tentang Laras, dan Fatih hanya bisa menganggukan kepalanya.
"Jadi maksud Pak Fatih, Laras putus sekolah dan tidak melanjutkan ke Universitas lainnya? " tanya Bimbim masih ragu.
Masa iya Laras putus sekolah.
"Baiklah Pak, terimakasih, saya permisi dulu" pamit Bimbim pada Pak Fatih.
Bimbim menyugarkan rambutnya kebelakang.
Ada sedikit penyesalan dan kekecewaan, juga kesedihan yang ia rasakan.
"Tunggu dulu, dalam diary Laras, dia bertemu dengan Brian, padahal disaat itu adalah satu hari setelah pemakaman Brian, maksudnya apa sih, apa jangan-jangan. " Bimbim berfikir.
Tiga tahun kemudian.
"Mah, Syifa mau melamar kerja di tempat lain saja ya, bosen di Perusahaan Papa, dispesialin terus tidak ada tantangan gitu, " bujuk Syifa pada Mamanya.
Rani mengerutkan keningnya tak mengerti dengan jalan pikiran anaknya.
Sebab biasanya orang tuh senang, dispesialin dan dihormati. Syifa malah pengen dikasih tantangan.
"Sayang, kamu ini ada-ada saja, enak juga di tempat Papa kamu" tolak Rani.
"Mah, plis," Syifa langsung pergi dan akan memulai mencari pengalaman bekerja di perusahaan lain.
Tiba di Perusahaan JJ, Syifa tahu itu adalah perusahaan papanya Brian.
Maka dari itu Syifa ingin bekerja di perusahaan papanya Brian.
Brian yang berpura-pura menjadi OB, melihat Syifa yang maju mundur untuk masuk ke perusahaan papanya.
"Syifa, " lirih Brian.
__ADS_1
Kemudian Brian penasaran dan langsung menghampiri Syifa.
"Maaf Mbak, ada yang bisa saya bantu? " ucap Brian, berpura-pura.
"Saya mau melamar pekerjaan, Mas, apakah ada lowongan pekerjaan ya disini" tanya Syifa pada OB, yang sebenarnya adalah suaminya.
"Oh, ada Mbak, silahkan masuk saja, saya antar ke Presdir sekarang yuk mari Mbak, " antusias Brian mengajaknya untuk bertemu sang papa.
Tiba di depan Presdir atau papanya Brian, Justin memicingkan matanya ke Brian.
Brian hanya tersenyum senang.
"Saya diterima Pak, eh Om eh apa sih manggilnya" Syifa menjadi salah tingkah.
Dua bulan Syifa sudah bekerja di perusahaan JJ, dan dekat dengan Brian, dengan nama samaran Joni.
"Joni, terimakasih ya, udah bantuin aku" ucapnya, saat makan di kantin bersama.
"Iya Mbak, sama-sama, saya juga senang bisa membantu Mbak" balasnya.
"Mbak mau pulang kah? Mau saya antar Mbak? " Brian menawarkan diri.
Syifa pun mengiyakan, dan Syifa diantar sampai depan rumah.
"Apa benar ini rumah Mbaknya, " tanya Brian, pura-pura tidak tahu.
Syifa heran, ada banyak orang di dalamnya.
"Mah, ada apa ini? " tanya Syifa, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Oh, kenalin sayang, ini Kevin anak teman Mama sayang, ganteng kan? " Rani memuji Kevin, di depan Brian.
"Mah, Syifa sudah ada calon, ini Joni calon Syifa Mah, kita sudah berpacaran lama loh, " tiba-tiba Syifa memperkenalkan Brian yang dengan nama samaran Joni.
Brian tersenyum di balik maskernya.
"Syifa, sayangku, aku rasanya ingin menggendong kamu, " batin Brian.
Kevin pun pergi, karena masih menghargai keputusan Syifa.
"Sayang, kamu apa-apaan sih, mereka jadi pergi kan" Rani sedikit kecewa.
Rani pergi meninggalkan Brian dan Syifa.
"Maaf ya, aku berbohong, karena aku tidak mau dijodohkan, " terangnya.
"Kenapa, padahal tadi perfect banget Mbak, " ujarnya.
"Lebih ganteng mendiang suami aku Joni, " jujur Syifa.
__ADS_1
"Mbak..... " Brian tak melanjutkan ucapannya.
"Iya, aku janda Joni, aku masih belum move on dari mendiang suami aku, hik hik hik. " Tangis Syifa pecah, sambil terisak-isak.
Brian langsung memeluk Syifa, tapi entah kenapa Syifa merasakan kenyamanan, didalam pelukan Brian yang dengan nama samaran Joni.
"Maaf Mbak, " Brian lupa, keenakan pelukan sih jadi lupa.
Syifa pun berjalan ke atas untuk ke kamarnya, sedangkan Brian mengikutinya.
"Kamu, kenapa mengikutiku Joni? " tanya Syifa heran.
Brian tidak menjawab malahan berjalan mendahului Syifa, Syifa malah terbengong.
"Dia berani banget main nyelonong masuk kamar orang, gak sopan ih" batin Syifa menggerutu.
Tiba di pintu dan Syifa masuk, begitu juga dengan Brian yang langsung mengunci pintu kamarnya.
"Kamu? Mau apa dan kamu siapa! Kalau kamu macam-macam aku akan berteriak, " seru Syifa.
Brian langsung menarik tangan Syifa dan menciuminya.
Syifa mendorong dadanya, sebab dianggap tidak sopan.
Brian membuka maskernya dan kacamatanya.
Syifa melebarkan matanya, dan langsung memeluk Brian.
"Brian ya ampun, aku kangen banget sama kamu," ucap Syifa.
"Maaf, aku melakukan ini, untuk mengetahui seberapa besar ku mencintaiku, " tuturnya.
Keesokannya, Rani dan Nurul diberitahu, kini mereka merestui hubungan mereka dan mengadakan resepsi. Mereka bahagia meskipun resepsi sederhana namun bermakna bagi mereka.
Bimbim tidak bisa hadir, karena ia sedang mencari Laras.
Dan pada akhirnya ia bisa bertemu dengan Laras, dan tanpa bada basi Bimbim melamar Laras.
Beberapa minggu kemudian Bimbim dan Laras resmi menikah di rumah Bimbim.
Semua orang yang ua undang hanya kerabat dekat saja, tidak terlalu meriah, sebab Laras tidak menyukainya.
"Terimakasih ya, kamu mau mencari aku dan sekarang aku menjadi istri kamu" Laras malu -malu.
Bimbim dan Laras pun bahagia, begitu juga dengan Syifa dan Brian.
Terima kasih udah mau mampir, maaf yaa aku tamatin, sebab aku mau ada acara hajatan anak laki-laki kecilku dulu.
Mohon maaf bila ada kesalahan dan ambil yang positif nya, buang yang negatifnya.
__ADS_1
See you next time.